MAAF SAYA BUKAN USTADZ

MAAF SAYA BUKAN USTADZ


Ada orang, yang hobinya serang sini serang sana, tahdzir alan tahdzir pulan, kritisi ustadz itu dan menyalahkan ulama ini. Ketika ditanya, kamu ustadz atau ulamakah?  

"Maaf, saya bukan ulama dan bukan pula ustadz." 

Tetapi herannya dia berperan sebagai ustadz atau ulama, dengan membantah para ustadz atau ulama.

Berkata Asy-Syaikh Dr. Muhammad Ghalib hafizhahullah :

يقول: لست عالما، ثم يرد على علماء الأمة، ويتحدث في أدق النوازل، ويتصدر مجالس الفتيا، ويؤول النصوص حسب هواه، طيب لو ادعيت بإنك عالم ماذا ستفعل؟! 

"Ada orang yang mengatakan, ‘Aku bukan ulama,’ namun anehnya setelah itu, dia membantah para ulama umat ini, bicara tentang masalah-masalah kontemporer yang paling rumit, lancang menyampaikan fatwa, dan menafsirkan dalil-dalil syari’at sesuai dengan hawa nafsunya.

Terus, seandainya engkau menganggap bahwa dirimu adalah seorang ulama, kira-kira apa yang akan engkau lakukan?!” Sumber : https://mobile.twitter.com/m_g_alomari/status/853701898767142912

Seseorang yang mengkritisi bacaan seorang imam di suatu masjid, bahwa bacaannya salah, keliru atau tidak benar, ya mesti orang ini mengetahui hukum-hukum bacaan alquran atau menguasai ilmu tajwid dan ilmu lainnya yang berkenaan tentang bacaan alquran. Bukan yang baru lulus iqra enam.

Begitu pula, orang yang mengkritisi bacaan kitab gundul (kitab kuning) seorang ustadz, bahwa cara bacaannya banyak salahnya, keliru parah atau tidak benar, mesti orang yang menguasai betul ilmu nahwu dan sharaf serta ilmu penunjang lainnya. Bukan orang yang baru tamat jurumiyyah atau bahkan belum tamat, sudah mengoreksi bacaannya ustadz kibar. 

Termasuk orang yang mentahdzir seorang ustadz atau seorang ulama, bahwa ustadz pulan atau ulama alan, pemahamannya menyimpang dari pemahaman para salaf atau manhajnya rusak, sedangkan orang yang mentahdzir ini belum tamat satu kitab pun tentang manhaj dan aqidah salaf. Atau mempelajari kitab tentang pokok-pokok aqidah ahlussunnah. 

Oleh karena itu, orang yang mentahdzir harus memiliki ilmu. Kalau tidak memiliki ilmu, ya lebih baik menshare perkataan dan fatwa ulama tentang penyimpangan si pulan atau si alan. 

Syekh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah ditanyaditanya

هل التحذير من المناهج المخالفة لمنهج السلف واجب ؟

Apakah tahdzir (memperingati) dari manhaj-manhaj yang menyimpang dari manhaj salaf itu wajib?

Beliau menjawab, 

نعم ، يجب أن نحذر من المناهج المخالفة لمنهج السلف ، هذه من النصيحة لله ، ولكتابه ، ولرسوله ، ولأئمة المسلمين ، وعامتهم .

Iya, wajib bagi kita untuk mentahdzir  manhaj-manhaj yang menyimpang dari mamhaj salaf. Ini diantara nasehat untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin. 

نحذر من أهل الشرور ، ونحذر من المناهج المخالفة لمنهج الإسلام ، ونبين مضار هذه الأمور للناس ، ونحثهم على التمسك بالكتاب والسنة ، هذا واجب .

Kita memperingatkan dari ahlusy syurur (pelaku kejelekan), dari manhaj-manhaj  yang menyimpang dari manhaj islam, menjelaskan mudharat perkara ini bagi manusia dan menganjurkan mereka berpegang teguh kepada Alkitab (alquran) dan sunnah. Ini adalah wajib. 

