Mengganti Shalat Sunnah
MENQADHA (MENGGANTI) SHALAT SUNNAH
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Ada beberapa shalat sunnah yang apabila kita luput mengerjakannya, disunnahkan untuk menggantinya (mengqadhanya). Diantara shalat-shalat sunnah tersebut adalah:
Pertama, Mengganti Shalat Sunnah Fajar.
Apabila kita tidak sempat shalat sunnah fajar, mungkin karena terlambat bangun atau terlambat datang ke masjid sedangkan muadzin sudah iqomah, maka kita ganti setelah shalat subuh, setelah terbit matahari.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ (رواه الترمذي وابن حِبَّان و البيهقي. قال الشيخ الألباني : صحيح ).
Barangsiapa yang belum shalat sunnah fajar 2 rakaat, maka hendaklah shalat setelah terbitnya matahari. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Hiban dan Al Baihaqi. Berkata Syekh Al Albani : Hadits shahih).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ نَامَ عَنْ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ ، فَقَضَاهُمَا بَعْدَ مَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ. )رواه ابن حِبَّان. قال الشيخ الألباني : صحيح(.
Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur dari 2 rakaat shalat fajar, maka Beliau menggantinya setelah terbit matahari. (HR. Ibnu Hiban. Berkata Syekh Al Albani : Hadits shahih).
Kedua, Mengganti 4 Rakaat Sebelum Dzuhur.
Bila kita tidak sempat melaksanakan shalat sunnah dzhuhur 4 rakaat, maka diganti setelah shalat dzuhur.
Berkata Aisyah radhiyallahu anha :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلاَّهُنَّ بَعْدَهَا. (رواه الترمذي. قال الشيخ الألباني : حسن).
Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila Beliau tidak shalat sunnah 4 rakaat sebelum dzuhur, maka shalat sunnah 4 rakaat sesudahnya. (HR. Tirmidzi. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Hasan).
Ketiga, Mengganti 2 Rakaat Setelah Ashar.
Jika shalat sunnah sebelum ashar 2 rakaat tidak sempat dilakukan, disunnahkan menggantinya setelah shalat ashar.
Berkata Aisyah radhiyallahu ‘anha :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّيهِمَا قَبْلَ الْعَصْرِ ثُمَّ إِنَّهُ شُغِلَ عَنْهُمَا أَوْ نَسِيَهُمَا فَصَلاَّهُمَا بَعْدَ الْعَصْرِ. (رواه مسلم).
Beliau (Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) shalat sunnah 2 rakaat sebelum ashar, kemudian apabila disibukkan atau lupa, Beliau ganti setelah shalat ashar. (HR. Muslim).
Lantas bagaimana dengan dalil larangan shalat sesudah subuh dan setelah ashar. Maka larangan secara umum, dikhususkan dengan dalil yang khusus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sesuatu, kemudian ada dalil khusus untuk pembolehan, maka ini tidak terlarang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan amalan tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ. (رواه متفق عليه).
Tidak ada shalat setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari dan tidak shalat setelah ashar sampai terbenamnya matahari. (HR. Bukhari Muslim).
Berkata Abu Hurairah radhiyallahu anhu :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَعَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. (رواه متفق عليه).
Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat setelah ashar sampai tenggelamnya matahari dan shalat setelah subuh sampai terbitnya matahari. (HR. Bukhari Muslim).
Kemudian dalil khusus tentang bolehnya shalat sunnah setelah ashar diantaranya :
Berkata Aisyah radhiyallahu anha :
مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ عِنْدِى قَطّ
ُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah meninggalkan dua raka’at sesudah ‘Ashar di sisiku sama sekali.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan berkata ‘Aisyah radhiyallahu anha:
صَلاَتَانِ مَا تَرَكَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى بَيْتِى قَطُّ سِرًّا وَلاَ عَلاَنِيَةً رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْر
ِ
“Ada dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahku sama sekali baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan yaitu dua rakaat qabliyah fajar dan dua rakaat ba’diyah ‘Ashar.” (HR. Bukhari, dan Muslim).
Dalil-dalil ini menunjukkan sunnahnya shalat sunnah setelah ashar. Dengan demikian, mengqadha shalat sunnah setelah shalat ashar itu boleh, karena adanya dalil yang mencontohkannya.
