Menjadikan Orang Mati Sebagai Wasilah
MENJADIKAN ORANG YANG DI DALAM KUBUR SEBAGAI WASILAH
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Orang-orang jahiliyah terdahulu senantiasa menjadikan orang-orang shalih yang telah mati menjadi wasilah atau perantara agar doanya dikabulkan. Mereka beralasan bahwa kalau mereka langsung berdoa kepada Allah, kemungkinan besar tidak akan diterima,
Untuk itu mereka berdoa melalui perantara orang-orang sholeh yang dekat dengan Allah Ta'ala. Mereka menganalogikan Allah dengan para raja tidak mungkin bisa langsung ditemui kecuali melalui orang-orang terdekatnya dan orang-orang kepercayaannya untuk mengajukan berbagai hajat rakyatnya. Maka demikian juga (dengan) Allah Ta’ala. Itulah kata mereka.
Perbuatan seperti inilah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sangat mengingkarinya dan memperingati mereka bahwa perbuatan seperti ini bentuk kesyirikan, bentuk penyembahan kepada selain Allah. Tetapi mereka mengingkarainya, mereka mengatakan bahwa ini bukan bentuk penyembahan kepada orang-orang shalih, tapi ini hanya wasilah atau perantara untuk pendekatan diri kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (QS. Az Zumar ayat 3).
Berkata Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah:
( مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى ) أي: لترفع حوائجنا للّه، وتشفع لنا عنده، وإلا فنحن نعلم أنها، لا تخلق، ولا ترزق، ولا تملك من الأمر شيئا أي: فهؤلاء، قد تركوا ما أمر اللّه به من الإخلاص، وتجرأوا على أعظم المحرمات، وهو الشرك، وقاسوا الذي ليس كمثله شيء، الملك العظيم، بالملوك، وزعموا بعقولهم الفاسدة ورأيهم السقيم، أن الملوك كما أنه لا يوصل إليهم إلا بوجهاء، وشفعاء، ووزراء يرفعون إليهم حوائج رعاياهم، ويستعطفونهم عليهم، ويمهدون لهم الأمر في ذلك، أن اللّه تعالى كذلك وهذا القياس من أفسد الأقيسة، وهو يتضمن التسوية بين الخالق والمخلوق، مع ثبوت الفرق العظيم، عقلا ونقلا وفطرة، فإن الملوك، إنما احتاجوا للوساطة بينهم وبين رعاياهم، لأنهم لا يعلمون أحوالهم. فيحتاج من يعلمهم بأحوالهم، وربما لا يكون في قلوبهم رحمة لصاحب الحاجة، فيحتاج من يعطفهم عليه [ويسترحمه لهم] ويحتاجون إلى الشفعاء والوزراء، ويخافون منهم، فيقضون حوائج من توسطوا لهم، مراعاة لهم، ومداراة لخواطرهم، وهم أيضا فقراء، قد يمنعون لما يخشون من الفق
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Maksudnya, agar mereka mengajukan segala kebutuhan kami kepada Allah dan menjadi pemberi syafa’at bagi kami di sisiNya, kalau bukan demikian, maka sesungguhnya kami mengetahui bahwasannya berhala-berhala itu tidak bisa menciptakan sesuatu, tidak memberi rizki dan tidak memiliki sesuatu apapun. Maksudnya, orang-orang musyrik itu telah mengabaikan apa yang telah Allah Ta’ala perintahkan, yaitu ikhlas (tauhid), dan mereka dengan lancang telah melakukan perbuatan haram yang paling besar, yaitu syirik.
Mereka mengkiaskan Rabb yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya, Yang Maharaja nan Mahaagung dengan raja-raja (penguasa). Mereka beranggapan berdasarkan akal mereka yang rusak dan pikiran mereka yang sakit, bahwasanya para raja tidak mungkin bisa langsung ditemui kecuali melalui orang-orang terdekatnya, orang-orang kepercayaannya, dan para menterinya yang mengajukan berbagai kepentingan (tuntutan) rakyatnya, dan membujuknya untuk mengasihani rakyatnya serta memudahkan segala permasalahan dalam hal tersebut, maka demikian juga (dengan) Allah Ta’ala.
