NIAT MELAKUKAN KEMUNGKARAN

NIAT MELAKUKAN KEMUNGKARAN 


Seseorang yang berniat melakukan kemungkaran atau kemaksiatan, tidak dihukumi atau dicatat berdosa sampai dia melakukannya. 

Mabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن هَمَّ بحَسَنةٍ فلم يَعمَلْها كُتِبَت له حَسَنةً، ومن هَمَّ بحَسَنةٍ فعَمِلَها كُتِبَت له عَشرًا إلى سبعِمئةِ ضِعفٍ، ومن هَمَّ بسَيِّئةٍ فلم يعمَلْها لم تُكتَبْ، وإنْ عَمِلها كُتِبَت

Barang siapa yang berniat melakukan suatu kebaikan tetapi tidak melakukannya, maka dicatat baginya satu pahala kebaikan. Dan barang siapa yang berniat melakukan kebaikan lalu jadi melakukannya, maka dicatat baginya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat pahala. Dan barang siapa yang berniat melakukan keburukan tetapi tidak melakukannya, maka tidak dicatat sebagai dosa. Namun jika ia melakukannya, maka dicatat sebagai satu dosa” (HR. Muslim).

Dan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ كَتَبَ الحَسَناتِ والسَّيِّئاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذلكَ، فمَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كَتَبَها اللَّهُ له عِنْدَهُ حَسَنَةً كامِلَةً، فإنْ هو هَمَّ بها فَعَمِلَها، كَتَبَها اللَّهُ له عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَناتٍ، إلى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، إلى أضْعافٍ كَثِيرَةٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كَتَبَها اللَّهُ له عِنْدَهُ حَسَنَةً كامِلَةً، فإنْ هو هَمَّ بها فَعَمِلَها، كَتَبَها اللَّهُ له سَيِّئَةً واحِدَةً.

Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskannya. Maka barangsiapa berniat melakukan suatu kebaikan namun tidak jadi melakukannya, Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat suatu kebaikan lalu melaksanakannya, Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat kebaikan, bahkan lebih banyak dari itu. Dan barangsiapa berniat melakukan suatu keburukan namun tidak melakukannya, Allah akan mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna di sisi-Nya. Namun jika ia berniat suatu keburukan lalu melaksanakannya, Allah akan mencatatnya sebagai satu dosa saja” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Adapun jika ia meninggalkannya karena tidak mampu melakukannya, sedangkan ia masih berniat melakukannya jika ada kemampuan, maka ia berdosa disebabkan niatnya.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

"«إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا، فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ» ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ: «إِنَّهُ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ»

“Jika dua orang muslim berperang dengan pedang mereka, yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka,” para sahabat bertanya,“Wahai Rasûlullâh, yang membunuh tentu saja, tetapi bagaimana dengan yang terbunuh?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang terbunuh juga ingin membunuh lawannya.” [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah ditanya :

إذا نوى شخص أن يعمل سوءًا، ولم يفعله؛ فهل تُكتَبُ عليه سيئة أو لا‏؟‏

Jika seseorang berniat melakukan kejelekan kemudian batal melakukannya. Apakah dicatat baginya satu kejelekan atau tidak?

Beliau menjawab, 

ورد في الحديث‏:‏ ‏(‏أن المسلم إذا همَّ بالسّيِّئة ولم يعملها؛ فإنها تُكتَبُ له حسنة‏)‏ ‏[‏انظر‏:‏ ‏"‏صحيح البخاري‏"‏ ‏(‏7/187‏)‏ من حديث ابن عباس رضي الله عنه، وهو معنى جزء من حديث قدسي‏.‌‏]‏، وهذا إذا ترك العمل بها خوفًا من الله سبحانه وتعالى‏.‏ 

 أمَّا إذا ترك العمل بها لأنَّه لم يتمكَّن من فعلها، وهو ينوي أنه لو تمكن أن يفعلها؛ فهذا يكون عليه الإثم بسبب نيَّته؛ كما دلَّت على ذلك الأحاديث، ومنها‏:‏ ‏(‏إذا التقى المسلمان بسيفيهما؛
 فالقاتل والمقتول في النار‏)‌‏  قيل‏:‏ يا رسول الله‏!‏ هذا شأن القاتل؛ فما بالُ المقتول‏؟‏ قال‏:‏ ‏(‏إنه كان حريصًا على قتل صاحبه‏)‏ ‏[‏رواه النسائي في ‏"‏سننه‏"‏ ‏(‏7/125‏)‏ من حديث أبي بكرة رضي الله عنه، ورواه ابن ماجه في ‏"‏سننه‏"‏ ‏(‏2/1311‏)‏ من حديث أبي موسى رضي الله عنه‏.‌‏]‌‏.‏

Datang sebuah hadits :

"Jika seseorang berniat untuk melakukan kejelekan kemudian batal melakukannya, maka ditulis untuknya satu kebaikan."

(HR. Bukhari : 7/178, dari hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhu-, ini merupakan potongan dari sebuah hadits qudsi)

Ini jika ia meninggalkan perbuatan tersebut karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Adapun jika ia meninggalkannya karena tidak mampu melakukannya, sedangkan ia masih berniat melakukannya jika ada kemampuan, maka ia berdosa disebabkan niatnya. Ini sebagaimana  ditunjukkan oleh beberapa hadits, diantaranya adalah :

"Jika dua orang muslim berkelahi dengan pedang-pedangnya, maka si pembunuh dan yang dibunuh masuk neraka."

Seseorang berkata : "Wahai Rasulullah, ini keadaan si pembunuh. Lalu bagaimana dengan keadaan yang dibunuh?"

Beliau bersabda : "Sungguh orang yang dibunuh juga berkeinginan kuat untuk membunuh saudaranya." (HR. Nasa'i : 7/125 dari hadits Abu Bakrah -radhiyallahu 'anhu-, HR. Ibnu Majah : 2/1311 dari hadits Abu Musa -radhiyallahu 'anhu-). (Al-Muntaqa min Fatawa Asy-Syaikh Al-Fauzan).

Jika diungkapkan keinginan kemaksiatan atau kemungkarannya, nasehati dengan baik, agar diurungkan keinginannya. 

AFM

Copas dari berbagai sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Dari Demonstrasi Dan Pemberontakan

KENAPA KAMU DIAM?

SOLUSI MENCEGAH BENCANA