ISBAL
MEMANJANGKAN KAIN DI BAWAH MATA KAKI YANG DIPERTENTANGKAN
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Berpakaian di dalam Islam itu ada adab dan tuntunannya. Diantara sebagian syariatnya adalah tidak memanjangkan kain atau sarungnya di bawah mata kaki bagi laki-laki. Karena berpatokan pada sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Bahwa orang yang memanjangkan kainnya sampai di bawah mata kaki, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ancam dengan neraka.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ. (رواه البخاري).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia bersabda: Apa yang dibawah kedua mata kaki dari sarungnya, maka di dalam neraka. (HR. Bukhari).
Allah pun tidak akan mengajak bicara mereka, tidak akan melihat mereka, tidak mensucikan mereka dan mengazab mereka yang memanjangkan kainnya di bawah mata kaki dengan azab yang pedih.
Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ ».
"Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak pula dilihat olehNya, tidak pula disucikan olehNya dan mereka itu akan mendapatkan siksa yang sangat pedih." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kalimat di atas itu sampai tiga kali. Abu Zar kemudian berkata: "Mereka itu merugi serta menyesal sekali. Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Yaitu orang yang memanjangkan kainnya (melebihi mata kaki), orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya, dan dagangannya menjadi laku karena bersumpah palsu." (HR. Muslim).
Jika memakai kain atau sarung, kemudian kain atau sarungnya selalu melorot, namun kita berusaha untuk menaikkannya, ini tidak diancam dengan ancaman hadits di atas. Karena yang diancam adalah orang yang sengaja melakukannya, dengan alasan tidak sombong, dan tidak berusaha untuk menaikkannya, apalagi sengaja untuk mempertontonkan bahwa hal ini boleh dilakukan.
Lihatlah bagaimana Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berusaha untuk menaikkan kainnya yang senantiasa melorot, bukan dengan sengaja dia memanjangkan kainnya.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ. (رواه البخاري).
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahawasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menyeret bajunya (karena kepanjangan sampai menyentuh tanah), karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Berkata Abu Bakar : “ Sesungguhnya sarungku itu selalu melorot (karena kurusnya badan), kecuali kalau saya membenarkan lagi letaknya (mengikat keras-keras dan mengankat ke atas)." Apakah diancam dengan tindakan sebagaimana di atas itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan orang yang melakukan semacam itu dengan kesombongan). (HR. Bukhari dan Muslim).
Coba bandingkan dengan kebanyakan orang-orang sekarang, yang mengatakan yang penting tidak sombong. Padahal mereka menyengaja mengukur kainnya, celananya atau baju gamisnya di penjahit dengan ukuran di bawah mata kaki. Atau dia membeli kain atau celananya di bawah mata kaki dan tidak berusaha untuk memotongnya atau menaikkannya sampai di atas mata kaki.
Ada juga yang mengatakan dengan nada mengejek, “Mudah sekali ya masuk surga dan neraka, naikkan kain di atas mata kaki masuk surga, turunkan kain masuk neraka.”
Masalahnya bukan naik dan turunnya kain atau celana, yang masalah adalah menyelisihi, mendurhakai dan menentang perintah Allah dan RasulNya.
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. (الحشر : 7).
Apa yang diberikan (diperintahkan) Rasul kepada-mu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. Al Hasyr : 7).
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ (رواه مسلم).
Apa yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampumu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Ketika hadits ini disampaikan, mereka pun mengatakan, “ Ya semampunyalah kita berislam, kita kan belum mampu menaikan kain di atas mata kaki.”
Para ulama memahami hadits tersebut tidak demikian, namun lihatlah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu dalam hadits di atas, dia sudah berusaha menaikan sarungnya tapi senatiasa melorot, inilah yang dimaksud semampumu. Bukan belum dicoba dan belum berusaha, sudah mengatakan tidak mampu.
Perhatikan juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam :
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى. (البخاري).
Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, siapa yang enggan itu?”. Beliau menjawab : “Siapa yang mentaatiku, dia akan masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku (tidak mentaatiku) maka sungguh dia orang yang enggan. (HR. Bukhari).
Ya inilah ancamannya bagi orang yang enggan mengikuti perintah Allah dan RasulNya berupa neraka. Jadi sekali lagi bukan sekedar naik dan turunnya kain, tapi sikap enggan dan penentanganya itulah yang memasukkannya ke neraka.
Ada juga sebagian orang mengatakan, lebih baik isbal (memanjangkan kainnya melebihi mata kaki) tetapi tidak sombong, dari pada yang mengangkat kainnya di atas mata kaki tapi sombong.
Kita pun bisa menyampaikan padanya, justru yang dengan sengaja memanjangkan kainnya melebihi mata kaki, itulah yang sombong, karena merupakan bentuk penentangan terhadap perintah Allah dan RasulNya. Karena yang sombong itu adalah orang yang menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة
“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah KESOMBONGAN. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud 4084, Berkata Syekh Al Albani : Hadits Shahih).
Bersabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam :
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم).
Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain (HR.Muslim).
Ulama bersepakat tentang haramnya memakai kain atau celana di bawah mata kaki karena sombong dan berbeda pendapat jika tidak disertai kesombongan. Tetapi mereka berpendapat hanya berputar sekitar makruh dan haram. Sedangkan makruh saja adalah sesuatu yang dibenci.
Dan yang paling baik dan paling selamat adalah mengangkat kainnya, celananya atau sarungnya di atas mata kaki dan tidak sombong. Karena berjalan dengan sombong baik isbal maupun tidak isbal di ancam keras oleh Allah dan RasulNya. Dan yang lebih keras lagi dan lebih besar lagi dosanya adalah yang isbal kemudian sombong.
Allah Ta'ala berfirman :
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ.
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-kan diri. (QS. Lukman : 18).
.................
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Berpakaian di dalam Islam itu ada adab dan tuntunannya. Diantara sebagian syariatnya adalah tidak memanjangkan kain atau sarungnya di bawah mata kaki bagi laki-laki. Karena berpatokan pada sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Bahwa orang yang memanjangkan kainnya sampai di bawah mata kaki, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ancam dengan neraka.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ. (رواه البخاري).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia bersabda: Apa yang dibawah kedua mata kaki dari sarungnya, maka di dalam neraka. (HR. Bukhari).
Allah pun tidak akan mengajak bicara mereka, tidak akan melihat mereka, tidak mensucikan mereka dan mengazab mereka yang memanjangkan kainnya di bawah mata kaki dengan azab yang pedih.
Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ » قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ ».
"Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak pula dilihat olehNya, tidak pula disucikan olehNya dan mereka itu akan mendapatkan siksa yang sangat pedih." Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kalimat di atas itu sampai tiga kali. Abu Zar kemudian berkata: "Mereka itu merugi serta menyesal sekali. Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Yaitu orang yang memanjangkan kainnya (melebihi mata kaki), orang yang mengungkit-ngungkit pemberiannya, dan dagangannya menjadi laku karena bersumpah palsu." (HR. Muslim).
Jika memakai kain atau sarung, kemudian kain atau sarungnya selalu melorot, namun kita berusaha untuk menaikkannya, ini tidak diancam dengan ancaman hadits di atas. Karena yang diancam adalah orang yang sengaja melakukannya, dengan alasan tidak sombong, dan tidak berusaha untuk menaikkannya, apalagi sengaja untuk mempertontonkan bahwa hal ini boleh dilakukan.
Lihatlah bagaimana Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu berusaha untuk menaikkan kainnya yang senantiasa melorot, bukan dengan sengaja dia memanjangkan kainnya.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ. (رواه البخاري).
