Pegiat Bid'ah Menipu Umat
PEGIAT BID'AH MENIPU UMAT DENGAN KEDOK AGAMA
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Dari zaman ke zaman senantiasa ada orang atau sekelompok orang yang senantiasa mengajak kepada prilaku bid'ah yang mereka bungkus dengan nama agama, untuk menipu umat. Mereka bungkus dan mereka poles batilnya bid'ah dengan sedikit kebenaran. Akhirnya banyak yang mengikutinya karena tipuannya.
Berkata Al-Alamah SyaikhShalih Al-Fauzan hafidzohullôh :
" الباطل لو كان مكشوفا ما قبله أحد، لكن إذا غطي بشيء من الحق، فأنه يقبله كثير من الناس " [ شرح كشف الشبهات ٥٦ ]
"Kebatilan apabila jelas tampak kebatilannya, tidak akan ada yang menerimanya seorangpun, akan tetapi jika dipoles dengan sesuatu dari al-haq, maka tertipulah ( menerimalah) kebanyakan dari manusia." [ Syarah Kasyfu Syubhat 56 ]
Maka hendaklah kita pelajari dan perhatikan apakah para sahabat mengamalkannya atau tidak, kalau mereka mengamalkan, kita amalkan, kalau tidak, berarti itu perkara baru, perkara bid'ah, maka kita tinggalkan.
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, tentang penafsiran surah Al.Ahqaf ayat 11 :
َ
لو كان خيرا ما سبقونا إليه ) وأما أهل السنة والجماعة فيقولون في كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة : هو بدعة ; لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه ؛ لأنهم لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا وقد بادروا إليها .
Kalau sekiranya dia (Al-Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. (QS. Al-Ahqaf: 11).
Adapun golongan ahlussunnah wal jamaah mengatakan tentang semua perbuatan dan ucapan yang tidak terbukti bersumber dari para sahabat berarti hal itu adalah bid'ah. Karena sesungguhnya seandainya hal itu baik, tentulah mereka mendahului kita beriman kepadanya, karena sesungguhnya tiada suatu perkara kebaikan pun yang mereka biarkan melainkan mereka (para sahabat) bersegera mengerjakannya. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Ahqaf 11).
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata:
إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كَتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ (رواه اللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة 1/97)
"Kalian akan menemui golongan-golongan yang mengaku mengajak kalian kepada kitabullah, padahal mereka menaruhnya dibelakang punggung mereka. Maka kalian harus berilmu dan janganlah berbuat bid'ah, janganlah berlebih-lebihan dalam beramal ataupun perkataan dan berpeganglah kepada para pendahulu (salaf) (HR. Al-Lalika'iy, Syarhu Ushuli I'tiqodi Ahlis Sunnah wal Jama'ah 1/97).
Karena tipu daya ahlul bid'ah ini sangat dahsyat dan gerakannya begitu masif, maka kita jangan berhenti untuk membantahnya demi menyelamatkan umat dari kesesatan.
Berkata Al 'Allamah Rabi' Al Madkhaliy hafizhahullah :
« والله يعلم إننا لا نرد على أهل البدع إلا لإنقاذ الـمخدوعين والمغـرورين بأهل البدع والبـاطل » .
[ "الــمجموع" (٣٢٠/٥) ] .
