TIDAK SEMUA DENGKI DILARANG
TIDAK SEMUA DENGKI DILARANG
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Yang namanya manusia, pasti tidak terluput dari sifat dengki atau hasad. Baik dengki yang diperbolehkan maupun dengki yang dilarang.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.
Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong, pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi. Berkata Syeikh Al Albani : Hadist Hasan).
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang hasad (dengki) :
هو مرض غالب فلا يخلص منه إلا قليل من الناس ، ولهذا يقال : ما خلا جسد من حسد ، لكن اللئيم يبديه والكريم يخفيه. مجموع الفتاوى (10/124 - 125)
"Dia adalah penyakit yang menyeluruh, maka tidak ada manusia yang terbebas darinya kecuali sedikit. Dan tentang ini beliau berkata : "Tidak terlepas jasad (badan manusia) dari hasad. Orang tecela maka dia akan menampakkan (hasadnya), sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya". [Majmu' Al-Fatawa 10/124-125]
Adapun dengki yang diperbolehkan adalah dengki kepada orang yang berilmu yang mengajarkan ilmunya dan kepada orang yang kaya yang menginfakkan hartanya dijalan Allah, agar bisa berbuat semisal dengan orang tersebut, namun tidak menginginkan nikmat orang tersebut hilang, maka ini diperbolehkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari Muslim).
Adapun dengki karena tidak suka terhadap karunia yang Allah berikan kepada orang lain, baik kekayaan, jabatan, kecantikan atau kegantengan, kecerdasan dan lain sebagainya dan menginginkan agar karunia itu hilang dari orang tersebut, maka ini terlarang.
Berkata Ibnu Hajar rahimahulloh :
الحسد تمني زوال النعمة عن مستحق لها
Hasad adalah seseorang berangan-angan hilangnya nikmat dari orang yang berhak. (Fathul Bari 10/481).
Berkata An-Nawawi rahimahullah:
الحسد هو تمني زوال النعمة عن صاحبها ، سواء كانت نعمة دين أو دنيا
Hasad adalah seorang yang berangan-angan hilangnya nikmat dari saudaranya, baik nikmat agama ataupun dunia. (Riyadhussholihin halaman 466)
Allâh Taala berfirman :
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allâh kepadanya ? [QS. an-Nisâ’ : 54]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.
“Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.” (HR. Muslim).
Penyakit seperti ini (dengki dengan karunia yang diberikan kepada seseorang) bukan hanya menimpa kepada orang awam saja, tetapi juga menimpa para penuntut ilmu, para ustadz bahkan para ulama. Dan sebab utamanya karena urusan dunia.
Berkata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah :
تأملت التحاسد بين العلماء ، فرأيت منشأه من حب الدنيا ، فإن علماء الآخرة يتوادون ولا يتحاسدون ،
"Saya memperhatikan gejolak hasad diantara para Ulama', kemudian saya melihat bahwa sebab utamanya adalah cinta kepada dunia. Adapun Ulama' akhirat mereka saling berkasih sayang dan tidak saling hasad". Sumber :https://m.facebook.com/abedelbarykhleh/posts/818433584876676
Orang yang dengki akan terus berusaha menghilangkan karunia yang Allah Ta'ala berikan kepada seseorang. Berbagai macam cara akan dilakukan. Berbagai macam makar dan fitnah akan dihembuskan.
Aib-aib orang yang dia dengki, akan diungkap kepermukaan. Kalau tidak menemukan aib, dia akan membuat cerita palsu tentang suatu aib dan dituduhkan kepada orang yang dia benci (dengki).
Berkata Al-Qadhy Abu Bakr Ibnul 'Araby rahimahullah :
{ والناس إذا لم يجدوا عيباً لأحد وغلبهم الحسد عليه وعداوتهم له، أحدثوا له عُيوباً. }
“Manusia itu jika mereka tidak menemukan aib pada seseorang dan ketika kedengkian dan permusuhan terhadapnya menguasai mereka, maka mereka akan mengada-ngadakan aib yang mereka tuduhkan secara dusta terhadapnya.” [Al-'Awashim minal Qawashim, jilid 1 hlm. 244].
Berlindunglah kepada Allah dari kejahatan orang-orang yang dengki, karena mereka sangat berbahaya dan obati penyakit yang menimpa karena kedengkian para pendengki dengan bacaan ruqyah yang disyariatkan.
Allah Ta'ala berfirman :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al Falaq : 1-5).
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ إِذَا اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقَاهُ جِبْرِيلُ قَالَبِاسْمِ اللَّهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ
Dari Aisyah radhiyallahu anha dia berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sakit, Jibril alaihi sallam membacakan ruqyah kepada beliau yang bunyi, 'Dengan nama Allah, yang menciptakanmu. Dia-lah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit dan dari kejahatan pendengki ketika ia mendengki serta segala macam kejahatan pandangan mata makhluk yang bermata. (HR. Muslim).
عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ
Dari Abdul Aziz bin Shuhaib, dari Nadhrah, dari Said radhiyallahu anhu bahwasanya Jibril alaihi wa sallam pernah mendatangi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata, "Hai Muhammad, apakah kamu sakit?" Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, 'Ya. Aku sakit." Lalu Jibril meruqyah beliau dengan mengucapkan, "Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan segala makhluk atau kejahatan mata yang dengki. Allah lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu." (HR. Muslim).
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Yang namanya manusia, pasti tidak terluput dari sifat dengki atau hasad. Baik dengki yang diperbolehkan maupun dengki yang dilarang.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: اَلْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ ، وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ ، حَالِقَةُ الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا ، أَفَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِشَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.
