SEKIRANYA ULAMA AHLUSSUNNAH ITU ADA DI ZAMAN SEKARANG INI, AKAN DITUDUH WAHABI

SEKIRANYA ULAMA AHLUSSUNNAH ITU ADA DI ZAMAN SEKARANG INI, AKAN DITUDUH WAHABI

Ada dua hal yang sering di goreng oleh ahlul bid'ah. Pertama, bahwa yang membid'ahkan perayaan maulid Nabi itu wahabi. Padahal yang menyatakan perayaan maulid itu bid’ah adalah para ulama ahlussunnah. Salafi (yang mereka gelari wahabi) itu hanya mengikuti pendapat para ulama tersebut. 

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolaaniy rahimahullah (wafat thn 852 H),

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة...

Asal perbuatan (memperingati) Maulid (Nabi) adalah BID’AH yang tidak pernah ternukil dari Salafus Sholih seorangpun dari tiga kurun generasi (awal)…(al-Haawiy lil Fataawa lis-suyuuthiy (1/282)).

Berkata Al-Imam as-Sakhowiy rahimahullah (wafat thn 831 H),

أصل عمل المولد الشريف لم ينقل عن أحد من السلف الصالح في القرون الثلاثة الفاضلة، وإنما حدث بعدها بالمقاصد الحسنة...

Asal perbuatan (memperingati) Maulid yang mulia tidaklah ternukil dari Salafus Sholih seorangpun pada tiga kurun generasi yang utama. (Peringatan Maulid itu) hanyalah dilaksanakan setelah (tiga kurun itu) dengan tujuan yang baik … (al-Maulidur Rowiy fil Maulidin Nabawiy karya Mula Ali Qoriy halaman 12).

Berkata Al-'Allaamah as-Syaukaani rahimahullahu ta'ala (wafat thn 1250 H),

المولد لم أجد إلى الآن دليلاً يدل على ثبوته من كتاب، ولا سنة، ولا إجماع، ولا قياس، ولا استدلال، بل أجمع المسلمون أنه لم يوجد في عصر خير القرون، ولا الذين يلونهم، ولا الذين يلونهم .

Maulid itu hingga sekarang tidak saya temukan dalil yang menunjukkan akan tetapnya dari kitab, tidak pula dari sunnah, tidak pula ijma', tidak pula qiyaas, tidak pula istidlaal, bahkan kaum muslimin berijma' bahwasanya maulid tidak ditemukan dizaman sebaik-baik qurun, tidak pula dimasa orang-orang setelah mereka, dan tidak pula dimasa orang-orang setelah mereka. (al-Fathur Rabbaani 2/10).

Kedua,  tentang tabarruk ke kuburan. Dengan mengusap-usap atau mencium kuburan untuk mencari keberkahan. Yang memperingatkan bahayanya bertabarruk ke kuburan, karena bisa mengantarkan kepada kesyirikan adalah para ulama ahlussunnah.

Disebutkan dalam Al Majmu ala Syarh al-Muhadzab,

قال أبو الحسن واستلام القبور وتقبيلها الذى يفعله العوام الآن من المبتدعات المنكرة شرعا ينبغي تجنب فعله وينهي فاعله

“Imam Abu al-Hasan berkata “mengusap dan mencium kuburan seperti yang dilakukan oleh orang awam saat ini adalah tergolong bid’ah munkarah secara syara’, hendaknya untuk dihindari dan dicegah orang yang melakukan hal ini.” (Syekh Abu Zakaria Yahya an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab).

Masih di Al Majmu disebutkan, 

لا يجوز أن يطاف بقبره صلى الله عليه وسلم، ويكره إلصاق الظهر والبطن بجدار القبر، قاله أبوعبيد الله الحليمي وغيره. قالوا: ويكره مسحه باليد وتقبيله، بل الأدب أن يبعد منه كما يبعد منه لو حضره في حياته صلى الله عليه وسلم. هذا هو الصواب الذي قاله العلماء وأطبقوا عليه، ولا يغتر بمخالفة كثيرين من العوام وفعلهم ذلك، فإن الاقتداء والعمل إنما يكون بالأحاديث الصحيحة وأقوال العلماء، ولا يلتفت إلى محدثات العوام وغيرهم وجهالاتهم… ومن خطر بباله أن المسح باليد ونحوه أبلغ في البركة، فهو من جهالته وغفلته، لأن البركة إنما هي فيما وافق الشرع، وكيف يبتغى الفضل في مخالفة الصواب؟!

