Postingan

Pelaku Bid'ah Dan Maksiat

PELAKU BID'AH DAN MAKSIAT Ada seseorang melakukan berbagai macam maksiat, seakan tidak ada satu pun maksiat, dia pernah melakukannya. Namun peluang dia untuk bertaubat terbuka lebar. Karena pelaku maksiat, dia tahu bahwa yang dia lakukan adalah perbuatan yang tidak baik.  Sedangkan ada seseorang, melakukan berbagai macam amalan bid'ah dalam agama dan dia merasa bahwa amalan yang dia lakukan adalah suatu kebenaran, inilah yang membuat dia sulit untuk bertaubat.  Untuk itulah, pelaku maksiat, lebih baik daripada pelaku bid'ah. Ahlul bid'ah lebih buruk, lebih jelek dari pada ahlul maksiat.  Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : إن أهل البدع شر من أهل المعاصي الشهوانية بالسنة والإجماع.  Sesungguhnya AHLUL BID'AH lebih jelek daripada AHLU MAKSIAT SYAHWANIYYAH berdasarkan sunnah dan ijma'. (Majmu’ Fatawa 30/130).  Berkata Sufyan Ats Tsauri rahimahullah : إن البدعة أحب إلى إبليس من المعصية؛ لأن البدعة لا يُتاب منها والمعصية يُتاب منها  Sesungguhnya ...

Pembelaan Para Buzzer

 PEMBELAAN PARA BUZZER Para buzzer, mereka akan membela penguasa secara totalitas, baik ataupun buruk perilaku penguasa. Mereka akan berusaha menangkal habis-habisan, siapa saja yang bersebrangan dan menyerang penguasa. Mereka akan mentaati penguasa, sekalipun perkara maksiat.  Mereka melakukan itu semua bukan karena cinta kepada penguasa. Tetapi orientasinya karena dunia. Kalau pulus dan jabatan tidak ada lagi atau mungkin tidak dapat bagian, maka berakhir pula dalam membela penguasa. Berakhir pula mendengar dan taat kepada penguasa.  Tidak seperti halnya ahlussunnah, mereka mencintai penguasa karena Allah, bukan untuk keuntungan dunia. Makanya ahlussunnah akan menolong dan membela penguasa kalau mereka di atas kebenaran. Kalau penguasa mereka zalim atau fasik, mereka doakan kebaikan, mereka nasehati dengan baik dan mereka bersabar dengannya.  Asy-Syaikh Hamid Khamis al-Junaiby hafizhahullah berkata: ‏من علامات أعظم علامات أهل_السنة: محبتهم لولاة أمرهم لله عز وجل، و...

Tidak Akan Kecewa

TIDAK AKAN KECEWA Bagi seseorang yang memiliki ilmu, mendakwahi manusia adalah suatu kewajiban. Dan hendaklah di dalam berdakwah didasari niat untuk memperbaiki manusia dan demi kebaikan mereka. Bukan agar mereka nantinya mengangkatnya menjadi pemimpin, bukan untuk menguras dan mengumpulkan harta mereka, bukan untuk merekrut mereka menjadi pengikut atau followernya dan perkara-perkara dunia lainya.  Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah berkata: ‏وعليهم (يعني الدعاة إلى الله) أن يُشعِرُوا الناس أنهم يَدعُونهم من أجل مصلحتهم، لا من أجل أن يكونوا رؤساء عليهم، ولا من أجل أن يأخذوا أموالهم، ولا من أجل أن يكثر أتباعُهم، ولكن من أجل أداءِ واجبٍ أوجبه الله عليهم وعلى طلبة العلم. "Dan (wajib) atas mereka (yakni para dai ilallah) untuk menasehati manusia, sesungguhnya (para dai) mendakwahi mereka dalam rangka untuk kebaikan mereka, bukan agar mereka menjadi pemimpin manusia, bukan untuk menguras harta manusia dan bukan agar pengikut mereka bertambah banyak, tetapi semata-mata untuk menun...