"Dan Allah mengetahui bahwasanya tidaklah kita membantah ahlu bid'ah melainkan untuk menyelamatkan orang-orang yang terpedaya dan tertipu dengan ahlu bid'ah dan ahlu bathil." Al Majmu' 5/320
Perbuatan bid'ah dalam perkara agama lebih disukai iblis dari pada pelaku maksiat. Karena pelaku maksiat, seperti pezina, peminum khamar, penjudi dan yang lainnya, mereka tahu bahwa perbuatannya itu tidak baik, sehingga mereka lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid'ah merasa bahwa amalannya itu benar, sehingga mereka susah menerima kebenaran dan susah bertaubat, kecuali yang Allah Ta'ala berikan hidayah.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ اْلمَعْصِيَّةِ. اْلمَعْصِيَّةُ يُتَابُ مِنْهَا وَاْلبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا (شرح أصول الإعتقاد أهل السنة والجماعة للكائي 1/132)
"Perbuatan bid'ah itu lebih disukai iblis dari pada perbuatan maksiat, karena yang melakukan maksiat akan bertaubat dari kemaksiatannya sementara orang yang melakukan bid'ah tidak akan bertaubat dari kebid'ahannya." (Syarh Ushulil I'tiqadi Ahli Sunnah wal Jama'ah, Al-Lalikaiy 1/132)
Berkata Syekh Shaleh Al Fauzan hafidzahullah:
ومن وجوه كون البدعة شرا من الكبيرة أن المبتدع يفتري على اللّٰه الكذب ويقول: هذا شرع, هذا دين, هذا فيه أجر وثواب فهو يفتري على اللّٰه الكذب، بخلاف العاصي فإنه لا يدعي أن هذا دين، لأنه يعرف أنه عاص، أما المبتدع فهو يفتري على اللّٰه الكذب حيث يقول:
إن هذا من الدين، وإن هذا يقرب من اللّٰه سبحانه وتعالى، ثم إن العاصي لا يقتدى به، بل الناس يذمونه، بخلاف المبتدع فإنه يقتدى به الناس ويتعبدون ببدعته، فالناس يغترون به ويقتدون به في بدعه، بخلاف الزاني وشارب الخمر، فهذه كبائر، و الناس لا يقتدون بفاعلها، بل يمقتونه ويذمونه، فهذا أيضا من وجوه كون البدعة شرا من الكبيرة. وكذلك المبتدع يحتمل وزره و وزر من اقتدى به يوم القيامة، لأنه قدوة يقتدي به الناس، يظنون أنه على حق، وأن فعله عمل طيب، خصوصا إذا كان يدعو إلى البدعة و يحسنها، فإنه يتحمل وزره و وزر من اقتدى به واتبعه، هذا خطر عظيم.
Dan yang menjadi sebab bahwa keadaan bid'ah lebih jelek ancamannya dari dosa dosa besar, bahwa bid'ah mengada adakan kedustaan atas nama Allah ta'ala, dan mereka pelaku kebid'ahan mengatakan: ini adalah syari'at, ini dari agama dan didalamnya ada balasan dan pahala, maka ia mengadakan kedustaan atas nama Allah ta'ala.
Berbeda dengan pelaku kemaksiatan mereka sesungguhnya tidak menyeru mengatas namakan bahwa ini adalah agama, dan mereka pelaku kemaksiatan mengetahui bahwa ia melakukan kemaksiatan. Adapun pelaku kebid'ahan maka ia mengada adakan kedustaan Atas nama Allah ta'ala, Mereka mengatakan, sesungguhnya ini dari agama, dan sesungguhnya ini mendekatkan diri kepada Allah Subhana wata'ala. Kemudian pelaku kemaksiatan tidak diikuti dengan kemaksiatannya, bahkan manusia mencela kemaksiatannya, berbeda dengan pelaku kebid'ahan karena ia diikuti oleh manusia dan mereka beribadah dengan kebid'ahannya. Maka ia lebih jelek ancamannya dari dosa dosa besar, maka manusia tertipu dengan kebid'ahannya dan mereka mengikuti didalam kebid'ahannya tersebut. Berbeda dengan pelaku zina, dan peminum khamer, maka ini adalah dosa besar, dan manusia tidak mengikuti pelaku dosa dosa besar tersebut. bahkan mereka membencinya dan mencelanya, maka ini juga yang nampak terlihat bahwa kebid'ahan lebih jelek ancamannya dari dosa dosa besar.
Begitu juga pelaku kebid'ahan dia memikul dosa dosa dari dosa orang yang mengikuti kebid'ahannya sampai hari kiamat. Karena sesungguhnya pelaku kebid'ahan ia merupakan contoh bagi manusia (yang mengikutinya), dia menyangka bahwa ia diatas kebenaran bahwa perbuatannya amalan yang baik, terkhusus lagi jika ia terbukti menyeru kepada kebid'ahannya dan ia menghiasi kebid'ahannya tersebut, maka ia memikul dosa dari dosa dosa orang yang mengikutinya (dalam kebid'ahan) dan mencontohnya dan ini adalah perkara bahaya yang sangat besar sekali. Wallahua'lam. Kitab Syarah Fadhlul Islam Asy Syaikh Sholeh Fauzan Hafizhohulloh.
Sungguh kebaikan itu hanya dalam mengikuti apa-apa yang telah diamalkan para salaf, bukan membuat perkara baru.
