Penghapus Pahala
BEBERAPA AMALAN PENGHAPUS PAHALA
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Amal ibadah seorang muslim selama di dunia, Allah Ta’ala senantiasa perhitungkan. Apapun amal ibadah yang disyariatkan, Allah Ta’ala pasti berikan ganjaran dan pahalanya. Hal inilah yang membuat seorang muslim termotivasi untuk melakukannya. Mereka saling berlomba untuk mendapatkan pahala yang sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya.
Namun harus diingat pula, bahwa pahala dan ganjaran tersebut sewaktu-waktu akan hilang dan lenyap berterbangan seperti debu tanpa sisa.
Hilang dan lenyapnya pahala yang kita dapati dikarenakan melakukan perkara-perkara yang menyebabkan hangusnya pahala tersebut. Diantaranya :
Pertama, Syirik Akbar (Syirik Besar).
Orang yang menyekutukan Allah Ta’ala, dengan menyembah dan beribadah kepada selain-Nya, akan menyebabkan hilang dan lenyapnya pahala. Menyembah dan beribadah yang ditujukan kepada selain Allah adalah suatu kesyirikan, baik itu ruku dan sujud kepada selain Allah, berdoa, berkurban dan bernazar kepada selain Allah,bertawaf bukan mengelilingi ka'bah, tetapi bertawaf di tempat yang lain seperti kuburan, batu atau pohon, bertawasul atau berwasilah yang tidak disyariatkan dan lain sebagainya. Perkara-perkara inilah yang menyebabkan hangus dan lenyapnya seluruh ganjaran dan pahala yang mereka punyai.
Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ .
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az Zumar : 65).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُون
َ
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah,niscaya hapuslah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan (QS. Al An’am : 88).
2. Kedua Syirik Kecil (Riya).
Di dalam beramal ibadah selain mencontoh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, juga harus didasari keikhlasan karena Allah Ta’ala semata, agar diterima apa yang diamalkan. Ini merupakan syarat diterimanya amal ibadah.
Ibadah karena didasari ingin dilihat dan ingin didengar oleh manusia, jatuh pada perbuatan riya. Dan riya tergolong syirik kecil. Perbuatan riya inilah yang menyebabkan amalan tidak diterima. Tetapi bedanya dengan syirik besar, syirik besar menghapuskan seluruh pahala, tetapi syirik kecil hanya menghapus pahala yang ketika mengamalkan suatu amalan disertai riya, sedangkan amalan lain yang ikhlas karena Allah tidak terhapuskan.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِين.
َ
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. Al Baqarah : 264).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ ، يَقُوْلُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزاَءً ؟!
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” [HR Ahmad dan Ibnu Majah. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Shahih di Ash Shahih Al Jami').
Ketiga, Menyebut-Nyebut Kebaikan dan Menyakiti Hati Si Penerima.
Betapa banyak kaum muslimin yang menyumbangkan hartanya, baik kepada perorangan maupun kepada yayasan panti asuhan atau kepada lembaga-lembaga amal. Atau mungkin membantu pembangunan pesantren, madrasah, masjid dan lain sebagainya. Namun karena sesuatu lain hal, mungkin karena kecewa, kurang dihormati, diremehkan, disepelekan dan lain sebagainya, akhirnya marah, berang, dan mengungkit-ngungkit serta menyebut-nyebut permberian yang telah diberikannya, maka seketika hapus dan lenyaplah amalnya.
Atau mungkin karena dia memberi sesuatu sumbangan, kemudian dia menyakiti hati si penerima, maka inipun menghapuskan pahala. Misalkan ada seorang pengemis datang ke rumahnya, diberikanlah sejumlah uang, namun dibarengi dengan caci maki. Maka hal ini akan menghapuskan pahala dari pemberiannya.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِين
َ
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqoroh : 264).
Keempat, Kafir Kepada Ayat-Ayat Allah.
Orang-orang yang tidak mempercayai ayat-ayat Allah dan mengingkari perjumpaan dengan Allah di akhirat kelak, akan menghapuskan pahala dan ganjarannya. Baik itu mengingkari keseluruhan, sebagian atau satu ayat saja dari al Qur’an, maka lenyaplah amal-amalnya.
Allah Ta’ala berfirman :
أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنً
ا
Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. Al Kahfi :: 105).
Kelima, Tidak Menerima Hukum Islam.