"Tidak diperbolehkan melakukan thawaf di kuburan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan dibenci menyentuhkan punggung dan perut ke dinding mkam beliau, hal ini telah dikatakan oleh Abu Ubaidillah Al-Halimi dan Ulama yang lainnya". Mereka juga mengatakan: "Dibenci pula mengusap kuburan itu dengan tangan dan menciumnya. Bahkan yang sesuai dengan adab adalah dengan menjauh dari kuburan beliau, sebagaimana hendaknya ia menjauhkan badannya bila ia mendatangi beliau saat masih hidup. Inilah sikap yang benar yang telah dinyatakan para Ulama dan bahkan mereka telah sepakat dalam hal ini. 

Dan jangan sampai tertipu dengan banyaknya orang awam yang menyelisihinya dan tergiur oleh tingkah pola mereka, karena mengikuti dan mengamalkan sesuatu itu hanyalah dengan landasan hadits-hadits shahih serta perkataan para Ulama dan jangan tergoda oleh berbagai bentuk kejahilan dan bid'ah yang di ada-adakan oleh mereka yang awam.

Barangsiapa terlintas di benaknya, bahwa mengusap dengan tangan dan tindakan yang semisalnya akan lebih mendatangkan keberkahan, maka itu adalah kejahilan dan kelalainnya, karena keberkahan itu untuk hal yang mencocoki syariat . Lantas, bagaimana mungkin suatu keutamaan dicari dari hal yang justru menyelisihi kebenaran". (Al-Majmu Imam Nawawi).

Imam Abul Hasan Muhammad Marzuq Al-Zafaroni rahimahullah berkata:

واستلام القبور وتقبيلها الذي يفعله العوام الآن من المبتدعات المنكرة شرعا، ينبغي تجنب فعله وينهى فاعله

"Mengusap-usap dan mencium kuburan, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang awam zaman sekarang termasuk bid'ah yang munkar dari sisi syariat yang hendaknya dijauhi perbuatannya dan dilarang pelakunya". (Al-Majmu Imam Nawawi).

Berkata Imam An-Nawawiy rahimahullah,

يكره مسحه باليد وتقبيله، بل الأدب أن يبعد منه كما يبعد منه لو حضر في حياته صلى الله عليه وسلم، هذا هو الصواب، وهو الذي قاله العلماء وأطبقوا عليه، وينبغي أن لا يغتر بكثير من العوام في مخالفتهم ذلك، فإن الاقتداء والعمل إنما يكون بأقوال العلماء، ولا يلتفت إلى محدثات العوام وجهالاتهم، ولقد أحسن السيد الجليل أبو علي الفضيل بن عياض رحمه الله تعالى في قوله ما معناه: اتبع طرق الهدى، ولا يضرك قلة السالكين، وإياك وطريق الضلالة ولا تغتر بكثرة الهالكين. ومن خطر بباله أن المسح باليد ونحوه أبلغ في البركة فهو من جهالته وغفلته، لأن البركة إنما هي في ما وافق الشرع، وأقوال العلماء، وكيف يبتغى الفضل في مخالفة الصواب؟

“Dimakruhkan mengusap dengan tangan dan menciumnya. Namun, adab yang benar adalah menjauhi perbuatan itu, sebagaimana ia menjauhinya (mengusap-usap dan mencium) seandainya ia hadir di masa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Itulah yang benar. Dan itulah yang dikatakan dan diterapkan para ulama dalam permasalahan tersebut. Sudah sepatutnya agar tidak terpedaya oleh perbuatan orang-orang awam dan penyelisihan mereka  terhadapnya. Karena masalah mengikuti dan beramal hanyalah berdasarkan penjelasan para ulama. Tidak boleh berpaling pada perkara yang diada-adakan orang-orang awam dan kebodohan mereka. Sungguh indah apa yang dikatakan oleh As-Sayyid Al-Jaliil Abu ‘Aliy Fudlail bin ‘Iyaadl rahimahullah ta’ala yang maknanya : ‘Ikutilah jalan-jalan petunjuk, dan tidaklah memudlaratkanmu sedikitnya orang yang menempuhnya. Jauhilah jalan kesesatan dan jangan engkau terpedaya dengan banyaknya orang yang binasa’. Barangsiapa yang terlintas dalam hatinya bahwa mengusap dengan tangan atau semisalnya bisa mendapatkan barakah, maka itu termasuk kebodohan dan kelalaiannya. Hal itu dikarenakan barakah hanyalah ada pada hal-hal yang berkesesuaian dengan syari’at dan perkataan para ulama. Lantas bagaimana satu keutamaan diharapkan dengan cara yang menyelisihi kebenaran ?” [Al-Iidlaah wal-Manaasik oleh An-Nawawiy].

