Wasilah
WASILAH YANG DIPERBOLEHKAN
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Wasilah atau perantara agar doa dan harapan cepat dikabulkan merupakan salah satu adab agar doa di kabulkan. Hal ini sesuatu yang disyariatkan dan diperintahkan Allah Ta'ala dalam al Qur’an.
Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (المائدة : 35).
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al Maidah : 35).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah tentang firman Allah Ta'ala:
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. (QS. Al-Maidah: 35)
Qatadah mengatakan, makna yang dimaksud ialah "dekatkanlah diri kalian kepada-Nya dengan taat kepada-Nya dan mengerjakan hal-hal yang diridai-Nya". (Tafsir Ibnu Katsir).
Wasilah itu ada dua macam. Ada yang disyariatkan dan ada pula yang tidak. Adapun yang tidak disyariatkan adalah yang mengandung kesyirikan.
Diataranya menjadikan orang-orang yang telah mati sebagai wasilah agar doa dikabulkan, baik itu kuburan orang-orang shaleh atau kuburan selainnya.
Atau menjadikan zat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, atau benda-benda peninggalannya untuk dijadikan wasilah (perantara).
Begitu pula berdoa kepada orang yang tidak ada ditempat. Misalkan orang berdoa, "Ya Syekh, Ya Kiai, Ya Tuan Guru, Ya Ajeungan, tolong saya", sedangkan yang mereka dimintai tolong tidak ada didepannya, tapi ada di kampungnya atau ditempat lain. Dan lain sebagainya.
Adapun wasilah yang disyariatkan diantaranya:
Pertama, Wasilah Dengan Asma Ulhusna.
Berdoa dengan wasilah asma ulhusna dijamin doa akan dikabulkan. Misalkan kalau kita ingin mendapatkan rizki, kita berdoa, “Ya Rozzak, Ya Ghoni, Beri saya rizki”.
Bila ingin diberikan kesehatan dan kekuatan, kita berdoa, ”Ya Aziz, Ya Jabbar, Ya Qohhar, beri saya kekuatan dan kesehatan.”
Kalau ingin dimudahkan urusan, atau diberikan jalan keluar dari kesulitan, kita berdoa, ”Ya Rahman, Ya Rahim, mudahkan segala urusan kami.” Dan lain sebagainya.
Allah Ta’ala berfirman :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
Hanya milik Allah asma ulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ulhusna itu (QS. Al ‘Araf : 180).
Dari Anas radhiyallahu anhu, dahulu beliau bersama Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam duduk, dan ada seseorang shalat kemudian berdoa:
" اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ " ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى ) .
رواه الترمذي ( 3544 ) وأبو داود ( 1495 ) والنسائي ( 1300 ) وابن ماجه ( 3858 ) ، وصححه الألباني في " صحيح أبي داود " .
‘Ya Allah, sesunggunya saya memohon kepada-Mu. Sesungguhnya hanya milik-Mu seluruh pujian, tiada tuhan melainkan Engkau. Yang Maha Dipuji, pencipta langit dan bumi, wahai yang mempunyai kemulyaan dan kehormatan, wahai Maha hidup dan Mandiri. Maka Nabi sallallahu’alaihi wa salla bersabda, ‘Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung, dimana kalau berdoa akan dikabulkan, kalau meminta akan diberikan.’ HR. Tirmizi, 3544. Abu Dawud, 1495. An-Nasa’i, 1300. Ibnu Majah, 3858 disohehkan Al-Albany di shoheh Abu Dawud.
Dari Abu Burdah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam mendengar seseorang berdoa :
" اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ " ، فَقَالَ : ( لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهَ بِالاسْمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ ) .
رواه الترمذي (3475) و ابو داود (1493) ابن ماجه (3857) و صححه الألباني في صحيح أبي داود
‘Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu. Sesungguhnya saya bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada tuhan melainkan Anda Yang Maha Esa, Tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.’ Maka beliau bersabda, ‘Sungguh anda telah meminta kepada Allah dengan nama yang kalau diminta akan diberikan, kalau berdoa akan dikabulkan.’ (HR. Tirmizi, 3475. Abu Dawud, 1493. Ibnu Majah, 3857 dishohehkan Al-Albany di Shoheh Abu Dawud).