Di dalam beragama itu hanya copy paste, apa yang di naskan dalam alquran dan as sunnah serta di amalkan para salaf, maka kita ikuti. Tidak perlu kreativitas, tidak perlu inovasi, tidak perlu kolaborasi, tidak perlu buat perkara baru (bid'ah), agama sudah sempurna, tinggal mengikuti.
Berkata Al Imam Ibnu Baz rahimahullah:
كل الخير في الاتباع كل الشر في الابتداع
Setiap kebaikan ada di dalam mengikuti dan setiap keburukan ada di dalam perkara baru. Majmu' Fatawa 16/274.
Pelaku bid'ah ini lebih bersungguh-sungguh mengamalkan kebid'ahannya dari pada amalan yang disyariatkan dan amalan yang disunnahkan. Contoh kecil misalkan ketika ada perayaan-perayaan hari besar islam (menurut mereka) seperti maulid nabi, isro miraj dan lain sebagainya mereka memenuhi masjid, namun ketika shalat jamaah, masjid langsung kosong.
Semakin mereka bersungguh-sungguh dalam kebid'ahannya, mereka semakin jauh dari syariat Allah dan Rasulnya.
Ayub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata:
مَازْدَادُ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْدًا (الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع، للإمام السيوطي : 66)
"Tidaklah seorang yang melakukan bid'ah semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebid'ahannya melainkan ia akan semakin jauh dari Allah." (Al-Amru bil Ittiba' wan Nahyu 'Anil Ibtida', Imam As-Suyuti, hal. 66)
Mereka senantiasa bersemangat mengamalkan kebid'ahannya karena mereka merasa bahwa amalannya benar, amalannya diterima dan amalannya tidak keliru. Namun walaupun demikian, bid'ah tetap bid'ah walaupun dihiasi dengan apapun dan bid'ah tetap sesat walaupun orang-orang mengatakan itu baik.
Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً (المدخل إلى السنن الكبرى للبيهقي رفم : 191)
"Setiap bid'a itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandang hal itu tampak baik." (Al-Madkhol ilas Sunanil Kubra, Al-Baihaqi, no. 191)
Kalau pelaku bid'ah itu tetap saja memandang baik amalan bid'ahnya, berarti mereka telah menuduh bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengajarkan islam semuanya. Mereka telah menuduh beliau khianat terhadap risalah.
Imam Malik rahimahullah berkata:
مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ اِلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعِمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَيَكُنِ اْليَوْمَ دِيْنًا
"Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu bid'ah dia melihatnya sebagai suatu kebaikan maka dia telah menuduh Muhammad menghianari risalah, karena Allah telah berfirman: "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku ridhoi Islam menjadi agamamu." Maka sesuatu yang bukan termasuk ajaran agama pada hari itu (saat hidup Rasul), bukan pula termasuk ajaran agama pada hari ini." (Dakwatul Kholaf Ila Thoriqis Salaf, Muhammad bin Ali bin Ahmad Bafadhl, hal.)
Mungkin ada yang berkata tentang suatu amalan yang tidak ada sunnahnya dengan alasan orang-orang yang berilmu (kyai, habaib, ustadz, tuan guru) mengamalkan dan mengajarkannya, mereka juga kitabnya banyak, masa mereka salah?
Siapa pun mereka, kalau mereka menyelisihi alquran dan as sunnah, mereka ahlul bid'ah yang tidak perlu diikuti.
Berkata Al Imam Al Barbahari rahimahullah:
ومن خالف الكتاب و السنة فهو صاحب بدعة و ان كان كثير العلم و الكتب
Dan barangsiapa menyelisihi al kitab (al quran) dan as sunnah maka dia adalah pelaku bid'ah, walaupun ilmu dan kitab-kitabnya banyak. Syahrus Sunnah hal 104.
Berkata Syekh Shaleh Al Fauzan hafidzahullah:
من انحرف عن طريقة الرسول صلى عليه وسلم فإنه لا يتبع ولا يقتدي به ولو كان عالما
Barangsiapa yang menyimpang dari jalan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka sesungguhnya dia tidak boleh diikuti dan tidak boleh ditiru walaupun dia seorang yang 'alim. Ahamiyyatut Tauhid 36.