ولكن هذا من شئون أهل العلم الذين يجب أن يتدخلوا في هذا الأمر ، وأن يوضحوه للناس بالطريقة اللائقة المشروعة الناجحة - بأذن الله - . 

AKAN TETAPI INI ADALAH URUSANNYA AHLI ILMU YANG WAJIB BAGI MEREKA UNTUK MASUK MENGURUSI HAL INI. Dan menjelaskannya kepada manusia. Dengan cara yang baik, yang disyariatkan, yang selamat. Dengan izin Allah. (Al-ajwibah Al-mufidah 'an Masalatil Manaahij Al-jadidah). Sumber : http://www.al-sunan.org/vb/showthread.php?p=22726# 

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly hafizhahullah ditanya, 

Sebagian manusia melampaui batas di dalam membungkam orang-orang yang mentahdzir mubtadi’ah dan mereka mengatakan: “Ini adalah tugasnya para ulama.” Bagaimana pernyataan semacam ini?

Beliau menjawab, 

Intinya mereka sangat melampaui batas di dalam membungkam penuntut ilmu dengan sekuat-kuatnya. Ucapan ini padanya terdapat teror dan membungkam mulut para pemuda dengan batu untuk menghalangi mereka dari mengatakan kebenaran terhadap ahli bid’ah. Mereka melampaui batas dalam perkara-perkara ini. DALAM MASALAH-MASALAH YANG TERSAMAR, ENGKAU SEBAGAI PENUNTUT ILMU JANGAN BERBICARA PADANYA TANPA ILMU.

Namun di sana ada perkara-perkara yang jelas dan gamblang misalnya kewajiban sholat, kewajiban puasa, kewajiban zakat, kewajiban haji, haramnya istighatsah dan tawassul dengan selain Allah. PERKARA-PERKARA INI PERKARA JELAS, BOLEH YANG BERBICARA TENTANGNYA SEORANG ULAMA, DAN JUGA PENUNTUT ILMU.

Dan di sana terdapat perkara-perkara yang tersamar yang membutuhkan IJTIHAD, kalau yang ini maka diserahkan pada PARA ULAMA. ADAPUN PADA SEMUA PERKARA MAKA TIDAK BENAR. (Aunul Bary bi Bayani Ma Tadhammanuhu Syarhus Sunnah lil Imam Al-Barbahary 1/423-424).

Oleh karena itu, orang yang tidak berilmu, atau masih sedikit ilmunya, lebih baik diam. Apalagi persoalan yang ilmiah dan perkara-perkara besar, niscaya dia akan bisa istirahat dengan tenang dan tidak membuat orang letih untuk membantah dan menasehatinya.

Berkata Al-Imam Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzy rahimahullah :

لو سكت من لا يدري لاستراح وأراح، وقل الخطأ وكثُر الصواب. 

"Seandainya orang yang tidak tahu mau diam, niscaya dia akan bisa istirahat dengan tenang dan tidak membuat letih atau merepotkan orang lain, maka kesalahan akan sedikit dan yang sesuai dengan kebenaran akan banyak.” [Tahdzibul Kamal, jilid 4 hlm. 326].

Berkata Al-Allamah Saleh Al-Fauzan Hafizhahullah:

《 على الجاهل ألا يتكلم، وأن يسكت ويخاف الله ولا يتكلم بغير علم.  فلا يجوز للجاهل أن يتكلم في مسائل العلم ولا سيما المسائل الكبار. 》[الأجوبة المفيدة - س74]

“Wajib bagi orang yang jahil untuk tidak berbicara, dan hendaknya diam dan takut kepada Allah dan jangan berbicara tanpa ilmu. Tidak boleh bagi orang yang jahil berbicara dalam permasalahan ilmiah, terlebih lagi dalam perkara-perkara yang besar.” [Al-Ajwibatul Mufidah: 74].

AFM 

Copas dari berbagai sumber




 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hasil Dari Demonstrasi Dan Pemberontakan

KENAPA KAMU DIAM?

SOLUSI MENCEGAH BENCANA