Kedua, Wasilah Dengan Keimanan.
Iman yang kita miliki bisa dijadikan sebagai wasilah atau perantara agar doa dikabulkan. Kalau kita menginginkan sesuatu, kita katakan, “Ya Allah, saya telah beriman kepadamu, bantu dan tolonglah saya. Ya Allah, saya telah beriman kepadamu, berikan kepada saya ampunanMu.” Dan lain sebagainya.
Allah Ta’ala berfirman :
وَيَسْتَجِيْبُ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وِيَزِدْهُمْ من فَضْلِهِ
“Dan Dia memperkenankan doa orang orang yang beriman dan beramal sholih serta menambah balasan kebaikan kepada mereka dari keutamaan-Nya”. (QS. Asy Syura : 26).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, tentang firman Allah Ta'ala:
وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh. (QS. Asy-Syura: 26)
As-Saddi rahimahullah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Allah menerima doa mereka.
Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Jarir rahimahullah: Yakni maknanya ialah Allah Ta'ala memperkenankan doa mereka, baik untuk diri mereka sendiri, untuk teman-teman mereka, ataupun saudara-saudara mereka. (Tafsir Ibnu Katsir).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Yaitu) orang-orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (QS.Ali Imron : 16).
Ketiga, Memurnikan Tauhid.
Keimanan, akidah dan tauhid yang murni merupakan modal utama agar doa dikabulkan. Ini pula yang dipakai oleh Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika dia ditelan oleh ikan dan berada diperutnya sampai tiga hari tiga malam, kemudian Beliau berdoa dengan perantara kalimat tauhid, maka doanya pun terkabul.
Begitu pula orang yang lagi kesulitan, musibah menerpanya bertubu-tubi, dan bencana datang menimpanya, berdoalah dengan wasilah kemurnian tauhid, mengikhlaskan diri kepada Allah Ta’ala, pasti Allah akan menurunkan bantuan dan pertolongannya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ.
Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap : Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamat-kannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS. Al Anbiya : 87-88).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِين
َ
Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Yunus : 22).
Keempat, Wasilah Dengan Doa Orang Shalih Yang Masih Hidup.
Mendatangi orang-orang yang shaleh yang masih hidup untuk minta didoakan agar harapan dan keinginan kita tercapai merupakan perkara yang dibolehkan. Banyak dalil yang menerangkan hal ini. Namun sebagian ulama memakruhkannya.
Allah Ta’ala Berfirman :
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ. قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم
ُ
Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Yusuf : 97-98).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
{قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ (
Mereka menjawab, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu." Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian. (QS. Al Baqarah: 68).
Dari Ukasyah bin Muhshan radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada sekelompok dari umatku sejumlah tujuh puluh ribu yang akan masuk surga dalam keadaan wajah-wajah mereka bersinar terang seperti terangnya sinar bulan purnama”, kemudian Ukasyah berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, doakan saya agar termasuk dari mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, jadikanlah Ukasyah dari mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebuah pertanyaan di ajukan kepada Syaikh Abdullah bin Jibrin hafidzahullloh : Apa hukum seseorang mengatakan kepada sesama Muslim: “tolong doakan saya ya”?
Beliau hafidzahullloh menjawab :
لا بأس بذلك، سيما إذا كان أخوه من الصالحين، فقد أوصى النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه أن يطلبوا من أويس القرني أن يستغفر لهم مع أنه دونهم في الفضل، وورد في حديث "ما من مسلم يدعو لأخيه بظهر الغيب إلا وملك يقول آمين، ولك بمثل". ولأن الدعاء من أفضل الأعمال، ويرجى إجابته من العبد الصالح، وقد حكى الله عن نوح أنه استغفر لوالديه، ولمن دخل بيته مؤمنا، وللمؤمنين والمؤمنات، ونهى الله عن الاستغفار للمشركين ومفهومه فضل الاستغفار للمؤمنين.
Hal itu tidak mengapa. Terlebih lagi jika yang diminta doanya adalah orang yang shalih. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berwasiat kepada para sahabatnya untuk minta kepada Uwais Al Qarni agar ia mendoakan ampunan bagi mereka. Padahal Uwais Al Qarni lebih ada di bawah para sahabat Nabi dari sisi keutamaannya.