Analogi (qiyas) seperti ini adalah analogi yang paling rusak, karena mengandung makna penyetaraan sang Khaliq (Pencipta) dengan makhluq, padahal sudah pasti terdapat perbedaan yang sangat besar antara keduanya secara akal, syar’i dan fitrah. Para raja membutuhkan perantara (pembantu) yang menghubungkan mereka dengan rakyatnya, sebab mereka tidak mengetahui kondisi rakyat, maka dibutuhkan orang yang (bertugas) memberitahu mereka tentang kondisi rakyat secara langsung; dan barangkali tidak ada rasa kasih sayang di dalam hati mereka kepada orang yang mempunyai keperluan (tuntutan), sehingga dibutuhkan orang yang bisa membuat hati mereka kasihan kepada mereka. Dan mereka membutuhkan para pembantu dan para menteri, dan rakyat takut kepada mereka, sehingga para raja mau memenuhi kebutuhan orang-orang yang berperantara kepada mereka demi menghormati dan menjaga perasaan mereka. Para raja itu juga sebenarnya orang-orang fakir, kadang menahan sesuatu karena takut miskin. (Tafsir As Sa'di).
Ternyata perbuatan seperti ini, menjadikan orang-orang shalih yang telah berada di dalam kubur sebagai wasilah, berlangsung dari zaman ke zaman, sampai zaman kita sekarang ini.
Banyak orang-orang yang datang ke kubur-kubur para wali untuk berdoa, meminta agar keinginan-keinginannya terkabulkan. Bahkan lebih parah dibandingkan dengan orang-orang di zaman dulu. Orang-orang dulu hanya datang ke kuburnya orang-orang shalih, tapi zaman kini, bukan hanya kepada orang shalih, tapi juga kepada orang-orang yang masa hidupnya banyak maksiat dan banyak menentang Allah. Mungkin mantan presiden, artis, dukun klenik dan lain sebagainya.
Mereka yang menjadikan orang-orang dalam kubur sebagai wasilah di zaman sekarang ini, tidak mau juga kalau perbuatannya itu sebagai bentuk penyembahan. Mereka menjawab dengan jawaban yang sama seperti orang-orang jahiliyah terdahulu, bahwa mereka hanya menjadikan orang-orang shaleh itu sebagai wasilah atau perantara.
Sebagian mereka membawakan kisah Musa alaihi sallam, tongkat menjadi wasilah mengalahkan sihir. Dan juga baju Nabi Yusuf alaihi sallam menjadi wasilah sembuhnya mata bapaknya yang buta, sebagai dalil pembenaran wasilah kepada orang mati.
Pertanyaannya, apakah Musa melemparkan tongkat dan Nabi Yusuf menyerahkan baju, keinginan sendiri atau perintah Allah? Tentu kita semua tahu jawabannya, itu perintah Allah dan tertuang dalam alquran, bukan keinginannya sendiri.
Lantas bagaimana dengan orang yang menjadikan orang-orang yang di dalam kubur sebagai wasilah untuk terkabulkannya hajat-hajat kita, sepotong dalil pun tidak kita dapatkan.
Mereka yang menjadikan orang-orang dalam kubur sebagai wasilah juga beralasan dengan dalil dalam al quran dalam surat al maidah bahwa pendekatan diri kepada Allah Ta'ala harus melalui wasilah. Namun mereka memahaminya tidak sebagaimana para salaf memahami. Tidak ada satu salaf pun yang memahami bahwa mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melalui orang yang sudah dalam kubur.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya,..(QS. Al Maidah : 35).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah tentang firman Allah Ta'ala:
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. (QS. Al-Maidah: 35)
Qatadah mengatakan, makna yang dimaksud ialah "dekatkanlah diri kalian kepada-Nya dengan taat kepada-Nya dan mengerjakan hal-hal yang diridai-Nya". (Tafsir Ibnu Katsir).
Menjadikan orang-orang yang shalih yang telah meninggal dunia sebagai perantara agar doa dikabulkan, merupakan perbuatan yang sia-sia. Karena mereka yang di dalam kubur tidak mendengar doa-doa kita, dan walaupun mereka mendengar, mereka tidak akan bisa mengabulkan doa-doa kita.
Allah Ta’ala berfirman :
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ. إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ.
Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS.Fathir ayat 13-14).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ..
Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar .(QS. Fathir ayat 22).
Bahkan doa mereka seperti orang yang mengambil air dengan tangan terbuka, untuk dimasukan kedalam mulutnya, maka tidak akan sampai kemulutnya air tersebut. Seperti itulah doa kepada selain Allah, sia-sia belaka dan tidak akan sampai dan terkabulkan doanya.
Allah Ta'ala berfirman :
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ
Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ar Ro’du ayat 14).
Berdoalah kepada Allah secara langsung. Allah akan mendengar dan mengabulkan doa-doa kita, yang penting kita telah memenuhi adab-adab dan syarat-syaratnya agar doa dikabulkan.
Allah Ta’ala berfirman :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ.
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina" (Al Mu’min (QS. Ghofir) ayat 60).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqoroh ayat 186).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ. وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ.
