BAYAR UTANGMU!

BAYAR UTANGMU! 

Sebagian orang, meremehkan utang, melupakan dan tidak berniat untuk bayar utang. Seharusnya yang memiliki utang berusahalah untuk melunasinya sebelum kematian menghampirinya. Karena sesungguhnya, kalau utang di dunia tidak bisa dilunasinya, maka di akhirat akan dibayar dengan amal-amal baiknya. Pahala shalatnya, puasanya, zakatnya, sedekahnya dan seluruh amal shalehnya akan diberikan kepada orang yang menghutanginya waktu di dunia yang belum dilunasinya. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,


من مات وعليه دَينٌ ، فليس ثم دينارٌ ولا درهمٌ ، ولكنها الحسناتُ والسيئاتُ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih punya hutang, maka kelak (di hari kiamat) tidak ada dinar dan dirham untuk melunasinya. Namun yang ada hanyalah kebaikan atau keburukan (untuk melunasinya).” (HR. Ibnu Majah. Hadits Shahih). 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu  anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ. رواه ابن ماجه ( 2414 ) ، وصححه الألباني في " صحيح ابن ماجه " .

"Barangsiapa meninggal sementara ia mempunyai tanggungan hutang satu dinar atau satu dirham, maka akan diganti dari pahala kebaikannya pada hari dimana dinar dan dirham tidak berguna lagi. (HR. Ibnu Majah. Hadits Shahih). 

Berkata Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, 

يا حمران ! اتق الله ولا تمت وعليك دين ، فيؤخذ من حسناتك ، لا دينار ثَمَّ ولا درهم 

Ya Humron, bertakwalah (takutlah) kepada Allah, janganlah kamu mati dan dirimu memiliki utang, maka (di akhirat nanti) akan diambil kebaikan-kebaikanmu. (pada waktu itu) tidak ada gunanya dinar dan dirham disana. (Riwayat Mushannaf Abdul Rozzak 3/57). 

Seorang yang mati syahid, yang mati berperang di jalan Allah, dosa-dosanya terampuni, kecuali utang yang belum dilunasinya. Dan bahkan ruhnya terkatung-katung sampai utangnya dilunasi. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إلَّا الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim). 

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نفس المؤمن مُعَلّقة بدَيْنِه حتى يُقْضى عنه

“Ruh seorang mukmin (yang sudah meninggal) terkatung-katung karena hutangnya sampai hutangnya dilunasi.” (HR. At-Tirmidzi. Hadits Hasan). 

Seseorang yang punya utang dan tidak ada niat untuk melunasi utangnya, nanti ia akan menjumpai Allah Ta'ala dengan status sebagai pencuri. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدِينُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لَا يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا

Laki-laki mana pun yang berhutang dan dia berniat untuk tidak membayarnya kepada pemiliknya, maka ia akan menjumpai Allah dengan status sebagai pencuri. (HR. Ibnu Majah. Hadits Shahih) 

Kalau orang awam tidak bayar utang, mungkin bisa dimaklumi karena kebodohannya. Namun jika seorang thulabul ilmi, seorang salafi, sengaja melupakan, tidak ada niat dan ada itikad baik untuk bayar utang, malulah dengan pengklaiman dan pengakuannya, "Saya Salafi", tetapi akhlaknya jauh dari para salaf dalam perkara utang. 

Berkata Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafidzahullah, 

من صور الانحرافات أن يقول الإنسان : ( أنا سلفي ) ؛ وأخلاقه وتعامله وطريقة أخذه ورده مع الناس جاهلية ما هي سلفية!

Diantara bentuk penyimpangan orang yang berkata : (Saya salafi), sedangkan akhlaknya, pergaulannya, metode mengambil dan menolak orang lain, menunjukkan kebodohan tentang apa itu salafiyah!

ويقول أنّا سلفي .. إذا استدان من الناس لا يردّ الدين ،وإذا مر بالنّاس عوام مساكين جُهّال ؛ بدل ما يحتويهم ويوجههم ويرغبهم ؛ يُكشّر في وجههم ويبتعد عنهم ولا يرد عليهم السلام! يتركهم في ضيق لا يعلمه إلّا الله ويُعطي صورة سيئة عن السلفية.

Dan ia berkata, “Saya salafi“, namun jika berhutang kepada orang, ia tidak mengembalikan (membayar) utangnya. Bila ia melewati orang awam yang miskin yang bodoh, bukannya mengajak mereka pada kebaikan dan memotivasi mereka, ia justru menampakkan wajah yang membuat mereka menjauh, bahkan tidak menjawab salam mereka. Meninggalkan orang miskin tersebut dalam kesulitan hidup yang tidak diketahui siapapun melainkan Allah, dan memberikan gambaran yang buruk tentang dakwah salafiyah. (Manhaj salaf fi ta’amul ma’a al inhiraafaat al ‘aqidah wal manhajiyah). 

AFM

Copas dari berbagai sumber

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Dari Demonstrasi Dan Pemberontakan

KENAPA KAMU DIAM?

Royalti Di Akhirat