Harta Kita Yang Sesungguhnya

HARTA KITA YANG SESUNGGUHNYA

Oleh : Abu Fadhel Majalengka

Seringkali orang teripu dengan gemerlapnya harta, dia sibukkan untuk menimbun pundi-pundi kekayaan sebanyak-banyaknya, seakan-akan itu miliknya.

Padahal harta miliknya yang sebenarnya hanyalah yang di makan sekarang, sedangkan makanan yang dia simpan ditempat-tampat penyimpanan belum tentu miliknya.

Pakaian yang dipakai, itulah miliknya, sedangkan yang di dalam lemari pakaian, belum tentu miliknya.

Dan harta lain yang sesungguhnya miliknya adalah yang diinfakkan kepada orang lain, bahkan ada yang menjadi investasi yang terus mengalir walaupun jasad sudah di dalam kubur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
,
ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱ
ِ
Seorang hamba berkata, hartaku, hartaku, sesungguhnya harta miliknya itu cuma tiga, yang ia makan dan akan lenyap, yang ia pakai dan akan usang dan yang diberikan (disedekahkan kepada orang lain), itulah harta yang ia miliki sebenarnya.  Harta selain itu akan pergi dan ditinggalkan untuk manusia. (HR. Muslim).

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia berikan, itulah yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan.” (HR. Muslim).

Jika harta yang dimiliki dibiarkan dinikmati sendiri, Allah Ta'ala akan sumbat dan akan tahan aliran rizkinya. Allah Ta'ala akan persulit turunnya karunia yang lebih banyak lagi.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تُوكِي فيُوكَى عليكِ). رواه البخاري

"Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa menyedekahkannya), jika tidak maka Allah akan menahan rizki untukmu" (HR. Bukhari. Dari Asma binti Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhuma).

Disamping akan ditahan rizkinya, juga harta yang dimilikinya akan keluar lewat jalan lain. Mungkin habis untuk berobat, kecurian, kebakaran dan lain sebagainya. Ibarat air yang mengalir deras dalam pipa, lantas tidak dibuka salah satu krannya, maka air akan memecahkan pipa atau merusak kran.

Allah Ta'ala juga menggolongkan orang-orang yang kikir, orang-orang yang bakhil, yang tidak mau mengeluarkan hartanya di jalan Allah sebagai orang-orang yang sombong dan mereka akan disiksa di dunia dan di akhirat.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا.  الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. (QS. An Nisa 36-37)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran : 180).

Sebaliknya harta dunia yang kita sedekahkan, akan menjadi penghalang diri kita masuk ke dalam neraka. Bahkan bersedekah dengan hanya sepotong kurma saja, akan mencegah dari api neraka, apalagi lebih dari hanya sepotong kurma.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  bersabda:

اِتَّقُوْا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Berlindunglah kalian dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) sepotong kurma” (HR. Bukhari Muslim).)

Kadang orang berfikir, kalau harta disedekahkan akan berkurang, padahal justru akan membuka pintu-pintu rizki lainnya, karena orang yang menerima sedekah senantiasa mendoakanya agar Allah Ta'ala membalasnya dengan balasan yang berlipat ganda. Bahkan walaupun mereka tidak mendoakannya, pasti sungguh pasti harta tidak akan berkurang, justru akan bertambah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا  نَقَصَتْ  صَدَقَةٌ مِنْ  مَالٍ  وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا .( رواه مسلم).

Harta yang dishadaqahkan tidak akan berkurang. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ  قَرْضًا  حَسَنًا  يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ. (الحديد : 18).

Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. (QS. Al Hadid : 18).

Mencari harta dunia tidak ada larangannya, bahkan itu perintah Allah dan RasulNya, yang penting dunia ditangan kita, bukan dihati kita dan dunia tidak melalaikan dari mengingat Allah. Misalkan ketika berniaga, lantas adzan dikumandangkan, segera tutup kios-kios dan bersegera ke masjid untuk shalat berjamaah.

Allah Ta'ala berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. (QS. An Nur : 37).

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah:

Yakni mereka lebih mendahulukan ketaatan kepada Allah dan perintah Allah serta apa yang disukai oleh-Nya:

Hasyim telah meriwayatkan dari Syaiban; ia menceritakan sebuah hadis dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu, bahwa ia melihat suatu kaum dari kalangan ahli pasar saat dikumandangkan seruan untuk menunaikan salat fardu. Maka mereka meninggalkan jual beli mereka, lalu bangkit menuju tempat salat untuk menunaikan salat. Maka Abdullah ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu  berkata bahwa mereka termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Allah Ta'ala. melalui firman-Nya: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah. (An-Nur: 37), hingga akhir ayat.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Amr ibnu Dinar Al-Qahramani, dari Salim, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma, bahwa ketika ia berada di sebuah pasar dan seruan untuk salat dikumandangkan, maka mereka menutup kios-kios mereka, lalu masuk ke dalam masjid (untuk menunaikan salat). Maka Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata sehubungan dengan sikap mereka itu, bahwa berkenaan dengan orang-orang seperti merekalah ayat ini diturunkan, yaitu firman Allah Ta'ala.: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah. (An-Nur: 37). (Tafsir Ibnu Katsir Surah An Nur 37).

Berkata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah :

خذ من الدنيا ما يحل لك، ولا تنسَ نصيبك منها، ولكن اجعلها في يدك ولا تجعلها في قلبك، وهذا هو المهم. شرح رياض الصالحين ٣٦٩/٣

“Ambillah dari dunia ini apa yang halal untukmu, jangan kau lupakan bagianmu dari dunia. Namun jadikanlah dunia itu berada di tanganmu saja, jangan kau jadikan berada di dalam hatimu. Ini yang terpenting.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 3/369).

Kalau dunia sudah melalaikan dari mengingat Allah, maka ini kerugian yang sangat nyata. Adzan dikumandangkan tetap dengan kesibukannya, tidak beranjak dari pekerjaannya dan tidak meninggalkan perniagaannya.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al Munfiqun : 9).

Mencari karunia Allah sebanyak-banyaknya dipersilahkan dan memang itu perintah Allah dan RasulNya selama itu halal, karena banyak ajaran islam yang tidak bisa kita amalkan tanpa adanya harta dunia.

Bersedekah, berinfak dan berzakat perlu harta dunia. Umroh dan haji perlu harta dunia. Berqurban dan haqikah perlu harta dunia. Menikah dan menikah lagi perlu harta dunia dan lain sebagainya. Yang terpenting bagi kita, dunia tidak melalaikan dan tidak memabukkan, sampai-sampai ibadah dan kewajiban lainnya pun terlupakan.

Allah Ta'ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. Al Jumuah 10).

Kita mencari dunia, niatkan untuk akhirat. Kalau ini menjadi tujuan kita, maka dunia yang akan mengejar kita, dunia akan datang kepada kita dan dunia akan tunduk kepada kita. Namun sebaliknya kalau niatnya untuk memenuhi ambisi kita, maka kita akan hancur dan menderita.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ

Barangsiapa yang dunia adalah ambisinya, maka Allah akan menghancurkan kekuatannya, menjadikan kemiskinan di depan matanya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah Allah takdirkan. Dan barangsiapa akhirat adalah tujuannya, maka Allah akan menguatkan urusannya, menjadikan kekayaannya pada hatinya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (HR Ibnu Majah. Berkata Syekh Al Albani: Hadits Shahih).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KENAPA KAMU DIAM?

SOLUSI MENCEGAH BENCANA

Kehidupan Yang Baik