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al ‘Araf ayat 55-56).
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Orang-orang jahiliyah terdahulu senantiasa menjadikan orang-orang shalih yang telah mati menjadi wasilah atau perantara agar doanya dikabulkan. Mereka beralasan bahwa kalau mereka langsung berdoa kepada Allah, kemungkinan besar tidak akan diterima,
Untuk itu mereka berdoa melalui perantara orang-orang sholeh yang dekat dengan Allah Ta'ala. Mereka menganalogikan Allah dengan para raja tidak mungkin bisa langsung ditemui kecuali melalui orang-orang terdekatnya dan orang-orang kepercayaannya untuk mengajukan berbagai hajat rakyatnya. Maka demikian juga (dengan) Allah Ta’ala. Itulah kata mereka.
Perbuatan seperti inilah yang Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sangat mengingkarinya dan memperingati mereka bahwa perbuatan seperti ini bentuk kesyirikan, bentuk penyembahan kepada selain Allah. Tetapi mereka mengingkarainya, mereka mengatakan bahwa ini bukan bentuk penyembahan kepada orang-orang shalih, tapi ini hanya wasilah atau perantara untuk pendekatan diri kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (QS. Az Zumar ayat 3).
Berkata Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah:
( مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى ) أي: لترفع حوائجنا للّه، وتشفع لنا عنده، وإلا فنحن نعلم أنها، لا تخلق، ولا ترزق، ولا تملك من الأمر شيئا أي: فهؤلاء، قد تركوا ما أمر اللّه به من الإخلاص، وتجرأوا على أعظم المحرمات، وهو الشرك، وقاسوا الذي ليس كمثله شيء، الملك العظيم، بالملوك، وزعموا بعقولهم الفاسدة ورأيهم السقيم، أن الملوك كما أنه لا يوصل إليهم إلا بوجهاء، وشفعاء، ووزراء يرفعون إليهم حوائج رعاياهم، ويستعطفونهم عليهم، ويمهدون لهم الأمر في ذلك، أن اللّه تعالى كذلك وهذا القياس من أفسد الأقيسة، وهو يتضمن التسوية بين الخالق والمخلوق، مع ثبوت الفرق العظيم، عقلا ونقلا وفطرة، فإن الملوك، إنما احتاجوا للوساطة بينهم وبين رعاياهم، لأنهم لا يعلمون أحوالهم. فيحتاج من يعلمهم بأحوالهم، وربما لا يكون في قلوبهم رحمة لصاحب الحاجة، فيحتاج من يعطفهم عليه [ويسترحمه لهم] ويحتاجون إلى الشفعاء والوزراء، ويخافون منهم، فيقضون حوائج من توسطوا لهم، مراعاة لهم، ومداراة لخواطرهم، وهم أيضا فقراء، قد يمنعون لما يخشون من الفق
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Maksudnya, agar mereka mengajukan segala kebutuhan kami kepada Allah dan menjadi pemberi syafa’at bagi kami di sisiNya, kalau bukan demikian, maka sesungguhnya kami mengetahui bahwasannya berhala-berhala itu tidak bisa menciptakan sesuatu, tidak memberi rizki dan tidak memiliki sesuatu apapun. Maksudnya, orang-orang musyrik itu telah mengabaikan apa yang telah Allah Ta’ala perintahkan, yaitu ikhlas (tauhid), dan mereka dengan lancang telah melakukan perbuatan haram yang paling besar, yaitu syirik.
Mereka mengkiaskan Rabb yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya, Yang Maharaja nan Mahaagung dengan raja-raja (penguasa). Mereka beranggapan berdasarkan akal mereka yang rusak dan pikiran mereka yang sakit, bahwasanya para raja tidak mungkin bisa langsung ditemui kecuali melalui orang-orang terdekatnya, orang-orang kepercayaannya, dan para menterinya yang mengajukan berbagai kepentingan (tuntutan) rakyatnya, dan membujuknya untuk mengasihani rakyatnya serta memudahkan segala permasalahan dalam hal tersebut, maka demikian juga (dengan) Allah Ta’ala.