Kata ulama, yang penting shalatnya ketika matahari masih terang, matahari masih tinggi, bukan matahari sudah menguning atau mau tenggelam, berdasarkan dalil berikut :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُصَلُّوا بَعْدَ الْعَصْرِ إِلاَّ أَنْ تُصَلُّوا وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ
“Janganlah melakukan shalat setelah ‘Ashar kecuali engkau shalat dan matahari masih tinggi.” (HR. Ahmad.. Berkata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth : Sanad hadits ini hasan).
Keempat, Mengganti Shalat Tahajud.
Apabila shalat malam tidak sempat dikerjakan dikarenakan ketiduran atau lupa, maka disunnahkan diganti di siang hari.
Berkata Aisyah radhiyallahu ‘anha :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً. (رواه مسلم).
Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila Beliau terlambat melakukan shalat malam karena sakit atau karena yang lainnya, maka beliau shalat dua belas rakaat di waktu siang harinya." (HR. Muslim).
Menggantinya setelah shalat subuh (setelah terbit matahari) sampai menjelang dhuhur.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من نام عن حزبه أو عن شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل
“Siapa saja yang ketiduran, sehingga tidak melaksanakan kebiasaan shalat malamnya, kemudian dia (ganti mengerjakannya) di antara shalat subuh dan shalat zuhur maka dia dicatat seperti orang yang melaksanakan shalat tahajud di malam hari.” (HR. Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah).
Kata ulama, kalau shalat tahajudnya biasa 3 rakaat, maka diganti 4 rakaat, kalau biasa 5 rakaat, diganti 6 rakaat, kalau biasa 7 rakaat diganti 8 rakaat dan seterusnya, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa shalat tahajud 11 rakaat, karena ketiduran, diganti disiang hari 12 rakaat.
Berkata Aisyah radhiallahu ‘anha :
كان رسول الله إذا عمل عملاً اثبته، وكان إذا نام من الليل أو مرض، صلّى من النهار ثنتي عشرة ركعة
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan satu amalan, beliau melakukan dengan istiqamah, dan apabila beliau ketiduran di malam hari atau karena sakit maka beliau shalat 12 rakaat di siang hari.” (HR. Muslim dan Ibnu Hibban)
Mudah-mudahan risalah ini menambah ilmu dan wawasan tentang mengganti shalat sunnah yang luput dikerjakan.
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Ada beberapa shalat sunnah yang apabila kita luput mengerjakannya, disunnahkan untuk menggantinya (mengqadhanya). Diantara shalat-shalat sunnah tersebut adalah:
Pertama, Mengganti Shalat Sunnah Fajar.
Apabila kita tidak sempat shalat sunnah fajar, mungkin karena terlambat bangun atau terlambat datang ke masjid sedangkan muadzin sudah iqomah, maka kita ganti setelah shalat subuh, setelah terbit matahari.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ (رواه الترمذي وابن حِبَّان و البيهقي. قال الشيخ الألباني : صحيح ).
Barangsiapa yang belum shalat sunnah fajar 2 rakaat, maka hendaklah shalat setelah terbitnya matahari. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Hiban dan Al Baihaqi. Berkata Syekh Al Albani : Hadits shahih).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ نَامَ عَنْ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ ، فَقَضَاهُمَا بَعْدَ مَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ. )رواه ابن حِبَّان. قال الشيخ الألباني : صحيح(.
Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur dari 2 rakaat shalat fajar, maka Beliau menggantinya setelah terbit matahari. (HR. Ibnu Hiban. Berkata Syekh Al Albani : Hadits shahih).
Kedua, Mengganti 4 Rakaat Sebelum Dzuhur.
Bila kita tidak sempat melaksanakan shalat sunnah dzhuhur 4 rakaat, maka diganti setelah shalat dzuhur.
Berkata Aisyah radhiyallahu anha :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا لَمْ يُصَلِّ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ صَلاَّهُنَّ بَعْدَهَا. (رواه الترمذي. قال الشيخ الألباني : حسن).
Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila Beliau tidak shalat sunnah 4 rakaat sebelum dzuhur, maka shalat sunnah 4 rakaat sesudahnya. (HR. Tirmidzi. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Hasan).
Ketiga, Mengganti 2 Rakaat Setelah Ashar.
Jika shalat sunnah sebelum ashar 2 rakaat tidak sempat dilakukan, disunnahkan menggantinya setelah shalat ashar.
Berkata Aisyah radhiyallahu ‘anha :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّيهِمَا قَبْلَ الْعَصْرِ ثُمَّ إِنَّهُ شُغِلَ عَنْهُمَا أَوْ نَسِيَهُمَا فَصَلاَّهُمَا بَعْدَ الْعَصْرِ. (رواه مسلم).