Dunia Datang, Mereka Lari Darinya

DUNIA DATANG, MEREKA LARI DARINYA  Banyak para sahabat yang kaya raya, sebut saja seperti Abu Bakar Ash Shidiq, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Abdurrahman Bin Auf dan yang lainnya radhiyallahu anhum, namun mereka adalah orang-orang yang zuhud. Mereka tidak meletakkan hartanya di hati. Mereka meletakkan di tangannya (silahkan baca di sini https://m.facebook.com/abufadhelmajalengkai/photos/a.904451986557975/912385935764580/?type=3).  Banyak orang berkata kepada Malik Bin Dinar rahimahullah , bahwa beliau orang yang zuhud, beliau pun berkata, "Orang yang zuhud itu khalifah Umar Bin Abdul Azis rahimahullah, harta perbendaharaan dunia datang kepadanya, namun beliau meninggalkannya.  Berkata Malik Bin Dinar rahimahullah : الناس يقولون عنّي زاهد، إنما الزاهد عمر بن عبد العزيز الذي أتته الدنيا فتركها [سير أعلام النبلاء : 5/ 134] "Manusia mengatakan tentangku bahwa aku zuhud. Padahal orang yang zuhud itu adalah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah. Dunia datang tunduk kepada nya ...

Disaat Kesusahan

DI SAAT KESUSAHAN Ketika seseorang mengalami kesulitan dan kesusahan, tidak sedikit teman yang dulunya akrab, dekat dan bersahabat, lambat laun menjauh dan meninggalkannya. Tidak sebagaimana ketika hidup masih bergelimang kesenangan, berlimpah kekayaan dan bertumpuk harta benda, semua mendekat, merapat dan mengambil manfaat.  Disini seseorang bisa menilai, siapa teman (saudara) yang sejati atau siapa teman (saudara) yang sesungguhnya, yakni teman yang tidak menelantarkannya ketika datang kesusahan dan kesulitan, justru dia akan membantu sebisa mungkin.  Berkata Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah : والإخوان يُعرفون عند الحوائج؛ لأن كل الناس في الرخاء أصدقاء، وشرُّ الإخوان الخاذل لإخوانه عند الشدة والحاجة. اهـ "Dan Saudara (yang sejati) itu, mereka diketahui di saat membutuhkan, karena sesungguhnya semua orang berteman hanya ketika dalam keadaan senang. Dan seburuk-buruk saudara adalah yang menelantarkan saudaranya ketika susah dan membutuhkan." (Raudhatul Uqala', hlm. 221). ...

Meminjam Barang

MEMINJAM BARANG Ada seorang salaf, meminjam sebuah pena kepada seseorang, namun dia lupa mengembalikan, padahal dia sudah berjalan dengan perjalanan yang cukup jauh, akhirnya dia pun putar balik untuk mengembalikan pena tersebut.  Al-Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata: استعرت قلما بأرض الشام، فذهبت على أن أرده، فلما قدمت مرو نظرت فإذا هو معي، فرجعت إلى الشام حتى رددته على صاحبه. "Saya meminjam sebuah pena di daerah Syam, lalu saya pergi dengan niat untuk mengembalikannya, namun ketika saya tiba di Marwa saya melihat ternyata pena tersebut masih bersama saya, maka saya kembali ke Syam hingga saya bisa mengembalikannya kepada pemiliknya." (Siyar A’lamin Nubala', VIII/359).  Kota Marwa berada di negeri Turkmenistan atau Turkmenia di Asia Tengah Uni Soviet, entah berapa jaraknya dari negeri Syam yang ada di jazirah Arab. Yang jelas, cukup jauh dan pada waktu itu kendaraannya jelas bukan kereta api, mobil atau pesawat.  Itulah para salaf, meneladani dan mengikut...

Keindahan Matahari Dan Bulan

KEINDAHAN MATAHARI DAN BULAN  Untuk melihat keindahan terbit dan tenggelamnya matahari serta cahaya indah bulan, orang rela untuk mendaki gunung yang tinggi, udara yang super dingin dan perjalanan yang begitu sulit. Ada juga yang bercapai-capai pergi ke pinggir pantai atau ke padang sahara, untuk melihat keindahan tenggelam dan terbitnya matahari serta keindahan sinar rembulan.  Namun ketika hendak pergi menuntut ilmu agama, beratnya minta ampun, padahal perjalanan mudah, ada kendaraan, badan sehat, apalagi tempat taklimnya dekat, cukup dua atau tiga menit perjalanan jalan kaki sudah nyampe. Padahal ilmu agama itu kalau digambarkan, lebih indah dari pada matahari dan bulan.  Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah : ‏لو صُور العلم صورة ؛ لكانت أجمل من الشمس والقمر  [ ابن القيم روضة المحبين ص 301 ]  Seandainya saja ilmu syar'i itu digambarkan dalam bentuk gambar,  Sungguh gambar tersebut akan lebih indah daripada matahari dan rembulan. (Roudhotul Muhi...