Dan juga terdapat hadits:
ما من مسلم يدعو لأخيه بظهر الغيب إلا وملك يقول آمين، ولك بمثل
“Tidaklah seorang Muslim yang mendoakan saudaranya sesama Muslim tanpa sepengatahuannya, kecuali Malaikat akan menjawab: ‘Amiin, dan bagimu juga ganjaran yang semisal’” (HR. Muslim, no. 2732).
Karena doa adalah amalan yang paling utama, dan sangat besar potensi ijabahnya jika dari seorang hamba yang shalih. Allah Ta’ala menceritakan dalam Al Qur’an bahwa Nuh meminta ampunan bagi kedua orang tuanya dan bagi orang-orang yang masuk ke rumahnya dalam keadaan beriman, dan juga bagi kaum Mu’minin dan Mu’minat seluruhnya. Dan Allah juga melarang kita untuk mendoakan ampunan bagi orang-orang Musyrik. Dan faidah dari semua ini adalah adanya keutamaan memintakan ampunan bagi orang-orang Mu’min. islamport.com/w/ftw/Web/2282/415.htm
Sebagian ulama memakruhkan meminta doa kepada orang lain, sebagaimana yang di fatwakan oleh Syekh Utsaimin rahimahullah dan Syekh Shalih Ali Syekh hafidzahullloh serta ulama lainnya.
Kelima, Doa Dengan amal sholeh.
Dalam hidup kita, tentulah kita pernah beramal kebaikan. Baik memberikan sumbangan untuk pembangunan pesantren, madrasah atau masjid. Membantu orang tua, menolong anak yatim dan orang miskin, memperbaiki jalan atau jembatan dan lain sebagainya. Hal ini bisa kita gunakan untuk menjadikan wasilah agar doa dikabulkan.
Misalkan kita dalam keadaanada kesulitan, kita berdoa, “Ya Allah, saya pernah membantu dan menolong orang tua saya, berilah saya kemudahan.” Ya Allah, saya pernah menyumbang pembangunan masjid, tolonglah saya, perlancarlah rizki.” Dan lain sebagainya.
Sebagaimana kisah tiga orang yang masuk kedalam gua, kemudian goa tersebut tertutup batu, tidak ada jalan keluar. Akhirnya mereka berdoa dengan amal sholeh masing-masing.
عن عَبْد اللهِ بْن عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً ، وَلاَ مَالاً فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً ، أَوْ مَالاً فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِئَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْيَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أَعْطَيْتُهَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجَ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ
غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ.
Dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, katanya: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu sama berangkat berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahawasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.
Seorang dari mereka itu berkata: “Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu – yang dimaksud daun-daunan untuk makanan ternak. Saya belum lagi pulang padakedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya saya pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsinglah, Anak-anak kecil sama menangis kerana kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keredhaanMu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini.” Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat kelaur dari gua.
Yang lain berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang anak dari bapak saudara yang wanita (sepupu wanita) yang merupa-kan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia (dalam sebuah riwayat disebutkan: Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita ) kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperolehi kesukaran. lapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia suka menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku (maksudnya untuk bersetubuh).
Ia berjanji sedemikian itu. Setelah saya dapat mengusai dirinya (dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya, sepupuku itu lalu berkata: “Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin (maksudnya cincin di sini adalah kemaluan, maka maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini melainkan dengan haknya yakni dengan perkahwinan yang sah) lalu saya pun mening-galkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keredhaanMu, maka lapang-kanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.
Orang yang ketiga lalu berkata: “Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab: Saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimlikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkan-lah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu lalu membuka lagi dan mereka pun keluar dari gua itu. (HR. Bukhori Muslim).
Inilah beberapa wasilah yang bisa digunakan agar doa-doa kita, hajat-hajat kita atau kebutuhan-kebutuhan Allah Ta'ala perkenankan.
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Wasilah atau perantara agar doa dan harapan cepat dikabulkan merupakan salah satu adab agar doa di kabulkan. Hal ini sesuatu yang disyariatkan dan diperintahkan Allah Ta'ala dalam al Qur’an.
Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (المائدة : 35).
