KUALITAS SESEORANG DILIHAT DARI LISANNYA
KUALITAS SESEORANG DILIHAT DARI LISANNYA
Ahlul bid'ah, hizbiyyun atau harokiyyun kebusukan hatinya terpancar dari lisan atau tulisannya. Omongan dan tulisannya penuh dengan cacian, makian dan sumpah serapah.
Kata-kata goblok, tolol, bodoh atau nama-nama binatang yang mereka lontarkan kepada orang yang menyelisihinya, menghiasi omongan atau tulisannya dalam kesehariannya.
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah,
فالخبيث يتفجر من قلبه الخبث على لسانه وجوارحه، والطيب يتفجر من قلبه الطيب على لسانه وجوارحه.
"Orang yang BUSUK akan terpancar dari hatinya kebusukan melalui lisan dan anggota badannya, sedangkan orang yang baik akan terpancar kebaikan dari lisan dan anggota badannya pula." (Zaadul Ma’ad).
Dan berkata Ibnul Qayyim rahimahullah,
أي كما تطعم بلسانك طعمَ ما في القدور من الطعام فتدرك العلم بحقيقته، كذلك تطعم ما في قلب الرجل من لسانه، فتذوق ما في قلبه من لسانه، كما تذوق ما في القدر بلسانك. الداء والدواء (ص ١٨٧)
"Yakni, sebagaimana engkau mencicipi rasa makanan yang ada di dalam periuk dengan lidahmu sehingga engkau tahu hakikat rasanya."
"Demikian pula, engkau bisa mengetahui apa yang ada di DALAM HATI seseorang melalui UCAPAN LISANNYA sehingga engkau bisa merasakan apa yang ada di hati seseorang melalui lisannya sebagaimana engkau mencicipi rasa makanan di dalam periuk dengan lidahmu." (Ad Da'u wad Dawa').
Sumber : https://www.al-badr.net/ muqolat/5418
Berkata Yahya bin Mu’adz rahimahullahu,
القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها ومغارفها ألسنتها فانتظر الرجل حتى يتكلم فإن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج، يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه» حلية الأولياء لأبي نعيم
“Hati itu seperti periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah KUALITAS SESEORANG ketika dia BERBICARA. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.” (Hilyatul Auliya’).
Kalau ahlul bid'ah, hizbiyyun atau harokiyyun suka berkata kotor, mencaci, memaki atau sumpah serapah, mungkin bisa dimaklumi, karena memang begitulah tabiat, karakter dan watak asli mereka. Tetapi jika yang mengucapkannya adalah thulabul ilmi, mengklaim salafi ori, salafi sejati yang kokoh di atas manhaj salaf, pengikut salafushshaleh, maka ini yang perlu dipertanyakan, apakah demikian yang diajarkan salafushshaleh?
Atau memang mereka hizbiyyun harokiyyun yang bersembunyi dibalik jargon manhaj salaf?Atau orang yang baru sadar (atau istilahnya baru hijrah) dari ahlul bid'ah, hizbiyyun atau harokiyyun yang belum sembuh total?
AFM
Copas dari berbagai sumber
Komentar
Posting Komentar