Berkata Ibnu Qudaamah rahimahullah :

فصل : ولا يستحب التسمح بحائط قبر النبي صلى الله عليه و سلم ولا تقبيله قال أحمد : ما أعرف هذا قال الأثرم : رأيت أهل العلم من أهل المدينة لا يمسون قبر النبي صلى الله عليه و سلم يقومون من ناحية فيسلمون قال أبو عبد الله : هكذا كان ابن عمر يفعل

“Pasal : Tidak disukai mengusap tembok kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula menciumnya. Ahmad berkata : ‘Aku tidak mengetahuinya’. Al-Atsram berkata : ‘Aku melihat ulama dari kalangan penduduk Madiinah tidak mengusap kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka berdiri dari sisi mengucapkan salam. Abu ‘Abdillah berkata : ‘Begitulah yang dilakukan Ibnu ‘Umar” [Al-Mughniy, 3/556].

Dalam kitab Kasyf al-Qina' 'an Matn al-Iqna’ salah satu kitab rujukan madzhab hambali disebutkan :

اتَّفَقَ السَّلَفُ وَالْأَئِمَّةُ عَلَى أَنَّ مَنْ سَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ الصَّالِحِينَ فَإِنَّهُ لَا يَتَمَسَّحُ بِالْقَبْرِ وَلَا يُقَبِّلُهُ

“Salaf dan para imam telah bersepakat bahwasannya siapa saja yang mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam atau selainnya dari kalangan para nabi yang shalih, maka ia tidak mengusap kubur dan menciumnya.

Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani Al Hambali rahimahullah berkata:

وإذا زار قبرًا لا يضع يده عليه، ولا يقبله؛ فإنها عادة اليهود.

Jika menziarahi kubur, jangan meletakkan tangan di atasnya dan jangan menciumnya; karena itu kebiasaan Yahudi. (Al-Ghaniyah 1/91)

Di dalam kitab Al-Ikhnā'iyyah Ibnu Taimiyah Al Hambali disebutkan, 

"عبد الله بن أحمد، قال: حدثني أبي، قال سمعت أبا زيد حماد بن دليل، قال لسفيان -يعني ابن عيينة- قال: كان أحد يتمسح بالقبر؟ قال: لا، ولا يلتزم القبر، ولكن يدنو"
 
Ayahku menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu Zaid Hammad bin Dalil berkata kepada Sufyan bin ‘Uyainah:
“Apakah ada orang yang mengusap kubur?”
Ia menjawab: “Tidak, dan tidak pula menempel pada kubur, akan tetapi dia berdoa (kepada Allah).

Berkata Al Atsram rahimahullah, 

"قلت لأبي عبد الله: قبر النبي صلى الله عليه وسلم يُمسّ، ويُتمسح به؟ فقال : ما أعرف هذا. قلت له: فالمنبر؟ قال: أما المنبر، فنعم، قد جاء فيه. قيل لأبي عبد الله: إنهم يلصقون بطونهم بجدار القبر. وقيل له: رأيتَ من أهل العلم من أهل المدينة لا يمسون ويقومون ناحية، فيسلمون؟ قال أبو عبد الله ـ رحمه الله ـ: نعم، وهكذا كان ابن عمر يفعل

Aku berkata kepada Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad): Apakah kubur Nabi shallallaahu alaihi wasallam boleh disentuh dan diusap?
Beliau menjawab: “Aku tidak mengenal ini."
Aku berkata: “Kalau mimbar? Beliau menjawab: “Adapun mimbar, iya, ada riwayat tentangnya.” Dikatakan kepada beliau: "Mereka menempelkan perut mereka ke dinding kubur.” Dan dikatakan pula: "Aku melihat sebagian ulama Madinah tidak menyentuh, mereka berdiri di samping lalu memberi salam.” Beliau berkata: "Ya, dan demikianlah Ibnu Umar melakukannya.” (Ar-Riwayatain wal-Wajhain).

Sekiranya para ulama itu ada di zaman sekarang ini, mungkin akan dikatakan wahabi oleh ahlul bid'ah dan kelompok-kelompok menyimpang, karena mengatakan perayaan maulid itu bid’ah dan tabarruk ke kuburan itu bisa mengantarkan kepada kesyirikan. 

AFM

Copas dari berbagai sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SOLUSI MENCEGAH BENCANA

Kehidupan Yang Baik

TIDAK MENGAKUI KESALAHAN