Postingan

Tersebarnya Hoax Dan Pemimpin Buruk

TERSEBARNYA HOAX DAN PEMIMPIN YANG BURUK Diantara sebab terbesar hilangnya kenikmatan-kenikmatan, turunnya azab dan kesimpangsiuran berita dan informasi (banyaknya hoax), dan kesimpangsiuran berbagai urusan, yang membuat suasana hati terganggu, dan para penguasa yang buruk, adalah tersebarnya alat-alat musik  ditengah-tengah masyarakat dan mereka tersibukkan dengan alat musik tersebut. Berkata Syekh Bin Baaz rahimahullah : " فشو الغناء والملاهي في المجتمع من أعظم الأسباب لزوال النعم وحلول النقم وخراب الدولة وزوال الملك وكثرة الفوضى والتباس الأمور". Tersebar luasnya musik dan alat-alat musik di masyarakat diantara sebab terbesar hilangnya kenikmatan-kenikmatan, menghalalkan (mendatangkan) adzab, kerusakan negeri, hilangnya kekuasaan, banyaknya kekacauan, dan simpang-siurnya urusan. (Majmuu'ul Fataawa 4/1624). Dan beliau melanjutkan perkataannya : فالجد الجد والبدار البدار قبل أن يحل بنا من أمر الله ما لا طاقة لنا به. Maka bersungguh-sungguhlah dan bersegeralah (untuk berta...

Negeri Yang Aman Dan Sejahtera

NEGERI YANG AMAN DAN SEJAHTERA Jika suatu negeri ingin aman, damai dan sejahtera, maka hendaklah menegakkan hukum-hukum Allah. Seperti pencuri, dipotong tangannya, pezina dicambuk atau dirajam, pembunuh dihukum bunuh dan yang lainnya. Berkata Syekh Muqbil hafidzahullah : واجب على الحكومة اذا ارادوا الامن والاستقرار ان يقيموا الحدود. [ البشائر في السماع المباش (ص77) ] Wajib atas pemerintah, apabila mereka menginginkan keamanan dan kestabilan hendaklah mereka menegakkan al hudud (hukum-hukum Allah). Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=699754730950446&id=100027477755414 Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah ditanya, ما هى الآثار المترتبة على تطبيق الحدود والتعزيرات الشرعية على الأفراد والمجتمعات؟ “Apa pengaruh akibat dari penerapan alhudud dan atta'ziiraat yang syar'iyyah atas individu masyarakat ? Beliau menjawab : تطبيق الحدود فيها حماية؛ حمايةٌ للنفس، وحماية للعِرض، وحماية للمال، وحماية للأمن، أمن الجميع. وفيها حماية للمسلمين والضرورات الخمس التي...

Membuang Makanan

MEMBUANG MAKANAN Membuang sisa makanan atau minuman ketempat kotor, tempat najis, atau ke jalan, ini perkara yang dilarang. Dalam Fatawa Lajnah Daimah 22/341 disebutkan : "يجب حفظ الطعام الباقي للمرة الثانية ، أو إطعامه المحتاجين ،فإن لم يوجدوا فالحيوانات ،ولو بعد تجفيفه لمن يتيسر له ذلك" انتهى . Wajib menjaga sisa makanan untuk kedua kalinya atau memberikan makan kepada orang-orang yang membutuhkan, maka jika mereka tidak mendapatkan, berikan kepada hewan dan walaupun sudah kering, diberikan kepada siapa saja yang dimudahkan untuk memberikan kepadanya. Berkata Syekh Ibnu Baaz rahimahullah : "أما الخبز واللحوم وأنواع الأطعمة فلا يجوز طرحها في البيارات ، بل يجب دفعها إلى من يحتاج إليها ، أو وضعها في مكان بارز لا يمتهن ، رجاء أن يأخذها من يحتاجها إلى دوابه أو يأكلها بعض الدواب والطيور . ولا يجوز وضعها في القمامة ولا في المواضع القذرة ولا في الطريق ؛ لما في ذلك من الامتهان لها ، ولما في وضعها في الطريق من الامتهان وإيذاء من يسلك الطريق" . انتهى "فتاوى إسلام...