Beramal dengan amalan sunnah biar sedikit itu lebih baik dari pada banyak tapi bid'ah. Misalkan membaca istighfar sehari seratus kali lebih baik dari pada baca tahlil (laa ilaaha illallah) 1000 kali dalam sehari. Lebih baik baca quran setengah halaman dari pada membaca barjanji satu buku. Lebih baik baca shalawat nabi 1 kali dari pada baca shalawat nariyah 4444 kali.
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata:
الْقَصْدُ فِي السُنَّةِ خَيْرٌ مِنَ اْلإِجْتِهَادِ فِي اْلبِدْعَةِ (رواه الدارمي، رقم : 223)
"Sederhana dalam Sunnah lebih baik dari pada bersungguh dalam masalah bid'ah." (HR. Ad-Darimi. Berkata Al-Hakim : Hadits Shahih).
Untuk itu, agar kita tidak terjerumus ke dalam perkara bid'ah, maka kita harus mempelajari sunnah dan mempelajari apakah para salaf terdahulu mengamalkan atau tidak, bukan melihat nenek moyang amalkan atau tidak. Karena usaha yang pertama kali iblis lakukan adalah menghalang-halangj manusia dari ilmu.
Al ‘Allamah Ibnul Jauzi rahimahullaahu berkata,
اعلم أن أول تلبيس إبليس على الناس صدهم عن العلم؛ لأن العلم نور فإذا أطفأ مصابيحهم خبطهم في الظلام كيف شاء.
“Ketahuilah bahwasanya tipu daya iblis yang pertama kali mereka lancarkan kepada umat manusia adalah usahanya untuk menghalangi mereka dari ilmu, kerana ilmu adalah cahaya. Apabila iblis telah mematikan cahaya mereka, maka dia mampu memukulnya (menyesatkannya) di dalam kegelapan sekehendak dia.” (Talbisu iblis: 1/289).
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata:
إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كَتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ (رواه اللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة 1/97)
"Kalian akan menemui golongan-golongan yang mengaku mengajak kalian kepada kitabullah, padahal mereka menaruhnya dibelakang punggung mereka. Maka kalian harus berilmu dan janganlah berbuat bid'ah, janganlah berlebih-lebihan dalam beramal ataupun perkataan dan berpeganglah kepada para pendahulu (salaf) (HR. Al-Lalika'iy, Syarhu Ushuli I'tiqodi Ahlis Sunnah wal Jama'ah 1/97).
Perbuatan bid'ah merupakan perbuatan yang sangat dibenci Allah Ta'ala, maka hendaklah kita menjauhinya. Untuk itu hendaklah kita memegang kuat-kuat sunnah.
Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata:
إِنَّ أَبْغَضُ اْلأُمُوْرِ إِلَى اللهِ تَعَالَى الْبِدَعُ، وَإِنَّ مِنَ اْلبِدَعِ اْلاِعْتِكَافُ فِي الْمَسْجِدِ الَّتِيْ فِي الدُوْرِ
"Hal yang paling dibenci oleh Allah adalah bid'ah, dan diantara perbuatan yang termasuk dalam perbuatan bid'ah adalah beri'tikaf di masjid dengan membuat lingkaran." (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra 4/316).
Kita yang mengaku ahlussunnah hendaklah jangan membiarkan muncul, tumbuh dan berkembangnya bid'ah, karena kalau bid'ah dibiarkan tumbuh dan berkembang akan mematikan sunnah.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ
“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (HR. Ath-Thabrani).
Akhirnya, nasehat kepada ikhwah semua, ikutilah sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam, karena sunnah sudah cukuo, tidak perlu lagi menambah-nambah dengan perkara bid'ah. Beragama itu hanya copy paste, apa yang dicontohkan nabi dan para sahabatnya kita ikuti, jangan membuat yang baru.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
“Ikutilah oleh kalian, janganlah kalian membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Ath-Thabrani).
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Dari zaman ke zaman senantiasa ada orang atau sekelompok orang yang senantiasa mengajak kepada prilaku bid'ah yang mereka bungkus dengan nama agama, untuk menipu umat. Mereka bungkus dan mereka poles batilnya bid'ah dengan sedikit kebenaran. Akhirnya banyak yang mengikutinya karena tipuannya.
