MENGIKUTI SEMUA PEMAHAMAN
MENGIKUTI SEMUA PEMAHAMAN
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Ada seseorang yang mengatakan, "Kalau ada ustadz salaf mengisi kajian, saya ikut perhatikan, kalau ada Jamaah Tabligh mengisi bayan, saya dengarkan, saya juga ikut tarbiyah Ikhwanul Muslimin setiap pekan, pokoknya saya ikut dan dengar semua, masing-masing punya kebaikan."
Sesungguhnya seseorang kalau jahil dari ilmu, dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.
Namun Kalau dia betul-betul belajar untuk duduk di majlis ilmu, yang di dalamnya disampaikan alquran dan as sunnah dengan pemahaman salaf, pastilah dia akan bisa menilai tentang siapa atau kelompok mana yang menyimpang dari kebenaran.
Orang yang tidak berilmu, timbangannya bukan ilmu, akan tetapi timbangannya akal, perasaan dan hawa nafsunya. Jika sesuatu itu masuk akalnya, enak perasaan dan hawa nafsunya, maka dia menganggap baik dan patut diikuti, kalau tidak, maka itu dianggap tidak baik dan tidak patut diikuti.
Berkata Al-'Allamah Muqbil bin Hadi al-Wadi'i rahimahullah :
{ بأي ميزان تزن الناس إذا كنتَ جاهلاً بالعلم النافع؟! أتزنهم بالهوى أم بما قال لك الشيخ فلان؟! فإذا تراجع الشيخ فلان تراجعتَ، وإذا حَمَل على طائفة حملْتَ. }
Dengan timbangan apa kamu akan menimbang manusia jika kamu bodoh terhadap ilmu yang bermanfa'at?!
Apakah kamu akan menimbang (menghukumi) mereka dengan hawa nafsu atau dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Fulan kepadamu?!
Jika Syaikh Fulan rujuk maka kamu ikut rujuk, jika Ia menyerang (membantah) satu kelompok maka kamu ikut membantah. [Fadha'ih wa Nasha'ih, hal. 112].
Maka dengan demikian, hanya orang yang berilmu yang mengetahui kejahilan, karena orang yang berilmu dulunya seperti mereka, jahil. Begitu pula tidak mungkin orang jahil mengetahui kejahilan, karena dulunya dia tidak pernah jadi orang 'alim.
Berkata Asy Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :
العالِمُ يَعْرِفُ الجاهلَ؛ لأنه كان جاهلاً، والجاهلُ لا يَعْرِفُ العالِمَ؛ لأنه ما كان عالماً.
“Seorang 'ALIM (berilmu) mengetahui orang yang JAHIL (bodoh), karena dia pernah menjadi orang yang JAHIL. Sedangkan orang yang JAHIL tidak mengetahui orang yang 'ALIM, karena dia belum pernah menjadi orang yang 'ALIM.” [Jawabul I'tiradhat al Mishriyyah 'ala al Futya al Hamawiyyah, hal. 172]
Ada juga seseorang yang bukan ahli ilmu, dia katakan, "Saya bukan ulama, saya baru belajar, saya baru hijrah", akan tetapi dia bicara seperti ulama, menafsirkan ayat dan menjelaskan hadits dengan pendapatnya sendiri. Dia bicara dan berfatwa tentang sesuatu menurut pemahamannya, padahal dia sudah mengakui bukan ulama, tetapi dia mengambil peran ulama. Lebih hebatnya lagi dia membantah pendapatnya ulama.
Berkata Asy-Syaikh Dr. Muhammad Ghalib hafizhahullah :
{ يقول: لست عالما، ثم يرد على علماء الأمة، ويتحدث في أدق النوازل، ويتصدر مجالس الفتيا، ويؤول النصوص حسب هواه، طيب لو ادعيت بإنك عالم ماذا ستفعل؟! }
“Ada orang yang mengatakan, ‘Aku bukan ulama,’ namun anehnya setelah itu, dia membantah para ulama umat ini, bicara tentang masalah-masalah kontemporer yang paling rumit, lancang menyampaikan fatwa, dan menafsirkan dalil-dalil syari’at sesuai dengan hawa nafsunya.