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al Maidah : 35).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah tentang firman Allah Ta'ala:
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. (QS. Al-Maidah: 35)
Qatadah mengatakan, makna yang dimaksud ialah "dekatkanlah diri kalian kepada-Nya dengan taat kepada-Nya dan mengerjakan hal-hal yang diridai-Nya". (Tafsir Ibnu Katsir).
Wasilah itu ada dua macam. Ada yang disyariatkan dan ada pula yang tidak. Adapun yang tidak disyariatkan adalah yang mengandung kesyirikan.
Diataranya menjadikan orang-orang yang telah mati sebagai wasilah agar doa dikabulkan, baik itu kuburan orang-orang shaleh atau kuburan selainnya.
Atau menjadikan zat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, atau benda-benda peninggalannya untuk dijadikan wasilah (perantara).
Begitu pula berdoa kepada orang yang tidak ada ditempat. Misalkan orang berdoa, "Ya Syekh, Ya Kiai, Ya Tuan Guru, Ya Ajeungan, tolong saya", sedangkan yang mereka dimintai tolong tidak ada didepannya, tapi ada di kampungnya atau ditempat lain. Dan lain sebagainya.
Adapun wasilah yang disyariatkan diantaranya:
Pertama, Wasilah Dengan Asma Ulhusna.
Berdoa dengan wasilah asma ulhusna dijamin doa akan dikabulkan. Misalkan kalau kita ingin mendapatkan rizki, kita berdoa, “Ya Rozzak, Ya Ghoni, Beri saya rizki”.
Bila ingin diberikan kesehatan dan kekuatan, kita berdoa, ”Ya Aziz, Ya Jabbar, Ya Qohhar, beri saya kekuatan dan kesehatan.”
Kalau ingin dimudahkan urusan, atau diberikan jalan keluar dari kesulitan, kita berdoa, ”Ya Rahman, Ya Rahim, mudahkan segala urusan kami.” Dan lain sebagainya.
Allah Ta’ala berfirman :
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ.
Hanya milik Allah asma ulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ulhusna itu (QS. Al ‘Araf : 180).
Dari Anas radhiyallahu anhu, dahulu beliau bersama Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam duduk, dan ada seseorang shalat kemudian berdoa:
" اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ " ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى ) .
رواه الترمذي ( 3544 ) وأبو داود ( 1495 ) والنسائي ( 1300 ) وابن ماجه ( 3858 ) ، وصححه الألباني في " صحيح أبي داود " .
‘Ya Allah, sesunggunya saya memohon kepada-Mu. Sesungguhnya hanya milik-Mu seluruh pujian, tiada tuhan melainkan Engkau. Yang Maha Dipuji, pencipta langit dan bumi, wahai yang mempunyai kemulyaan dan kehormatan, wahai Maha hidup dan Mandiri. Maka Nabi sallallahu’alaihi wa salla bersabda, ‘Sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung, dimana kalau berdoa akan dikabulkan, kalau meminta akan diberikan.’ HR. Tirmizi, 3544. Abu Dawud, 1495. An-Nasa’i, 1300. Ibnu Majah, 3858 disohehkan Al-Albany di shoheh Abu Dawud.
Dari Abu Burdah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam mendengar seseorang berdoa :
" اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ " ، فَقَالَ : ( لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهَ بِالاسْمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ ) .
رواه الترمذي (3475) و ابو داود (1493) ابن ماجه (3857) و صححه الألباني في صحيح أبي داود
‘Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu. Sesungguhnya saya bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada tuhan melainkan Anda Yang Maha Esa, Tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.’ Maka beliau bersabda, ‘Sungguh anda telah meminta kepada Allah dengan nama yang kalau diminta akan diberikan, kalau berdoa akan dikabulkan.’ (HR. Tirmizi, 3475. Abu Dawud, 1493. Ibnu Majah, 3857 dishohehkan Al-Albany di Shoheh Abu Dawud).
Kedua, Wasilah Dengan Keimanan.
Iman yang kita miliki bisa dijadikan sebagai wasilah atau perantara agar doa dikabulkan. Kalau kita menginginkan sesuatu, kita katakan, “Ya Allah, saya telah beriman kepadamu, bantu dan tolonglah saya. Ya Allah, saya telah beriman kepadamu, berikan kepada saya ampunanMu.” Dan lain sebagainya.