Ada sebagian orang yang menolak hukum-hukum Allah diterapkan. Mereka menganggap hukum Islam itu tidak adil, barbar, ortodok, ketinggalan zaman, dan bentuk penghinaan lainnya terhadap hukum islam, maka keyakinan seperti ini akan menghapuskan pahala dan ganjaran yang dimilikinya. Bahkan bisa mengeluarkan dari Islam.
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِين
َ
Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (Al Maidah : 5).
Keenam, Membenci Apa Yang Allah Turun-kan, Baik Al Qur’an Maupun As Sunnah.
Benci terhadap apa yang Allah turunkan berupa ayat-ayat al-Qur’an dan berupa sunnah Nabi yang Allah kabarkan kepada NabiNya, ini salah satu sebab terhapuskannya amalan dan lenyapnya pahala dan ganjaran.
Kebencian dan keetidaksukaannya terhadap ayat-ayat Al Qur’an telah melumuri nuraninya. Hatinya tertutup untuk menerima dengan senang dan gembira dengan ayat-ayat Allah. Hal ini penyebab hangusnya amalan yang dimilikinya.
Allah Ta'ala berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ.
Yang demikian itu adalah karena sesung-guhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka (Muhammad : 9).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالهمُ
ْ
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad : 28).
Ketujuh, Menghalang-Halangi Dari Jalan Allah.
Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berdakwah, mereka orang-orang kafir Quraisy menghalang-halangi manusia untuk mendengarkan dan mengikutinya. Mereka cegah manusia untuk mendatangi majlisnya. Mereka sangat benci dan sangat memusuhi Rasulullah, sehingga mereka berusaha keras untuk mencegah manusia agar tidak mendengar dari seruannya.
Bahkan bukan hanya mencegah manusia untuk mendapat hidayah, mereka sebarkan fitnah yang macam-macam dan menggelari dengan gelar yang tidak pantas. Disebut penyihir, orang gila, pemecah belah dan lain sebagainya. Ini semua dilakukan untuk mencegah manusia mendengar dakwah dan ajakkannya.
Demikian pula orang-orang di zaman kini, yang menghalang-halangi manusia untuk mendapatkan hidayah, mereka menyebarkan berita-berita bohong dan fitnah yang bermacam-macam kepada dai yang mendakwahkan kebenaran agar mereka tidak mendengarkan dakwahnya.
Padahal dakwah mereka sebagaimana dakwah yang nabi shallallahu alaihi sallam sampaikan. Mereka menyeru kepada tauhid dan mencegah dari syirik dan bid’ah. Mencegah berbuat tahayul dan kurafat. dan apa-apa yang berkaitan dengan tauhid.
Sikap yang suka mencegah, menghalang-halangi manusia untuk mendapatkan petunjuk Allah, maka hal ini akan menghapuskan amal-amalanya. Menghapuskan pahala dan ganjarannya.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَشَاقُّوا الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَالَهُم
ْ
Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad : 32).
Kedelapan, Keluar Dari Islam.
Keluar dari Islam, merupakan perkara yang sangat besar bagi agama Islam. Perkara yang menyebabkan pelakunya dihukum mati oleh negara yang berhukun dengan hukum Allah. Perkara ini pula yang menyebabkan amalan-amalannya terhapus, dan kalau tidak bertaubat kembali kepada Islam, akan dimasukkan kedalam neraka dan kekal di dalamnya.
Allah Ta’ala Berfirman :
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.
Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah : 217).
Mudah-mudahan kita terhindar dari perbuatan-perbuatan tersebut yang menyebabkan lenyap dan hapusnya amalan-amalan dan hangusnya pahala dan ganjaran. Sudah barang tentu kita menjadi orang yang merugi di akhirat kelak. Kita sudah menyangka amal-amal kita banyak, kita sudah shalat, puasa, berzakat, dan lain-lain sejak lama, bahkan sejak kecil, ditambah pula haji berkali-kali, teryata hilang dan lenyap gara-gara kita melakukan perkara-perkara di atas. Sungguh kita menjadi orang-orang yang merugi.
Janganlah kita seperti orang-orang kafir, yang amalannya seperti debu yang berterbangan atau seperti fatamorgana, sia-sia amal baik yang kita lakukan di dunia ini.
Allah Ta’ala Berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al Furqon : 23).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ.
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. (QS. An Nur : 39).