Berkata Al-Alamah SyaikhShalih Al-Fauzan hafidzohullôh :
" الباطل لو كان مكشوفا ما قبله أحد، لكن إذا غطي بشيء من الحق، فأنه يقبله كثير من الناس " [ شرح كشف الشبهات ٥٦ ]
"Kebatilan apabila jelas tampak kebatilannya, tidak akan ada yang menerimanya seorangpun, akan tetapi jika dipoles dengan sesuatu dari al-haq, maka tertipulah ( menerimalah) kebanyakan dari manusia." [ Syarah Kasyfu Syubhat 56 ]
Maka hendaklah kita pelajari dan perhatikan apakah para sahabat mengamalkannya atau tidak, kalau mereka mengamalkan, kita amalkan, kalau tidak, berarti itu perkara baru, perkara bid'ah, maka kita tinggalkan.
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, tentang penafsiran surah Al.Ahqaf ayat 11 :
َ
لو كان خيرا ما سبقونا إليه ) وأما أهل السنة والجماعة فيقولون في كل فعل وقول لم يثبت عن الصحابة : هو بدعة ; لأنه لو كان خيرا لسبقونا إليه ؛ لأنهم لم يتركوا خصلة من خصال الخير إلا وقد بادروا إليها .
Kalau sekiranya dia (Al-Qur'an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. (QS. Al-Ahqaf: 11).
Adapun golongan ahlussunnah wal jamaah mengatakan tentang semua perbuatan dan ucapan yang tidak terbukti bersumber dari para sahabat berarti hal itu adalah bid'ah. Karena sesungguhnya seandainya hal itu baik, tentulah mereka mendahului kita beriman kepadanya, karena sesungguhnya tiada suatu perkara kebaikan pun yang mereka biarkan melainkan mereka (para sahabat) bersegera mengerjakannya. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Ahqaf 11).
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata:
إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كَتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ (رواه اللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة 1/97)
"Kalian akan menemui golongan-golongan yang mengaku mengajak kalian kepada kitabullah, padahal mereka menaruhnya dibelakang punggung mereka. Maka kalian harus berilmu dan janganlah berbuat bid'ah, janganlah berlebih-lebihan dalam beramal ataupun perkataan dan berpeganglah kepada para pendahulu (salaf) (HR. Al-Lalika'iy, Syarhu Ushuli I'tiqodi Ahlis Sunnah wal Jama'ah 1/97).
Karena tipu daya ahlul bid'ah ini sangat dahsyat dan gerakannya begitu masif, maka kita jangan berhenti untuk membantahnya demi menyelamatkan umat dari kesesatan.
Berkata Al 'Allamah Rabi' Al Madkhaliy hafizhahullah :
« والله يعلم إننا لا نرد على أهل البدع إلا لإنقاذ الـمخدوعين والمغـرورين بأهل البدع والبـاطل » .
[ "الــمجموع" (٣٢٠/٥) ] .
"Dan Allah mengetahui bahwasanya tidaklah kita membantah ahlu bid'ah melainkan untuk menyelamatkan orang-orang yang terpedaya dan tertipu dengan ahlu bid'ah dan ahlu bathil." Al Majmu' 5/320
Perbuatan bid'ah dalam perkara agama lebih disukai iblis dari pada pelaku maksiat. Karena pelaku maksiat, seperti pezina, peminum khamar, penjudi dan yang lainnya, mereka tahu bahwa perbuatannya itu tidak baik, sehingga mereka lebih mudah bertaubat. Sedangkan pelaku bid'ah merasa bahwa amalannya itu benar, sehingga mereka susah menerima kebenaran dan susah bertaubat, kecuali yang Allah Ta'ala berikan hidayah.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata:
الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ اْلمَعْصِيَّةِ. اْلمَعْصِيَّةُ يُتَابُ مِنْهَا وَاْلبِدْعَةُ لاَيُتَابُ مِنْهَا (شرح أصول الإعتقاد أهل السنة والجماعة للكائي 1/132)
"Perbuatan bid'ah itu lebih disukai iblis dari pada perbuatan maksiat, karena yang melakukan maksiat akan bertaubat dari kemaksiatannya sementara orang yang melakukan bid'ah tidak akan bertaubat dari kebid'ahannya." (Syarh Ushulil I'tiqadi Ahli Sunnah wal Jama'ah, Al-Lalikaiy 1/132)
Berkata Syekh Shaleh Al Fauzan hafidzahullah:
ومن وجوه كون البدعة شرا من الكبيرة أن المبتدع يفتري على اللّٰه الكذب ويقول: هذا شرع, هذا دين, هذا فيه أجر وثواب فهو يفتري على اللّٰه الكذب، بخلاف العاصي فإنه لا يدعي أن هذا دين، لأنه يعرف أنه عاص، أما المبتدع فهو يفتري على اللّٰه الكذب حيث يقول:
إن هذا من الدين، وإن هذا يقرب من اللّٰه سبحانه وتعالى، ثم إن العاصي لا يقتدى به، بل الناس يذمونه، بخلاف المبتدع فإنه يقتدى به الناس ويتعبدون ببدعته، فالناس يغترون به ويقتدون به في بدعه، بخلاف الزاني وشارب الخمر، فهذه كبائر، و الناس لا يقتدون بفاعلها، بل يمقتونه ويذمونه، فهذا أيضا من وجوه كون البدعة شرا من الكبيرة. وكذلك المبتدع يحتمل وزره و وزر من اقتدى به يوم القيامة، لأنه قدوة يقتدي به الناس، يظنون أنه على حق، وأن فعله عمل طيب، خصوصا إذا كان يدعو إلى البدعة و يحسنها، فإنه يتحمل وزره و وزر من اقتدى به واتبعه، هذا خطر عظيم.