Analogi (qiyas) seperti ini adalah analogi yang paling rusak, karena mengandung makna penyetaraan sang Khaliq (Pencipta) dengan makhluq, padahal sudah pasti terdapat perbedaan yang sangat besar antara keduanya secara akal, syar’i dan fitrah. Para raja membutuhkan perantara (pembantu) yang menghubungkan mereka dengan rakyatnya, sebab mereka tidak mengetahui kondisi rakyat, maka dibutuhkan orang yang (bertugas) memberitahu mereka tentang kondisi rakyat secara langsung; dan barangkali tidak ada rasa kasih sayang di dalam hati mereka kepada orang yang mempunyai keperluan (tuntutan), sehingga dibutuhkan orang yang bisa membuat hati mereka kasihan kepada mereka. Dan mereka membutuhkan para pembantu dan para menteri, dan rakyat takut kepada mereka, sehingga para raja mau memenuhi kebutuhan orang-orang yang berperantara kepada mereka demi menghormati dan menjaga perasaan mereka. Para raja itu juga sebenarnya orang-orang fakir, kadang menahan sesuatu karena takut miskin. (Tafsir As Sa'di).
Ternyata perbuatan seperti ini, menjadikan orang-orang shalih yang telah berada di dalam kubur sebagai wasilah, berlangsung dari zaman ke zaman, sampai zaman kita sekarang ini.
Banyak orang-orang yang datang ke kubur-kubur para wali untuk berdoa, meminta agar keinginan-keinginannya terkabulkan. Bahkan lebih parah dibandingkan dengan orang-orang di zaman dulu. Orang-orang dulu hanya datang ke kuburnya orang-orang shalih, tapi zaman kini, bukan hanya kepada orang shalih, tapi juga kepada orang-orang yang masa hidupnya banyak maksiat dan banyak menentang Allah. Mungkin mantan presiden, artis, dukun klenik dan lain sebagainya.
Mereka yang menjadikan orang-orang dalam kubur sebagai wasilah di zaman sekarang ini, tidak mau juga kalau perbuatannya itu sebagai bentuk penyembahan. Mereka menjawab dengan jawaban yang sama seperti orang-orang jahiliyah terdahulu, bahwa mereka hanya menjadikan orang-orang shaleh itu sebagai wasilah atau perantara.
Sebagian mereka membawakan kisah Musa alaihi sallam, tongkat menjadi wasilah mengalahkan sihir. Dan juga baju Nabi Yusuf alaihi sallam menjadi wasilah sembuhnya mata bapaknya yang buta, sebagai dalil pembenaran wasilah kepada orang mati.
Pertanyaannya, apakah Musa melemparkan tongkat dan Nabi Yusuf menyerahkan baju, keinginan sendiri atau perintah Allah? Tentu kita semua tahu jawabannya, itu perintah Allah dan tertuang dalam alquran, bukan keinginannya sendiri.
Lantas bagaimana dengan orang yang menjadikan orang-orang yang di dalam kubur sebagai wasilah untuk terkabulkannya hajat-hajat kita, sepotong dalil pun tidak kita dapatkan.
Mereka yang menjadikan orang-orang dalam kubur sebagai wasilah juga beralasan dengan dalil dalam al quran dalam surat al maidah bahwa pendekatan diri kepada Allah Ta'ala harus melalui wasilah. Namun mereka memahaminya tidak sebagaimana para salaf memahami. Tidak ada satu salaf pun yang memahami bahwa mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melalui orang yang sudah dalam kubur.
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya,..(QS. Al Maidah : 35).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah tentang firman Allah Ta'ala:
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. (QS. Al-Maidah: 35)
Qatadah mengatakan, makna yang dimaksud ialah "dekatkanlah diri kalian kepada-Nya dengan taat kepada-Nya dan mengerjakan hal-hal yang diridai-Nya". (Tafsir Ibnu Katsir).
Menjadikan orang-orang yang shalih yang telah meninggal dunia sebagai perantara agar doa dikabulkan, merupakan perbuatan yang sia-sia. Karena mereka yang di dalam kubur tidak mendengar doa-doa kita, dan walaupun mereka mendengar, mereka tidak akan bisa mengabulkan doa-doa kita.
Allah Ta’ala berfirman :
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ. إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ.
Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (QS.Fathir ayat 13-14).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ..
Dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar .(QS. Fathir ayat 22).
Bahkan doa mereka seperti orang yang mengambil air dengan tangan terbuka, untuk dimasukan kedalam mulutnya, maka tidak akan sampai kemulutnya air tersebut. Seperti itulah doa kepada selain Allah, sia-sia belaka dan tidak akan sampai dan terkabulkan doanya.
Allah Ta'ala berfirman :
لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ
Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. (QS. Ar Ro’du ayat 14).
Berdoalah kepada Allah secara langsung. Allah akan mendengar dan mengabulkan doa-doa kita, yang penting kita telah memenuhi adab-adab dan syarat-syaratnya agar doa dikabulkan.
Allah Ta’ala berfirman :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ.
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina" (Al Mu’min (QS. Ghofir) ayat 60).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al Baqoroh ayat 186).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ. وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ.
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al ‘Araf ayat 55-56).
Komentar
Posting Komentar