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Amal ibadah seorang muslim selama di dunia, Allah Ta’ala senantiasa perhitungkan. Apapun amal ibadah yang disyariatkan, Allah Ta’ala pasti berikan ganjaran dan pahalanya. Hal inilah yang membuat seorang muslim termotivasi untuk melakukannya. Mereka saling berlomba untuk mendapatkan pahala yang sebesar-besarnya dan sebanyak-banyaknya.
Namun harus diingat pula, bahwa pahala dan ganjaran tersebut sewaktu-waktu akan hilang dan lenyap berterbangan seperti debu tanpa sisa.
Hilang dan lenyapnya pahala yang kita dapati dikarenakan melakukan perkara-perkara yang menyebabkan hangusnya pahala tersebut. Diantaranya :
Pertama, Syirik Akbar (Syirik Besar).
Orang yang menyekutukan Allah Ta’ala, dengan menyembah dan beribadah kepada selain-Nya, akan menyebabkan hilang dan lenyapnya pahala. Menyembah dan beribadah yang ditujukan kepada selain Allah adalah suatu kesyirikan, baik itu ruku dan sujud kepada selain Allah, berdoa, berkurban dan bernazar kepada selain Allah,bertawaf bukan mengelilingi ka'bah, tetapi bertawaf di tempat yang lain seperti kuburan, batu atau pohon, bertawasul atau berwasilah yang tidak disyariatkan dan lain sebagainya. Perkara-perkara inilah yang menyebabkan hangus dan lenyapnya seluruh ganjaran dan pahala yang mereka punyai.
Allah Ta’ala berfirman :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ .
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Az Zumar : 65).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُون
َ
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah,niscaya hapuslah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan (QS. Al An’am : 88).
2. Kedua Syirik Kecil (Riya).
Di dalam beramal ibadah selain mencontoh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, juga harus didasari keikhlasan karena Allah Ta’ala semata, agar diterima apa yang diamalkan. Ini merupakan syarat diterimanya amal ibadah.
Ibadah karena didasari ingin dilihat dan ingin didengar oleh manusia, jatuh pada perbuatan riya. Dan riya tergolong syirik kecil. Perbuatan riya inilah yang menyebabkan amalan tidak diterima. Tetapi bedanya dengan syirik besar, syirik besar menghapuskan seluruh pahala, tetapi syirik kecil hanya menghapus pahala yang ketika mengamalkan suatu amalan disertai riya, sedangkan amalan lain yang ikhlas karena Allah tidak terhapuskan.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِين.
َ
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. Al Baqarah : 264).
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ ، يَقُوْلُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزاَءً ؟!
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” [HR Ahmad dan Ibnu Majah. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Shahih di Ash Shahih Al Jami').
Ketiga, Menyebut-Nyebut Kebaikan dan Menyakiti Hati Si Penerima.
Betapa banyak kaum muslimin yang menyumbangkan hartanya, baik kepada perorangan maupun kepada yayasan panti asuhan atau kepada lembaga-lembaga amal. Atau mungkin membantu pembangunan pesantren, madrasah, masjid dan lain sebagainya. Namun karena sesuatu lain hal, mungkin karena kecewa, kurang dihormati, diremehkan, disepelekan dan lain sebagainya, akhirnya marah, berang, dan mengungkit-ngungkit serta menyebut-nyebut permberian yang telah diberikannya, maka seketika hapus dan lenyaplah amalnya.
Atau mungkin karena dia memberi sesuatu sumbangan, kemudian dia menyakiti hati si penerima, maka inipun menghapuskan pahala. Misalkan ada seorang pengemis datang ke rumahnya, diberikanlah sejumlah uang, namun dibarengi dengan caci maki. Maka hal ini akan menghapuskan pahala dari pemberiannya.
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لَا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِين
َ
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqoroh : 264).
Keempat, Kafir Kepada Ayat-Ayat Allah.
Orang-orang yang tidak mempercayai ayat-ayat Allah dan mengingkari perjumpaan dengan Allah di akhirat kelak, akan menghapuskan pahala dan ganjarannya. Baik itu mengingkari keseluruhan, sebagian atau satu ayat saja dari al Qur’an, maka lenyaplah amal-amalnya.
Allah Ta’ala berfirman :
أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنً
ا
Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (QS. Al Kahfi :: 105).
Kelima, Tidak Menerima Hukum Islam.
Ada sebagian orang yang menolak hukum-hukum Allah diterapkan. Mereka menganggap hukum Islam itu tidak adil, barbar, ortodok, ketinggalan zaman, dan bentuk penghinaan lainnya terhadap hukum islam, maka keyakinan seperti ini akan menghapuskan pahala dan ganjaran yang dimilikinya. Bahkan bisa mengeluarkan dari Islam.