Penyakit umat-umat sebelum kalian telah menyerang kalian yaitu dengki dan benci. Benci adalah pemotong, pemotong agama dan bukan pemotong rambut. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian saling mencintai ? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Imam Ahmad dan at-Tirmidzi. Berkata Syeikh Al Albani : Hadist Hasan).
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tentang hasad (dengki) :
هو مرض غالب فلا يخلص منه إلا قليل من الناس ، ولهذا يقال : ما خلا جسد من حسد ، لكن اللئيم يبديه والكريم يخفيه. مجموع الفتاوى (10/124 - 125)
"Dia adalah penyakit yang menyeluruh, maka tidak ada manusia yang terbebas darinya kecuali sedikit. Dan tentang ini beliau berkata : "Tidak terlepas jasad (badan manusia) dari hasad. Orang tecela maka dia akan menampakkan (hasadnya), sedangkan orang yang mulia akan menyembunyikannya". [Majmu' Al-Fatawa 10/124-125]
Adapun dengki yang diperbolehkan adalah dengki kepada orang yang berilmu yang mengajarkan ilmunya dan kepada orang yang kaya yang menginfakkan hartanya dijalan Allah, agar bisa berbuat semisal dengan orang tersebut, namun tidak menginginkan nikmat orang tersebut hilang, maka ini diperbolehkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ ، فَهْوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
“Tidak boleh hasad kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari Muslim).
Adapun dengki karena tidak suka terhadap karunia yang Allah berikan kepada orang lain, baik kekayaan, jabatan, kecantikan atau kegantengan, kecerdasan dan lain sebagainya dan menginginkan agar karunia itu hilang dari orang tersebut, maka ini terlarang.
Berkata Ibnu Hajar rahimahulloh :
الحسد تمني زوال النعمة عن مستحق لها
Hasad adalah seseorang berangan-angan hilangnya nikmat dari orang yang berhak. (Fathul Bari 10/481).
Berkata An-Nawawi rahimahullah:
الحسد هو تمني زوال النعمة عن صاحبها ، سواء كانت نعمة دين أو دنيا
Hasad adalah seorang yang berangan-angan hilangnya nikmat dari saudaranya, baik nikmat agama ataupun dunia. (Riyadhussholihin halaman 466)
Allâh Taala berfirman :
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allâh kepadanya ? [QS. an-Nisâ’ : 54]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.
“Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.” (HR. Muslim).
Penyakit seperti ini (dengki dengan karunia yang diberikan kepada seseorang) bukan hanya menimpa kepada orang awam saja, tetapi juga menimpa para penuntut ilmu, para ustadz bahkan para ulama. Dan sebab utamanya karena urusan dunia.
Berkata Imam Ibnul Jauzi rahimahullah :
تأملت التحاسد بين العلماء ، فرأيت منشأه من حب الدنيا ، فإن علماء الآخرة يتوادون ولا يتحاسدون ،
"Saya memperhatikan gejolak hasad diantara para Ulama', kemudian saya melihat bahwa sebab utamanya adalah cinta kepada dunia. Adapun Ulama' akhirat mereka saling berkasih sayang dan tidak saling hasad". Sumber :https://m.facebook.com/abedelbarykhleh/posts/818433584876676
Orang yang dengki akan terus berusaha menghilangkan karunia yang Allah Ta'ala berikan kepada seseorang. Berbagai macam cara akan dilakukan. Berbagai macam makar dan fitnah akan dihembuskan.
Aib-aib orang yang dia dengki, akan diungkap kepermukaan. Kalau tidak menemukan aib, dia akan membuat cerita palsu tentang suatu aib dan dituduhkan kepada orang yang dia benci (dengki).
Berkata Al-Qadhy Abu Bakr Ibnul 'Araby rahimahullah :
{ والناس إذا لم يجدوا عيباً لأحد وغلبهم الحسد عليه وعداوتهم له، أحدثوا له عُيوباً. }
“Manusia itu jika mereka tidak menemukan aib pada seseorang dan ketika kedengkian dan permusuhan terhadapnya menguasai mereka, maka mereka akan mengada-ngadakan aib yang mereka tuduhkan secara dusta terhadapnya.” [Al-'Awashim minal Qawashim, jilid 1 hlm. 244].
Berlindunglah kepada Allah dari kejahatan orang-orang yang dengki, karena mereka sangat berbahaya dan obati penyakit yang menimpa karena kedengkian para pendengki dengan bacaan ruqyah yang disyariatkan.
Allah Ta'ala berfirman :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al Falaq : 1-5).
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ إِذَا اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقَاهُ جِبْرِيلُ قَالَبِاسْمِ اللَّهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ
Dari Aisyah radhiyallahu anha dia berkata, "Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sakit, Jibril alaihi sallam membacakan ruqyah kepada beliau yang bunyi, 'Dengan nama Allah, yang menciptakanmu. Dia-lah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit dan dari kejahatan pendengki ketika ia mendengki serta segala macam kejahatan pandangan mata makhluk yang bermata. (HR. Muslim).
عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ جِبْرِيلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ اشْتَكَيْتَ فَقَالَ نَعَمْ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ
Dari Abdul Aziz bin Shuhaib, dari Nadhrah, dari Said radhiyallahu anhu bahwasanya Jibril alaihi wa sallam pernah mendatangi Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata, "Hai Muhammad, apakah kamu sakit?" Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, 'Ya. Aku sakit." Lalu Jibril meruqyah beliau dengan mengucapkan, "Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan segala makhluk atau kejahatan mata yang dengki. Allah lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu." (HR. Muslim).
Komentar
Posting Komentar