Terus, seandainya engkau menganggap bahwa dirimu adalah seorang ulama, kira-kira apa yang akan engkau lakukan?!” Sumber : https://mobile.twitter.com/m_g_alomari/status/853701898767142912
Akhirnya dampak dari orang JAHIL bicara masalah agama, berdampak bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dampak bagi dirinya membuat hidupnya tidak tenang, tidak tidur nyenyak dan tidak bisa istirahat, karena menerima tahdziran (peringatan) dan bullyan dari sana sini.
Dampak bagi orang lain, membuat orang repot dan lelah. Sibuk dan letih membantah kejahilan dan penyimpangannya.
Berkata Al-Imam Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzy rahimahullah :
{ لو سكت من لا يدري لاستراح وأراح، وقل الخطأ وكثُر الصواب. }
“Seandainya orang yang tidak tahu mau diam, niscaya dia akan bisa istirahat dengan tenang dan tidak membuat letih atau merepotkan orang lain, maka kesalahan akan sedikit dan yang sesuai dengan kebenaran akan banyak.” [Tahdzibul Kamal, jilid 4 hlm. 326].
Untuk itu, orang yang tidak berilmu hendaklah diam, tidak usah banyak bicara dan banyak komentar.
Berkata Al-Allamah Saleh Al-Fauzan Hafizhahullah:
《 على الجاهل ألا يتكلم، وأن يسكت ويخاف الله ولا يتكلم بغير علم. فلا يجوز للجاهل أن يتكلم في مسائل العلم ولا سيما المسائل الكبار. 》[الأجوبة المفيدة - س74]
“Wajib bagi orang yang jahil untuk tidak berbicara, dan hendaknya diam dan takut kepada Allah dan jangan berbicara tanpa ilmu. Tidak boleh bagi orang yang jahil berbicara dalam permasalahan ilmiah, terlebih lagi dalam perkara-perkara yang besar.” [Al-Ajwibatul Mufidah: 74].
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Ada seseorang yang mengatakan, "Kalau ada ustadz salaf mengisi kajian, saya ikut perhatikan, kalau ada Jamaah Tabligh mengisi bayan, saya dengarkan, saya juga ikut tarbiyah Ikhwanul Muslimin setiap pekan, pokoknya saya ikut dan dengar semua, masing-masing punya kebaikan."
Sesungguhnya seseorang kalau jahil dari ilmu, dia tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.
Namun Kalau dia betul-betul belajar untuk duduk di majlis ilmu, yang di dalamnya disampaikan alquran dan as sunnah dengan pemahaman salaf, pastilah dia akan bisa menilai tentang siapa atau kelompok mana yang menyimpang dari kebenaran.
Orang yang tidak berilmu, timbangannya bukan ilmu, akan tetapi timbangannya akal, perasaan dan hawa nafsunya. Jika sesuatu itu masuk akalnya, enak perasaan dan hawa nafsunya, maka dia menganggap baik dan patut diikuti, kalau tidak, maka itu dianggap tidak baik dan tidak patut diikuti.
Berkata Al-'Allamah Muqbil bin Hadi al-Wadi'i rahimahullah :
{ بأي ميزان تزن الناس إذا كنتَ جاهلاً بالعلم النافع؟! أتزنهم بالهوى أم بما قال لك الشيخ فلان؟! فإذا تراجع الشيخ فلان تراجعتَ، وإذا حَمَل على طائفة حملْتَ. }
Dengan timbangan apa kamu akan menimbang manusia jika kamu bodoh terhadap ilmu yang bermanfa'at?!
Apakah kamu akan menimbang (menghukumi) mereka dengan hawa nafsu atau dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Fulan kepadamu?!
Jika Syaikh Fulan rujuk maka kamu ikut rujuk, jika Ia menyerang (membantah) satu kelompok maka kamu ikut membantah. [Fadha'ih wa Nasha'ih, hal. 112].