Allah Ta’ala berfirman :
وَيَسْتَجِيْبُ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وِيَزِدْهُمْ من فَضْلِهِ
“Dan Dia memperkenankan doa orang orang yang beriman dan beramal sholih serta menambah balasan kebaikan kepada mereka dari keutamaan-Nya”. (QS. Asy Syura : 26).
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah, tentang firman Allah Ta'ala:
وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh. (QS. Asy-Syura: 26)
As-Saddi rahimahullah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Allah menerima doa mereka.
Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Jarir rahimahullah: Yakni maknanya ialah Allah Ta'ala memperkenankan doa mereka, baik untuk diri mereka sendiri, untuk teman-teman mereka, ataupun saudara-saudara mereka. (Tafsir Ibnu Katsir).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Yaitu) orang-orang yang berdoa, "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka," (QS.Ali Imron : 16).
Ketiga, Memurnikan Tauhid.
Keimanan, akidah dan tauhid yang murni merupakan modal utama agar doa dikabulkan. Ini pula yang dipakai oleh Nabi Yunus ‘alaihis salam ketika dia ditelan oleh ikan dan berada diperutnya sampai tiga hari tiga malam, kemudian Beliau berdoa dengan perantara kalimat tauhid, maka doanya pun terkabul.
Begitu pula orang yang lagi kesulitan, musibah menerpanya bertubu-tubi, dan bencana datang menimpanya, berdoalah dengan wasilah kemurnian tauhid, mengikhlaskan diri kepada Allah Ta’ala, pasti Allah akan menurunkan bantuan dan pertolongannya.
Allah Ta'ala berfirman:
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (87) فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ.
Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap : Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamat-kannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS. Al Anbiya : 87-88).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِين
َ
Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur". (QS. Yunus : 22).
Keempat, Wasilah Dengan Doa Orang Shalih Yang Masih Hidup.
Mendatangi orang-orang yang shaleh yang masih hidup untuk minta didoakan agar harapan dan keinginan kita tercapai merupakan perkara yang dibolehkan. Banyak dalil yang menerangkan hal ini. Namun sebagian ulama memakruhkannya.
Allah Ta’ala Berfirman :
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ. قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم
ُ
Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Yusuf : 97-98).
Dan Allah Ta'ala berfirman:
{قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ (
Mereka menjawab, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu." Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian. (QS. Al Baqarah: 68).
Dari Ukasyah bin Muhshan radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada sekelompok dari umatku sejumlah tujuh puluh ribu yang akan masuk surga dalam keadaan wajah-wajah mereka bersinar terang seperti terangnya sinar bulan purnama”, kemudian Ukasyah berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, doakan saya agar termasuk dari mereka.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, jadikanlah Ukasyah dari mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebuah pertanyaan di ajukan kepada Syaikh Abdullah bin Jibrin hafidzahullloh : Apa hukum seseorang mengatakan kepada sesama Muslim: “tolong doakan saya ya”?
Beliau hafidzahullloh menjawab :
لا بأس بذلك، سيما إذا كان أخوه من الصالحين، فقد أوصى النبي صلى الله عليه وسلم أصحابه أن يطلبوا من أويس القرني أن يستغفر لهم مع أنه دونهم في الفضل، وورد في حديث "ما من مسلم يدعو لأخيه بظهر الغيب إلا وملك يقول آمين، ولك بمثل". ولأن الدعاء من أفضل الأعمال، ويرجى إجابته من العبد الصالح، وقد حكى الله عن نوح أنه استغفر لوالديه، ولمن دخل بيته مؤمنا، وللمؤمنين والمؤمنات، ونهى الله عن الاستغفار للمشركين ومفهومه فضل الاستغفار للمؤمنين.
Hal itu tidak mengapa. Terlebih lagi jika yang diminta doanya adalah orang yang shalih. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berwasiat kepada para sahabatnya untuk minta kepada Uwais Al Qarni agar ia mendoakan ampunan bagi mereka. Padahal Uwais Al Qarni lebih ada di bawah para sahabat Nabi dari sisi keutamaannya.
Dan juga terdapat hadits:
ما من مسلم يدعو لأخيه بظهر الغيب إلا وملك يقول آمين، ولك بمثل
“Tidaklah seorang Muslim yang mendoakan saudaranya sesama Muslim tanpa sepengatahuannya, kecuali Malaikat akan menjawab: ‘Amiin, dan bagimu juga ganjaran yang semisal’” (HR. Muslim, no. 2732).