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma bahawasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang menyeret bajunya (karena kepanjangan sampai menyentuh tanah), karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat. Berkata Abu Bakar : “ Sesungguhnya sarungku itu selalu melorot (karena kurusnya badan), kecuali kalau saya membenarkan lagi letaknya (mengikat keras-keras dan mengankat ke atas)." Apakah diancam dengan tindakan sebagaimana di atas itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: "Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan orang yang melakukan semacam itu dengan kesombongan). (HR. Bukhari dan Muslim).
Coba bandingkan dengan kebanyakan orang-orang sekarang, yang mengatakan yang penting tidak sombong. Padahal mereka menyengaja mengukur kainnya, celananya atau baju gamisnya di penjahit dengan ukuran di bawah mata kaki. Atau dia membeli kain atau celananya di bawah mata kaki dan tidak berusaha untuk memotongnya atau menaikkannya sampai di atas mata kaki.
Ada juga yang mengatakan dengan nada mengejek, “Mudah sekali ya masuk surga dan neraka, naikkan kain di atas mata kaki masuk surga, turunkan kain masuk neraka.”
Masalahnya bukan naik dan turunnya kain atau celana, yang masalah adalah menyelisihi, mendurhakai dan menentang perintah Allah dan RasulNya.
Allah Ta’ala berfirman :
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. (الحشر : 7).
Apa yang diberikan (diperintahkan) Rasul kepada-mu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. Al Hasyr : 7).
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ (رواه مسلم).
Apa yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampumu. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
Ketika hadits ini disampaikan, mereka pun mengatakan, “ Ya semampunyalah kita berislam, kita kan belum mampu menaikan kain di atas mata kaki.”
Para ulama memahami hadits tersebut tidak demikian, namun lihatlah Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu dalam hadits di atas, dia sudah berusaha menaikan sarungnya tapi senatiasa melorot, inilah yang dimaksud semampumu. Bukan belum dicoba dan belum berusaha, sudah mengatakan tidak mampu.
Perhatikan juga sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam :
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى. (البخاري).
Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, siapa yang enggan itu?”. Beliau menjawab : “Siapa yang mentaatiku, dia akan masuk surga dan siapa yang mendurhakaiku (tidak mentaatiku) maka sungguh dia orang yang enggan. (HR. Bukhari).
Ya inilah ancamannya bagi orang yang enggan mengikuti perintah Allah dan RasulNya berupa neraka. Jadi sekali lagi bukan sekedar naik dan turunnya kain, tapi sikap enggan dan penentanganya itulah yang memasukkannya ke neraka.
Ada juga sebagian orang mengatakan, lebih baik isbal (memanjangkan kainnya melebihi mata kaki) tetapi tidak sombong, dari pada yang mengangkat kainnya di atas mata kaki tapi sombong.
Kita pun bisa menyampaikan padanya, justru yang dengan sengaja memanjangkan kainnya melebihi mata kaki, itulah yang sombong, karena merupakan bentuk penentangan terhadap perintah Allah dan RasulNya. Karena yang sombong itu adalah orang yang menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة
“Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah KESOMBONGAN. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud 4084, Berkata Syekh Al Albani : Hadits Shahih).
Bersabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam :
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم).
Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain (HR.Muslim).
Ulama bersepakat tentang haramnya memakai kain atau celana di bawah mata kaki karena sombong dan berbeda pendapat jika tidak disertai kesombongan. Tetapi mereka berpendapat hanya berputar sekitar makruh dan haram. Sedangkan makruh saja adalah sesuatu yang dibenci.
Dan yang paling baik dan paling selamat adalah mengangkat kainnya, celananya atau sarungnya di atas mata kaki dan tidak sombong. Karena berjalan dengan sombong baik isbal maupun tidak isbal di ancam keras oleh Allah dan RasulNya. Dan yang lebih keras lagi dan lebih besar lagi dosanya adalah yang isbal kemudian sombong.
Allah Ta'ala berfirman :
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ.
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-kan diri. (QS. Lukman : 18).
.................
Komentar
Posting Komentar