Maka dengan demikian, hanya orang yang berilmu yang mengetahui kejahilan, karena orang yang berilmu dulunya seperti mereka, jahil. Begitu pula tidak mungkin orang jahil mengetahui kejahilan, karena dulunya dia tidak pernah jadi orang 'alim.
Berkata Asy Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah :
العالِمُ يَعْرِفُ الجاهلَ؛ لأنه كان جاهلاً، والجاهلُ لا يَعْرِفُ العالِمَ؛ لأنه ما كان عالماً.
“Seorang 'ALIM (berilmu) mengetahui orang yang JAHIL (bodoh), karena dia pernah menjadi orang yang JAHIL. Sedangkan orang yang JAHIL tidak mengetahui orang yang 'ALIM, karena dia belum pernah menjadi orang yang 'ALIM.” [Jawabul I'tiradhat al Mishriyyah 'ala al Futya al Hamawiyyah, hal. 172]
Ada juga seseorang yang bukan ahli ilmu, dia katakan, "Saya bukan ulama, saya baru belajar, saya baru hijrah", akan tetapi dia bicara seperti ulama, menafsirkan ayat dan menjelaskan hadits dengan pendapatnya sendiri. Dia bicara dan berfatwa tentang sesuatu menurut pemahamannya, padahal dia sudah mengakui bukan ulama, tetapi dia mengambil peran ulama. Lebih hebatnya lagi dia membantah pendapatnya ulama.
Berkata Asy-Syaikh Dr. Muhammad Ghalib hafizhahullah :
{ يقول: لست عالما، ثم يرد على علماء الأمة، ويتحدث في أدق النوازل، ويتصدر مجالس الفتيا، ويؤول النصوص حسب هواه، طيب لو ادعيت بإنك عالم ماذا ستفعل؟! }
“Ada orang yang mengatakan, ‘Aku bukan ulama,’ namun anehnya setelah itu, dia membantah para ulama umat ini, bicara tentang masalah-masalah kontemporer yang paling rumit, lancang menyampaikan fatwa, dan menafsirkan dalil-dalil syari’at sesuai dengan hawa nafsunya.
Terus, seandainya engkau menganggap bahwa dirimu adalah seorang ulama, kira-kira apa yang akan engkau lakukan?!” Sumber : https://mobile.twitter.com/m_g_alomari/status/853701898767142912
Akhirnya dampak dari orang JAHIL bicara masalah agama, berdampak bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dampak bagi dirinya membuat hidupnya tidak tenang, tidak tidur nyenyak dan tidak bisa istirahat, karena menerima tahdziran (peringatan) dan bullyan dari sana sini.
Dampak bagi orang lain, membuat orang repot dan lelah. Sibuk dan letih membantah kejahilan dan penyimpangannya.
Berkata Al-Imam Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzy rahimahullah :
{ لو سكت من لا يدري لاستراح وأراح، وقل الخطأ وكثُر الصواب. }
“Seandainya orang yang tidak tahu mau diam, niscaya dia akan bisa istirahat dengan tenang dan tidak membuat letih atau merepotkan orang lain, maka kesalahan akan sedikit dan yang sesuai dengan kebenaran akan banyak.” [Tahdzibul Kamal, jilid 4 hlm. 326].
Untuk itu, orang yang tidak berilmu hendaklah diam, tidak usah banyak bicara dan banyak komentar.
Berkata Al-Allamah Saleh Al-Fauzan Hafizhahullah:
《 على الجاهل ألا يتكلم، وأن يسكت ويخاف الله ولا يتكلم بغير علم. فلا يجوز للجاهل أن يتكلم في مسائل العلم ولا سيما المسائل الكبار. 》[الأجوبة المفيدة - س74]
“Wajib bagi orang yang jahil untuk tidak berbicara, dan hendaknya diam dan takut kepada Allah dan jangan berbicara tanpa ilmu. Tidak boleh bagi orang yang jahil berbicara dalam permasalahan ilmiah, terlebih lagi dalam perkara-perkara yang besar.” [Al-Ajwibatul Mufidah: 74].
Komentar
Posting Komentar