Berubah Warna

BERUBAH WARNA Ada sebagian orang, dulu mengatakan bahwa itu suatu kemungkaran, namun kini mereka mengatakan suatu kebaikan. Atau sebaliknya, dulu mengatakan ini kebaikan, sekarang mengatakan kemungkaran.  Ini merupakan sikap kesesatan yang betul-betul sesat. Karena agama ini satu, tidak berubah-rubah warna. Kalau dalil alquran dan assunnah serta fatwa ulama salaf bahwa itu suatu kemungkaran, tetap tidak akan berubah menjadi kebaikan. Begitu pula sebaliknya. Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu berkata,  « فَاعْلَمْ أَنَّ الضَّلاَلَةَ حَقَّ الضَّلاَلَةِ أَنْ تَعْرِفَ مَا كُنْتَ تُنْكِرُ وَأَنْ تُنْكِرَ مَا كُنْتَ تَعْرِفُ وَإِيَّاكَ وَالتَّلَوُّنِ فَإِنَّ دِينَ اللَّهِ وَاحِدٌ »  “Ketahuilah, bahwa kesesatan yang sebenar-benar kesesatan adalah kamu menganggap ma’ruf sesuatu yang sebelumnya kamu anggap munkar, dan kamu menganggap munkar sesuatu yang sebelumnya kamu anggap ma’ruf. Hati-hatilah kamu dari sikap talawwun (berubah-rubah warna), karena agama itu satu." (al-Ibanah al-Kubr...

Mencatat Di Dinding

MENCATAT DI DINDING Senjata seorang thalabul ilmu adalah buku dan pena. Belajar itu bukan modal dengar saja. Karena biasanya, apa yang didengar sekarang, sebentar akan terlupa. Jika ada catatan, bisa kembali dilihat bila catatannya. Seorang salaf menasehati, seandainya tidak ada buku catatan, catatlah walaupun di dinding. Ini saking pentingnya mencatat ilmu. Bukan dalam artian harus mencoret-coret dinding masjid atau madrasah. Berkata Abu Kiiraan rahimahullah: سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ، قَالَ: " إِذَا سَمِعْتَ شَيْئًا فَاكْتُبْهُ وَلَوْ فِي الْحَائِطِ. موسوعة أقوال الإمام أحمد بن حنبل في رجال الحديث وعلله Aku mendengar Asy-Sya’biy rahimahullah berkata : “Apabila engkau mendengar sesuatu (ilmu), maka catatlah meskipun pada dinding”  (Mausu'ah Aqwalil Imam Ahmad Bin Hanbal Fi Rujak Hadits). Sumber : http://shamela.ws/browse.php/book-12765/page-1718 AFM Bahasan lengkapnya silahkan buka link ini : https://m.facebook.com/story/graphql_permalink/?graphql_id=UzpfSTEwMDAwOTg3ODI4M...

Menonton Bola

MENONTON BOLA Kalau orang awam menonton bola sampai tengah malam atau sampai subuh itu hal yang biasa. Tetapi para thulabul ilmi, para ikhwah, orang yang sudah mengaji atau mungkin ustadz, masih suka nongkrongin televisi atau youtube untuk nonton bola, ini perkara yang mengherankan dan menakjubkan, perlu ditanyakan kemana ilmu yang pernah dipelajari tentang bahayanya menyia-nyiakan waktu. Syekh Utsaimin rahimahullah ditanya : ما حكم رؤية مباراة كرة القدم التي تعرض في التلفاز؟ Apa hukum menonton sepak bola yang ditayangkan di televisi? Beliau rahimahullah menjawab : "الذي أرى أن مشاهدة الألعاب التي تعرض في التلفاز أو في غيره من المشاهدات ، أنها مضيعة للوقت ، وأن الإنسان العاقل الحازم لا يضيع وقته بمثل هذه الأمور التي لا تعود عليه بفائدة إطلاقا . Saya memandang bahwa menyaksikan permainan-permainan yang ditayangkan di televisi atau yang lainnya dari berbagai tayangan adalah menyia-nyiakan waktu. Dan sesungguhnya seorang manusia yang berakal, dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya de...

Mencela Akan Dicela

 MENCELA AKAN DICELA Siapa yang mengejek, mencela atau mentertawakan orang lain, maka kelak akan diejek, dicela atau ditertawakan. Ada perkataan yang sangat masyhur, yang menjadi kaidah dalam kehidupan. الجزاء من جنس العمل “Balasan sesuai dengan jenis perbuatan” Berkata Abu Darda radhiyallahu anhu : البر لا يبلىٰ ، والإثم لا ينسىٰ ، والديان لا ينام ، فكن كما شئت ، كما تدين تدان . (الزهد للإمام أحمد     (١١٧/١)). Kebaikan itu tidak akan usang, dosa itu tidak akan terlupakan dan Ad Dayyan (Allah Ta'ala) itu tidak tidur. Maka lakukanlah sekehendakmu, sebagaimana engkau perbuat, maka seperti itulah (kelak) engkau akan dibalas! (Az Zuhud lil Imam Ahmad: 1/117). Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah : وَمَنْ عَامَلَ خَلْقَهُ بِصِفَةٍ عَامَلَهُ اللهُ تَعَالَى بِتِلْكَ الصفة بِعَيْنِهَا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ “Dan barang siapa yang memperlakukan makhlukNya dengan suatu sikap, Allah Ta'ala akan memperlakukan sikap tersebut dengan setimpal pula di dunia dan di akhirat” (Al-Waa...