Dan yang menjadi sebab bahwa keadaan bid'ah lebih jelek ancamannya dari dosa dosa besar, bahwa bid'ah mengada adakan kedustaan atas nama Allah ta'ala, dan mereka pelaku kebid'ahan mengatakan: ini adalah syari'at, ini dari agama dan didalamnya ada balasan dan pahala, maka ia mengadakan kedustaan atas nama Allah ta'ala.
Berbeda dengan pelaku kemaksiatan mereka sesungguhnya tidak menyeru mengatas namakan bahwa ini adalah agama, dan mereka pelaku kemaksiatan mengetahui bahwa ia melakukan kemaksiatan. Adapun pelaku kebid'ahan maka ia mengada adakan kedustaan Atas nama Allah ta'ala, Mereka mengatakan, sesungguhnya ini dari agama, dan sesungguhnya ini mendekatkan diri kepada Allah Subhana wata'ala. Kemudian pelaku kemaksiatan tidak diikuti dengan kemaksiatannya, bahkan manusia mencela kemaksiatannya, berbeda dengan pelaku kebid'ahan karena ia diikuti oleh manusia dan mereka beribadah dengan kebid'ahannya. Maka ia lebih jelek ancamannya dari dosa dosa besar, maka manusia tertipu dengan kebid'ahannya dan mereka mengikuti didalam kebid'ahannya tersebut. Berbeda dengan pelaku zina, dan peminum khamer, maka ini adalah dosa besar, dan manusia tidak mengikuti pelaku dosa dosa besar tersebut. bahkan mereka membencinya dan mencelanya, maka ini juga yang nampak terlihat bahwa kebid'ahan lebih jelek ancamannya dari dosa dosa besar.
Begitu juga pelaku kebid'ahan dia memikul dosa dosa dari dosa orang yang mengikuti kebid'ahannya sampai hari kiamat. Karena sesungguhnya pelaku kebid'ahan ia merupakan contoh bagi manusia (yang mengikutinya), dia menyangka bahwa ia diatas kebenaran bahwa perbuatannya amalan yang baik, terkhusus lagi jika ia terbukti menyeru kepada kebid'ahannya dan ia menghiasi kebid'ahannya tersebut, maka ia memikul dosa dari dosa dosa orang yang mengikutinya (dalam kebid'ahan) dan mencontohnya dan ini adalah perkara bahaya yang sangat besar sekali. Wallahua'lam. Kitab Syarah Fadhlul Islam Asy Syaikh Sholeh Fauzan Hafizhohulloh.
Sungguh kebaikan itu hanya dalam mengikuti apa-apa yang telah diamalkan para salaf, bukan membuat perkara baru.
Di dalam beragama itu hanya copy paste, apa yang di naskan dalam alquran dan as sunnah serta di amalkan para salaf, maka kita ikuti. Tidak perlu kreativitas, tidak perlu inovasi, tidak perlu kolaborasi, tidak perlu buat perkara baru (bid'ah), agama sudah sempurna, tinggal mengikuti.