Karena doa adalah amalan yang paling utama, dan sangat besar potensi ijabahnya jika dari seorang hamba yang shalih. Allah Ta’ala menceritakan dalam Al Qur’an bahwa Nuh meminta ampunan bagi kedua orang tuanya dan bagi orang-orang yang masuk ke rumahnya dalam keadaan beriman, dan juga bagi kaum Mu’minin dan Mu’minat seluruhnya. Dan Allah juga melarang kita untuk mendoakan ampunan bagi orang-orang Musyrik. Dan faidah dari semua ini adalah adanya keutamaan memintakan ampunan bagi orang-orang Mu’min. islamport.com/w/ftw/Web/2282/415.htm
Sebagian ulama memakruhkan meminta doa kepada orang lain, sebagaimana yang di fatwakan oleh Syekh Utsaimin rahimahullah dan Syekh Shalih Ali Syekh hafidzahullloh serta ulama lainnya.
Kelima, Doa Dengan amal sholeh.
Dalam hidup kita, tentulah kita pernah beramal kebaikan. Baik memberikan sumbangan untuk pembangunan pesantren, madrasah atau masjid. Membantu orang tua, menolong anak yatim dan orang miskin, memperbaiki jalan atau jembatan dan lain sebagainya. Hal ini bisa kita gunakan untuk menjadikan wasilah agar doa dikabulkan.
Misalkan kita dalam keadaanada kesulitan, kita berdoa, “Ya Allah, saya pernah membantu dan menolong orang tua saya, berilah saya kemudahan.” Ya Allah, saya pernah menyumbang pembangunan masjid, tolonglah saya, perlancarlah rizki.” Dan lain sebagainya.
Sebagaimana kisah tiga orang yang masuk kedalam gua, kemudian goa tersebut tertutup batu, tidak ada jalan keluar. Akhirnya mereka berdoa dengan amal sholeh masing-masing.
عن عَبْد اللهِ بْن عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى أَوَوُا الْمَبِيتَ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ فَقَالُوا إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمُ اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ وَكُنْتُ لاَ أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً ، وَلاَ مَالاً فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً ، أَوْ مَالاً فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ الآخَرُ اللَّهُمَّ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا فَامْتَنَعَتْ مِنِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِئَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفَعَلَتْ حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهْيَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أَعْطَيْتُهَا اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجَ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهَا قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ الثَّالِثُ اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ
غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهَبَ فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الأَمْوَالُ فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي فَقُلْتُ لَهُ كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللهِ لاَ تَسْتَهْزِئْ بِي فَقُلْتُ إِنِّي لاَ أَسْتَهْزِئُ بِكَ فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ.
Dari Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, katanya: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu sama berangkat berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahawasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.
Seorang dari mereka itu berkata: “Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu – yang dimaksud daun-daunan untuk makanan ternak. Saya belum lagi pulang padakedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya saya pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsinglah, Anak-anak kecil sama menangis kerana kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keredhaanMu, maka lapanglah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini.” Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat kelaur dari gua.
Yang lain berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang anak dari bapak saudara yang wanita (sepupu wanita) yang merupa-kan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia (dalam sebuah riwayat disebutkan: Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita ) kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperolehi kesukaran. lapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia suka menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku (maksudnya untuk bersetubuh).
Ia berjanji sedemikian itu. Setelah saya dapat mengusai dirinya (dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya, sepupuku itu lalu berkata: “Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin (maksudnya cincin di sini adalah kemaluan, maka maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini melainkan dengan haknya yakni dengan perkahwinan yang sah) lalu saya pun mening-galkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keredhaanMu, maka lapang-kanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.
Orang yang ketiga lalu berkata: “Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Saya berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Saya menjawab: Saya tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimlikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkan-lah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu lalu membuka lagi dan mereka pun keluar dari gua itu. (HR. Bukhori Muslim).
Inilah beberapa wasilah yang bisa digunakan agar doa-doa kita, hajat-hajat kita atau kebutuhan-kebutuhan Allah Ta'ala perkenankan.
Komentar
Posting Komentar