Beliau (Nabi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) shalat sunnah 2 rakaat sebelum ashar, kemudian apabila disibukkan atau lupa, Beliau ganti setelah shalat ashar. (HR. Muslim).
Lantas bagaimana dengan dalil larangan shalat sesudah subuh dan setelah ashar. Maka larangan secara umum, dikhususkan dengan dalil yang khusus. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sesuatu, kemudian ada dalil khusus untuk pembolehan, maka ini tidak terlarang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan amalan tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ. (رواه متفق عليه).
Tidak ada shalat setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari dan tidak shalat setelah ashar sampai terbenamnya matahari. (HR. Bukhari Muslim).
Berkata Abu Hurairah radhiyallahu anhu :
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَعَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ. (رواه متفق عليه).
Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat setelah ashar sampai tenggelamnya matahari dan shalat setelah subuh sampai terbitnya matahari. (HR. Bukhari Muslim).
Kemudian dalil khusus tentang bolehnya shalat sunnah setelah ashar diantaranya :
Berkata Aisyah radhiyallahu anha :
مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ عِنْدِى قَطّ
ُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah meninggalkan dua raka’at sesudah ‘Ashar di sisiku sama sekali.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan berkata ‘Aisyah radhiyallahu anha:
صَلاَتَانِ مَا تَرَكَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى بَيْتِى قَطُّ سِرًّا وَلاَ عَلاَنِيَةً رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْر
ِ
“Ada dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahku sama sekali baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan yaitu dua rakaat qabliyah fajar dan dua rakaat ba’diyah ‘Ashar.” (HR. Bukhari, dan Muslim).
Dalil-dalil ini menunjukkan sunnahnya shalat sunnah setelah ashar. Dengan demikian, mengqadha shalat sunnah setelah shalat ashar itu boleh, karena adanya dalil yang mencontohkannya.
Kata ulama, yang penting shalatnya ketika matahari masih terang, matahari masih tinggi, bukan matahari sudah menguning atau mau tenggelam, berdasarkan dalil berikut :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تُصَلُّوا بَعْدَ الْعَصْرِ إِلاَّ أَنْ تُصَلُّوا وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ
“Janganlah melakukan shalat setelah ‘Ashar kecuali engkau shalat dan matahari masih tinggi.” (HR. Ahmad.. Berkata Syaikh Syu’aib Al-Arnauth : Sanad hadits ini hasan).
Keempat, Mengganti Shalat Tahajud.
Apabila shalat malam tidak sempat dikerjakan dikarenakan ketiduran atau lupa, maka disunnahkan diganti di siang hari.
Berkata Aisyah radhiyallahu ‘anha :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاَةُ مِنَ اللَّيْلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيْرِهِ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً. (رواه مسلم).
Bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila Beliau terlambat melakukan shalat malam karena sakit atau karena yang lainnya, maka beliau shalat dua belas rakaat di waktu siang harinya." (HR. Muslim).
Menggantinya setelah shalat subuh (setelah terbit matahari) sampai menjelang dhuhur.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من نام عن حزبه أو عن شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل
“Siapa saja yang ketiduran, sehingga tidak melaksanakan kebiasaan shalat malamnya, kemudian dia (ganti mengerjakannya) di antara shalat subuh dan shalat zuhur maka dia dicatat seperti orang yang melaksanakan shalat tahajud di malam hari.” (HR. Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah).
Kata ulama, kalau shalat tahajudnya biasa 3 rakaat, maka diganti 4 rakaat, kalau biasa 5 rakaat, diganti 6 rakaat, kalau biasa 7 rakaat diganti 8 rakaat dan seterusnya, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasa shalat tahajud 11 rakaat, karena ketiduran, diganti disiang hari 12 rakaat.
Berkata Aisyah radhiallahu ‘anha :
كان رسول الله إذا عمل عملاً اثبته، وكان إذا نام من الليل أو مرض، صلّى من النهار ثنتي عشرة ركعة
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan satu amalan, beliau melakukan dengan istiqamah, dan apabila beliau ketiduran di malam hari atau karena sakit maka beliau shalat 12 rakaat di siang hari.” (HR. Muslim dan Ibnu Hibban)
Mudah-mudahan risalah ini menambah ilmu dan wawasan tentang mengganti shalat sunnah yang luput dikerjakan.
Komentar
Posting Komentar