TIDAK MENGAKUI KESALAHAN
TIDAK MENGAKUI KESALAHAN
Seseorang telah melakukan kesalahan, contohnya dengan menyebarkan berita atau kabar yang tidak benar atau belum tentu benar. Karena kadung tersebar dan di share banyak orang, bukannya minta maaf dan klasifikasi, justru tetap menyalahkan orang yang disebarkan beritanya.
Padahal kalau dia mengakui kesalahannya dan meminta maaf, dosa kezalimannya tidak akan dituntut di akhirat dan tidak akan menjadi orang yang bangkrut di hari perhisaban.
Memang, mengakui kesalahan membutuhkan orang-orang yang jujur dan bertawakkal, yaitu orang-orang yang mengharapkan pahala di sisi Allah.
Berkata Asy-Syaikh Dr. Muhammad Ghalib hafizhahullah:
الرجوع إلى الحق والاعتذار عن الخطأ يحتاج رجالا صادقين متوكلين، يرجون ما عند الله من الأجر، لا ما عند الخلق من حطام الدنيا أو الشهرة والمديح.
"Kembali kepada kebenaran dan mengakui kesalahan membutuhkan orang-orang yang jujur dan bertawakkal, yaitu orang-orang yang mengharapkan pahala di sisi Allah, bukan mengharapkan apa yang ada pada makhluk berupa rongsokan dunia atau ketenaran dan pujian." Sumber ||https://twitter.com/m_g_alomari/status/818188055899176961
Melakukan kesalahan, bukanlah aib. Maka janganlah malu untuk kembali. Yang aib itu ketika kebenaran nampak, tidak mau kembali kepadanya.
Berkata Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah :
ليس العيب أن يخطئ الشخص، ولكن العيب أن يظهر له الحق ثم لا يرجع إليه.
“Bukanlah aib, seseorang melakukan KESALAHAN. Tetapi aib itu adalah ketika kebenaran nampak baginya, namun kemudian dia tidak mau KEMBALI kepadanya.” [Kaset “Al-Asilah al-Imaratiyyah”].
Yang sungguh mengherankan, sudah jelas dia melakukan kesalahan, namun dia menyangka dirinya tidak pernah melakukan kesalahan. Kata ulama, ini orang yang dungu.
Berkata Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah berkata:
الذي يعجب بنفسه ويظن أنه لا يخطئ فهو مغفل، الخطأ يحدث من الكل.
“Orang yang merasa kagum terhadap dirinya sendiri (ujub) dan menyangka bahwa dia tidak pernah melakukan kesalahan, maka dia adalah orang yang dungu, kesalahan bisa muncul dari semua orang.” (As-Sima' al-Mubasyir, hlm. 50).
AFM
Komentar
Posting Komentar