SHALAT PAKAI SEPATU

SHALAT PAKAI SANDAL ATAU SEPATU

Oleh : Abu Fadhel Majalengka

Shalat memakai sepatu atau sandal bukan hal aneh di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, banyak dalil yang menunjukkan tentang perkara ini.

Urwah ibnul Mughiiroh dari Bapaknya ia berkata :

كُنْتُ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَأَهْوَيْتُ لأَنْزِعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ « دَعْهُمَا ، فَإِنِّى أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ » . فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا

Aku bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada suatu perjalanan, aku hendak melepaskan kedua sepatu Nabishallallahu alaihi wa sallam, lalu Beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata : “Biarkan, karena aku memasukkan kedua kakiku (memakai khuf) dalam keadaan suci”. Lalu Beliau shallallahu alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya’”.
HR. Muslim).

Berkata Shafwan bin ‘Assal radhiyallahu :

فَأَمَرَنَا أَنْ نَمْسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ إِذَا نَحْنُ أَدْخَلْنَاهُمَا عَلَى طُهْرٍ ثَلاَثاً إِذَا سَافَرْنَا وَيَوْماً وَلَيْلَةً إِذَا أَقَمْنَا وَلاَ نَخْلَعَهُمَا مِنْ غَائِطٍ وَلاَ بَوْلٍ وَلاَ نَوْمٍ وَلاَ نَخْلَعَهُمَا إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami untuk mengusap khuf yang telah kami kenakan dalam keadaan kami suci sebelumnya. Jangka waktu mengusapnya adalah tiga hari tiga malam jika kami bersafar dan sehari semalam jika kami mukim. Dan kami tidak perlu melepasnya ketika kami buang hajat dan buang air kecil (kencing). Kami tidak mencopotnya selain ketika dalam kondisi junub.” (HR. Ahmad. Berkata Syeikh Syuaib Al Arnuth : Hadist Shahih lighairillah).

Syuraih bin Hanii’ rahimahullah ia berkata :

أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فَقَالَتْ عَلَيْكَ بِابْنِ أَبِى طَالِبٍ فَسَلْهُ فَإِنَّهُ كَانَ يُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ

“Aku mendatangi Aisyah Radhiyallahu anha, aku bertanya kepadanya tentang mengusap kedua khuf?, maka beliau berkata : ‘engkau konfirmasi langsung kepada Ali bin Abi Tholib, lalu bertanya kepadanya, karena beliau Radhiyallahu anhu yang menemani Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.  Lalu kami pun bertanya langsung kepada Ali Radhiyallahu anhu, maka jawabnya : ‘Rasulullah memberikan waktu tiga hari tiga malam bagi Musafir dan satu satu malam bagi yang Mukim’”. (HR. Muslim).

Berkata Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu :

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْىِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ.

“Seandainya agama itu dengan logika semata, maka tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh aku sendiri telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya.” (HR. Abu Daud. Berkata Syaikh Al Albani : Hadits Shahih).

Beberapa hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah berwudhu tidak melepas sepatunya cukup dengan mengusap bagian atas sepatu dan langsung shalat.

Hadits lain yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah shalat pakai sepatu atau sandal, sebagaimana hadits-hadits berikut.

Berkata Abu Sa’iid Al-Khudri radhiyallahu anhu :

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ، قَالَ: مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ؟ قَالُوا: رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السلام أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا، أَوْ قَالَ: أَذًى، وَقَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا "

Ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi waasallam shalat bersama para shahabatnya, tiba tiba beliau melepaskan kedua sandalnya lalu meletakkan keduanya di sebelah kiri beliau. Saat para shahabat melihat apa yang beliau lakukan tersebut, mereka pun ikut pula melepas sandal-sandal mereka. Ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah selesai shalat, beliau bersabda : "Apa gerangan yang membuat kalian melepas sandal-sandal kalian?". Mereka menjawab: “Kami melihat engkau melepas sandal, sehingga kami pun melepaskan sandal-sandal kami”. Lalu Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya Jibriil 'alaihis-salaam mendatangiku dan mengkhabarkan kepadaku bahwa di kedua sandalku terdapat kotoran." Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan :

“Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi masjid, hendaklah ia perhatikan. Apabila ia di kedua sandalnya najis atau kotoran, hendaklah ia bersihkan dan kemudian shalat dengan memakai kedua sandalnya tersebut”  (HR. Abu Daawud. Berkata Syeikh Al-Albani : Hadist Shahih)

Berkata Syaddad bin Aus radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَالِفُوا الْيَهُودَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ، وَلَا خِفَافِهِمْ

“Bersikaplah yang berbeda dengan ornag Yahudi. Sesungguhnya mereka tidak shalat dengan menggunakan sandal maupun sepatu.” (HR. Abu Daud. Berkata Syeikh Al Albani : Hadist Shahih).

Berkata Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَافِيًا وَمُنْتَعِلًا

Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang shalat dengan tidak beralas kaki dan kadang shalat dengan memakai sandal. (HR. Abu daud dan Ibnu Majah. Berkata Syeikh Al Albani : Hadist Hasan Shahih).

Said bin Yazid al-Azdi rahimahullah bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallahu anhu :

أَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي نَعْلَيْهِ؟

“Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dengan menggunakan sandal?” Jawab Anas: “Ya.” (HR. Bukhari).

Dalil-dalil di atas adalah bukti dan hujah bahwa shalat memakai sandal atau sepatu merupakan sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya, maka sungguh sangat mengherankan ada sebagian ahlul bid'ah menyatakan bahwa ini sunnah wahabi yang sesat. Ini merupakan tuduhan yang tidak berdasar dan hanya didasari oleh emosi dan kebencian.

Berkata  Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah;

وقد اختلف العلماء رحمهم الله تعالى سلفاً وخلفاً هل الصلاة فيهما من باب المشروعات فيكون مستحباً ، أو من باب الرخص فيكون مباحاً ، والظاهر أن ذلك من باب المشروعات فيكون مستحباً

“Para ulama baik yang dahulu dan sekarang rahimahumullah Ta’ala berselisih pendapat mengenai hukum shalat dengan menggunakan sandal, apakah shalat dengan memakai keduanya termasuk dalam bab disyariatkan sehingga hukumnya sunnah atau termasuk dalam bab keringanan sehingga hukumnya mubah. Pendapat yang kuat bahwa, hal ini termasuk bab yang disyariatkan sehingga hukumnya adalah sunnah.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail 12/388).

Walaupun demikian, sunnah shalat  memakai sandal atau sepatu jangan dipraktekkan di dalam masjid yang berlantai dan berkarpet untuk menjaga kebersihan dan agar tidak timbul fitnah yang macam-macam.

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin baz rahimahullah :

وإذا كان المسجد مفروشا فإن الأولى خلعها ؛ حذراً من توسيخ الفرش ، وتنفير المسلمين من السجود عليها

“Jika masjid memakai alas karpet maka yang lebih baik adalah melepas (tidak memakai) sandal, agar tidak mengotori alas karpet dan membuat kaum muslimin enggan untuk sujud di karpet.” (Fatawa Ibnu Baz,Fatwa Islam, no. 69793).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KENAPA KAMU DIAM?

SOLUSI MENCEGAH BENCANA

Kehidupan Yang Baik