Berkata Al Imam Ibnu Baz rahimahullah:
كل الخير في الاتباع كل الشر في الابتداع
Setiap kebaikan ada di dalam mengikuti dan setiap keburukan ada di dalam perkara baru. Majmu' Fatawa 16/274.
Pelaku bid'ah ini lebih bersungguh-sungguh mengamalkan kebid'ahannya dari pada amalan yang disyariatkan dan amalan yang disunnahkan. Contoh kecil misalkan ketika ada perayaan-perayaan hari besar islam (menurut mereka) seperti maulid nabi, isro miraj dan lain sebagainya mereka memenuhi masjid, namun ketika shalat jamaah, masjid langsung kosong.
Semakin mereka bersungguh-sungguh dalam kebid'ahannya, mereka semakin jauh dari syariat Allah dan Rasulnya.
Ayub As-Sikhtiyani rahimahullah berkata:
مَازْدَادُ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اجْتِهَادًا إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْدًا (الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع، للإمام السيوطي : 66)
"Tidaklah seorang yang melakukan bid'ah semakin bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kebid'ahannya melainkan ia akan semakin jauh dari Allah." (Al-Amru bil Ittiba' wan Nahyu 'Anil Ibtida', Imam As-Suyuti, hal. 66)
Mereka senantiasa bersemangat mengamalkan kebid'ahannya karena mereka merasa bahwa amalannya benar, amalannya diterima dan amalannya tidak keliru. Namun walaupun demikian, bid'ah tetap bid'ah walaupun dihiasi dengan apapun dan bid'ah tetap sesat walaupun orang-orang mengatakan itu baik.
Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٍ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً (المدخل إلى السنن الكبرى للبيهقي رفم : 191)
"Setiap bid'a itu adalah sesat, sekalipun orang-orang memandang hal itu tampak baik." (Al-Madkhol ilas Sunanil Kubra, Al-Baihaqi, no. 191)
Kalau pelaku bid'ah itu tetap saja memandang baik amalan bid'ahnya, berarti mereka telah menuduh bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak mengajarkan islam semuanya. Mereka telah menuduh beliau khianat terhadap risalah.
Imam Malik rahimahullah berkata:
مَنِ ابْتَدَعَ فِيْ اِلإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعِمَ أَنَّ مُحَمَّدًا خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: (الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا) فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنًا فَلاَيَكُنِ اْليَوْمَ دِيْنًا
"Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu bid'ah dia melihatnya sebagai suatu kebaikan maka dia telah menuduh Muhammad menghianari risalah, karena Allah telah berfirman: "Pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku ridhoi Islam menjadi agamamu." Maka sesuatu yang bukan termasuk ajaran agama pada hari itu (saat hidup Rasul), bukan pula termasuk ajaran agama pada hari ini." (Dakwatul Kholaf Ila Thoriqis Salaf, Muhammad bin Ali bin Ahmad Bafadhl, hal.)
Mungkin ada yang berkata tentang suatu amalan yang tidak ada sunnahnya dengan alasan orang-orang yang berilmu (kyai, habaib, ustadz, tuan guru) mengamalkan dan mengajarkannya, mereka juga kitabnya banyak, masa mereka salah?
Siapa pun mereka, kalau mereka menyelisihi alquran dan as sunnah, mereka ahlul bid'ah yang tidak perlu diikuti.
Berkata Al Imam Al Barbahari rahimahullah:
ومن خالف الكتاب و السنة فهو صاحب بدعة و ان كان كثير العلم و الكتب
Dan barangsiapa menyelisihi al kitab (al quran) dan as sunnah maka dia adalah pelaku bid'ah, walaupun ilmu dan kitab-kitabnya banyak. Syahrus Sunnah hal 104.
Berkata Syekh Shaleh Al Fauzan hafidzahullah:
من انحرف عن طريقة الرسول صلى عليه وسلم فإنه لا يتبع ولا يقتدي به ولو كان عالما
Barangsiapa yang menyimpang dari jalan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam maka sesungguhnya dia tidak boleh diikuti dan tidak boleh ditiru walaupun dia seorang yang 'alim. Ahamiyyatut Tauhid 36.
Beramal dengan amalan sunnah biar sedikit itu lebih baik dari pada banyak tapi bid'ah. Misalkan membaca istighfar sehari seratus kali lebih baik dari pada baca tahlil (laa ilaaha illallah) 1000 kali dalam sehari. Lebih baik baca quran setengah halaman dari pada membaca barjanji satu buku. Lebih baik baca shalawat nabi 1 kali dari pada baca shalawat nariyah 4444 kali.