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِين
َ
Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi. (Al Maidah : 5).
Keenam, Membenci Apa Yang Allah Turun-kan, Baik Al Qur’an Maupun As Sunnah.
Benci terhadap apa yang Allah turunkan berupa ayat-ayat al-Qur’an dan berupa sunnah Nabi yang Allah kabarkan kepada NabiNya, ini salah satu sebab terhapuskannya amalan dan lenyapnya pahala dan ganjaran.
Kebencian dan keetidaksukaannya terhadap ayat-ayat Al Qur’an telah melumuri nuraninya. Hatinya tertutup untuk menerima dengan senang dan gembira dengan ayat-ayat Allah. Hal ini penyebab hangusnya amalan yang dimilikinya.
Allah Ta'ala berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ.
Yang demikian itu adalah karena sesung-guhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur'an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka (Muhammad : 9).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اتَّبَعُوا مَا أَسْخَطَ اللَّهَ وَكَرِهُوا رِضْوَانَهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالهمُ
ْ
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridaan-Nya; sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad : 28).
Ketujuh, Menghalang-Halangi Dari Jalan Allah.
Ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berdakwah, mereka orang-orang kafir Quraisy menghalang-halangi manusia untuk mendengarkan dan mengikutinya. Mereka cegah manusia untuk mendatangi majlisnya. Mereka sangat benci dan sangat memusuhi Rasulullah, sehingga mereka berusaha keras untuk mencegah manusia agar tidak mendengar dari seruannya.
Bahkan bukan hanya mencegah manusia untuk mendapat hidayah, mereka sebarkan fitnah yang macam-macam dan menggelari dengan gelar yang tidak pantas. Disebut penyihir, orang gila, pemecah belah dan lain sebagainya. Ini semua dilakukan untuk mencegah manusia mendengar dakwah dan ajakkannya.
Demikian pula orang-orang di zaman kini, yang menghalang-halangi manusia untuk mendapatkan hidayah, mereka menyebarkan berita-berita bohong dan fitnah yang bermacam-macam kepada dai yang mendakwahkan kebenaran agar mereka tidak mendengarkan dakwahnya.
Padahal dakwah mereka sebagaimana dakwah yang nabi shallallahu alaihi sallam sampaikan. Mereka menyeru kepada tauhid dan mencegah dari syirik dan bid’ah. Mencegah berbuat tahayul dan kurafat. dan apa-apa yang berkaitan dengan tauhid.
Sikap yang suka mencegah, menghalang-halangi manusia untuk mendapatkan petunjuk Allah, maka hal ini akan menghapuskan amal-amalanya. Menghapuskan pahala dan ganjarannya.
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَشَاقُّوا الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى لَنْ يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَسَيُحْبِطُ أَعْمَالَهُم
ْ
Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (QS. Muhammad : 32).
Kedelapan, Keluar Dari Islam.
Keluar dari Islam, merupakan perkara yang sangat besar bagi agama Islam. Perkara yang menyebabkan pelakunya dihukum mati oleh negara yang berhukun dengan hukum Allah. Perkara ini pula yang menyebabkan amalan-amalannya terhapus, dan kalau tidak bertaubat kembali kepada Islam, akan dimasukkan kedalam neraka dan kekal di dalamnya.
Allah Ta’ala Berfirman :
وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ.
Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Baqarah : 217).
Mudah-mudahan kita terhindar dari perbuatan-perbuatan tersebut yang menyebabkan lenyap dan hapusnya amalan-amalan dan hangusnya pahala dan ganjaran. Sudah barang tentu kita menjadi orang yang merugi di akhirat kelak. Kita sudah menyangka amal-amal kita banyak, kita sudah shalat, puasa, berzakat, dan lain-lain sejak lama, bahkan sejak kecil, ditambah pula haji berkali-kali, teryata hilang dan lenyap gara-gara kita melakukan perkara-perkara di atas. Sungguh kita menjadi orang-orang yang merugi.
Janganlah kita seperti orang-orang kafir, yang amalannya seperti debu yang berterbangan atau seperti fatamorgana, sia-sia amal baik yang kita lakukan di dunia ini.
Allah Ta’ala Berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS. Al Furqon : 23).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ.
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. (QS. An Nur : 39).
Komentar
Posting Komentar