MENGHIBUR YANG TERKENA MUSIBAH

MENGHIBUR YANG TERKENA MUSIBAH


Jika seseorang mendatangi atau mengunjungi orang yang terkena bencana atau musibah, maka hendaklah menghiburnya. 

Katakan padanya, "Bersabarlah, semoga Allah memberikan pahala dan menggantinkanya dengan yang lebih baik."

Jangan mengatakan, "Bertaubatlah, beristighfarlah, itu karena akibat maksiatmu, kebid'ahan dan kesyirikanmu!"

Memang perkataan itu tidak salah, sangat benar, namun momen dan waktunya tidak tepat. 

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata:

إذا كان قول الحق في غير محله وفي غير وقته وبغير الأسلوب المناسب، فإنه يسبب مفسدة

Jika perkataan yang benar disampaikan tidak pada tempatnya, tidak pada waktu yang tepat, dan tidak menggunakan cara yang pas, maka hal itu akan menyebabkan kerusakan. (Ni'matul Amni, hlm. 34).

Dakwah menyampaikan kebenaran itu mesti dengan ilmu. Ilmu disini bukan hanya tentang syari’at saja, tetapi mencakup
ilmu tentang syari’at, ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi dan ilmu tentang metode yang dapat mengantarkan kepada tujuan dakwah, yaitu hikmah.

Berkata Syaikh Utsaimin rahimahullah :

فتضمنت هذه الدعوة الإخلاص والعلم لأن أكثر ما يفسد الدعوة عدم الإخلاص أو عدم العلم وليس المقصود بالعلم في قوله على بصيرة العلم بالشرع فقط بل يشمل العلم بالشرع والعلم بحال المدعو والعلم بالسبيل الموصل إلى المقصود وهو الحكمة

Dakwah ini harus mencakup ikhlas dan ilmu, karena kebanyakan yang merusak dakwah adalah tidak ikhlas dan tidak ada ilmu. Dan bukanlah maksud ilmu dalam firman Allah, “(dakwah) di atas bashiroh (dengan ilmu)” hanyalah ilmu tentang syari’at saja, tetapi mencakup: Ilmu tentang syari’at, ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi, dan ilmu tentang metode yang dapat mengantarkan kepada tujuan dakwah, yaitu hikmah.” [al-qoulul mufid fi syarhi kitab at-tauhid, 1/130].

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saja, ketika ada seseorang yang terkena musibah, beliau menasehati untuk bertakwa dan bersabar, orangnya marah, dikira bukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Apalagi kita, yang mungkin bukan kerabatnya, bukan sahabatnya, bukan teman karibnya, bukan tetangganya, hanya orang asing yang tidak dikenalnya.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata,: "Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah". Wanita itu berkata,: "Menjauhlah dari saya, karena kamu tidak mengalami musibah seperti yang aku alami ". Wanita itu tidak mengetahui beliau. Ketika hal itu  diberitahu kepadanya, maka wanita tersebut mendatangi rumah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ternyata beliau tidak ada pengawalnya, dan dia berkata; "Maaf, tadi aku tidak mengetahui anda". Maka Beliau bersabda: "Sesungguhnya sabar itu pada saat pertama datang musibah". (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalau dakwah secara umum dalam khutbah jumat, kajian atau tulisan di media, mengajak untuk banyak banyak bertaubat, banyak beristighfar, menjauhi maksiat, bidah dan kesyirikan agar terhindar dari turunnya bencana atau musibah, ya boleh-boleh saja. Namun mendatangi person tertentu atau sekelompok orang yang terkena musibah atau bencana, lantas mengatakan, bertaubatlah, jauhi maksiat, syirik dan bidah, ini momen dan waktunya yang tidak tepat, sebagaimana yang dikatakan ulama di atas. 

AFM



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Dari Demonstrasi Dan Pemberontakan

KENAPA KAMU DIAM?

SOLUSI MENCEGAH BENCANA