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata:
الْقَصْدُ فِي السُنَّةِ خَيْرٌ مِنَ اْلإِجْتِهَادِ فِي اْلبِدْعَةِ (رواه الدارمي، رقم : 223)
"Sederhana dalam Sunnah lebih baik dari pada bersungguh dalam masalah bid'ah." (HR. Ad-Darimi. Berkata Al-Hakim : Hadits Shahih).
Untuk itu, agar kita tidak terjerumus ke dalam perkara bid'ah, maka kita harus mempelajari sunnah dan mempelajari apakah para salaf terdahulu mengamalkan atau tidak, bukan melihat nenek moyang amalkan atau tidak. Karena usaha yang pertama kali iblis lakukan adalah menghalang-halangj manusia dari ilmu.
Al ‘Allamah Ibnul Jauzi rahimahullaahu berkata,
اعلم أن أول تلبيس إبليس على الناس صدهم عن العلم؛ لأن العلم نور فإذا أطفأ مصابيحهم خبطهم في الظلام كيف شاء.
“Ketahuilah bahwasanya tipu daya iblis yang pertama kali mereka lancarkan kepada umat manusia adalah usahanya untuk menghalangi mereka dari ilmu, kerana ilmu adalah cahaya. Apabila iblis telah mematikan cahaya mereka, maka dia mampu memukulnya (menyesatkannya) di dalam kegelapan sekehendak dia.” (Talbisu iblis: 1/289).
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu anhu berkata:
إِنَّكُمْ سَتَجِدُوْنَ أَقْوَامًا يَزْعُمُوْنَ أَنَّهُمْ يَدْعُوْنَكُمْ إِلَى كَتَابِ اللهِ وَقَدْ نَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّبَدُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّنَطُّعَ وَإِيَّاكُمْ وَالتَّعَمُّقَ وَعَلَيْكُمْ بِالْعَتِيْقِ (رواه اللالكائي في شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة 1/97)
"Kalian akan menemui golongan-golongan yang mengaku mengajak kalian kepada kitabullah, padahal mereka menaruhnya dibelakang punggung mereka. Maka kalian harus berilmu dan janganlah berbuat bid'ah, janganlah berlebih-lebihan dalam beramal ataupun perkataan dan berpeganglah kepada para pendahulu (salaf) (HR. Al-Lalika'iy, Syarhu Ushuli I'tiqodi Ahlis Sunnah wal Jama'ah 1/97).
Perbuatan bid'ah merupakan perbuatan yang sangat dibenci Allah Ta'ala, maka hendaklah kita menjauhinya. Untuk itu hendaklah kita memegang kuat-kuat sunnah.
Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata:
إِنَّ أَبْغَضُ اْلأُمُوْرِ إِلَى اللهِ تَعَالَى الْبِدَعُ، وَإِنَّ مِنَ اْلبِدَعِ اْلاِعْتِكَافُ فِي الْمَسْجِدِ الَّتِيْ فِي الدُوْرِ
"Hal yang paling dibenci oleh Allah adalah bid'ah, dan diantara perbuatan yang termasuk dalam perbuatan bid'ah adalah beri'tikaf di masjid dengan membuat lingkaran." (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra 4/316).
Kita yang mengaku ahlussunnah hendaklah jangan membiarkan muncul, tumbuh dan berkembangnya bid'ah, karena kalau bid'ah dibiarkan tumbuh dan berkembang akan mematikan sunnah.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ
“Setiap tahun ada saja orang yang membuat bid’ah dan mematikan sunnah, sehingga yang hidup adalah bid’ah dan sunnah pun mati.” (HR. Ath-Thabrani).
Akhirnya, nasehat kepada ikhwah semua, ikutilah sunnah nabi shallallahu alaihi wa sallam, karena sunnah sudah cukuo, tidak perlu lagi menambah-nambah dengan perkara bid'ah. Beragama itu hanya copy paste, apa yang dicontohkan nabi dan para sahabatnya kita ikuti, jangan membuat yang baru.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ
“Ikutilah oleh kalian, janganlah kalian membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Ath-Thabrani).
Komentar
Posting Komentar