MENGAKU MUKMIN, HOBI MENCELA
MENGAKU MUKMIN, HOBI MENCELA
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir adalah berkata yang baik. Berkata yang baik itu banyak ragam dan jenisnya.
Menurut Syekh Utsaimin rahimahullahu dalam syarah arbain nawawi hadits ke 15, berkata yang baik itu diantaranya, mengucapkan dzikir, tasbih, tahmid, takbir, membaca al Quran, mengajarkan ilmu, amar ma’ruf nahi mungkar, mengembirakan orang lain, mendaimaikan orang yang berselisih, meredakan ketegangan dan lain sebagainya.
Kalau tidak bisa berkata yang baik, hendaklah diam. Diam lebih selamat dan lebih terhindar dari dosa. Karena orang yang banyak bicara, biasanya banyak salahnya dan orang yang banyak salahnya, banyak pula dosanya. Dan orang yang banyak dosanya tentulah neraka tempatnya. Maka yang terbaik adalah diam, kalau tidak bicara yang baik.
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ (رواه متفق عليه).
Barangsiapa mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata benar atau hendaklah diam (HR. Bukhori dan Muslim).
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَثُرَ كَلامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ، وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ، وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ، فَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa banyak bicara, maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salahnya, maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya, maka api neraka lebih utama baginya. Maka Barangsiapa mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata benar atau hendaklah diam (HR. Imam Thobroni ).
Hadits ini di dhaifkan (dilemahkan) oleh Syekh Albani, tapi maknanya tidak bertentangan dengan hadits shahih di atas.
Orang-orang yang beriman senantiasa menjaga mulutnya. Tidak keluar dari mulutnya kecuali perkataan yang baik. Orang yang beriman tidak akan mencaci maki orang lain, mengumpat, mengutuk dan berkata keji atau berkata kotor lainnya.
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِىءِ (رواه الترمذي قال الشيخ الألباني : صحيح ).
Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji dan berkata kotor (HR. Imam Turmudzi. Berkata Syekh al albani : Hadits Shahih).
Allah Ta’ala melarang keras mengumpat, mencela, mencaci maki, memfitnah, mengolok-ngolok, menggibah dan perkatan-perkataan keji lainnya, karena ini merupakan sifat akhlak yang buruk dan sifat diri yang sangat rendah. Hal tersebut juga bukan akhlak seorang muslim dan bukan pula akhlak seorang mukmin.
Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ.
Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (Al Hujurat : 11-12).
Dan Allah Ta'ala berfirman :
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (Al Humazah : 1).
Apatah lagi yang dicela, dihina dan diumpat adalah seorang pemimpin muslim, dihadapan khalayak ramai, di media masa atau di medsos, ini lebih besar lagi dosanya. Tunggu saja waktunya, Allah Ta'ala akan hinakan para pengumpat dan pencela.
Berkata Abu Bakrah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ
Barangsiapa yang menghinakan pemimpin Allah di bumi, Allah akan hinakan dia (H.R atTirmidzi no 2150 dihasankan oleh atTirmidzi dan al-Albany)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ قَوْمٍ مَشَوْا إِلَى سُلْطَانِ اللهِ لِيَذِلُّوهُ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللَّهُ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Tidaklah suatu kaum berjalan menuju pemimpin Allah dengan tujuan untuk menghinakannya, kecuali Allah akan hinakan ia sebelum hari kiamat. (H.R alBazzar no 2848 dari Hudzaifah dan diisyaratkan keshahihannya oleh al-Haitsamy dalam Majmauz Zawaaid)
Berkata Anas bin Malik radhiyallahu anhu :
كَانَ اْلأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ اْلأُمَرَاءِ
Para pembesar dari Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang kami dari mencela para pemimpin (riwayat Ibnu Abdil Bar dalam atTamhid)
Berkata Abu Darda’ radhiyallahu anhu :
وإنَّ أوَّل نِفَاقِ الْمَرْءِ طَعْنُهُ عَلَى إِمَامِهِ
Sesungguhnya awal kemunafikan pada seseorang adalah celaannya kepada pemimpinnya (riwayat Ibnu Abdil Bar dalam atTamhid dan Ibnu Asakir).
Orang yang senantiasa menghancurkan kehormatannya orang lain, baik dengan cara mencaci maki, memfitnah, mengumpat, dan lain sebagainya hendaklah bertaubat dan meminta maaf sekarang juga kepada orang dizalimi. Kalau tidak, maka dia akan menjadi orang yang bangkrut di akherat kelak. Karena kebaikan-kebaikannya akan diambil oleh orang yang dia zalimi dan apabila sudah habis kebaikkannya dan belum selesai pembayaran kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang dizalimi dan dipikulkan kepadanya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ? قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ (رواه مسلم).
"Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab: "Orang bangkrut di kalangan kita ialah orang yang sudah tidak memiliki dirham atau sesuatu kekanyaan apapun." Beliau Nabi Nabi sholallohu alaihi wasallam lalu bersabda: "Orang rugi dari kalangan ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakatnya, tetapi kedatangannya itu dahulunya ketika di dunia pernah mencaci maki si pulan, memfitnah si pulan, makan harta si pulan, mengalirkan darah si pulan tanpa dasar kebenaran, pernah memukul si pulan. Maka orang yang dianiaya itu diberikan kebaikan orang tadi dan yang lain pun diberi kebaikannya pula, Jikalau kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terlunasi tanggungan maka diambillah dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang dianiayanya itu lalu dibebankan kepada orang tersebut, selanjutnya orang itu dilemparkanlah ke dalam neraka." (HR. Muslim).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ. (رواه البخاري).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Nabi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sabdanya: "Barangsiapa yang di sisinya ada sesuatu dari hasil penganiayaan untuk saudaranya, baik yang mengenai kehormatan saudaranya itu atau pun sesuatu yang lain, maka hendaklah meminta kehalalannya sekarang juga semasih di dunia, sebelum tidak berlakunya dinar dan dirham. Jikalau tidak meminta kehalalannya sekarang juga, maka jikalau yang menganiaya itu mempunyai amal shalih, diambillah dari amal shalihnya itu sekadar untuk melunasi penganiayaannya, sedang jikalau tidak mempunyai kebaikan sama sekali, maka diambillah dari keburukan-keburukan orang yang dianiayanya itu, lalu dibebankan kepada yang menganiayanya tadi." (HR. Bukhari).
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir adalah berkata yang baik. Berkata yang baik itu banyak ragam dan jenisnya.
Menurut Syekh Utsaimin rahimahullahu dalam syarah arbain nawawi hadits ke 15, berkata yang baik itu diantaranya, mengucapkan dzikir, tasbih, tahmid, takbir, membaca al Quran, mengajarkan ilmu, amar ma’ruf nahi mungkar, mengembirakan orang lain, mendaimaikan orang yang berselisih, meredakan ketegangan dan lain sebagainya.
Kalau tidak bisa berkata yang baik, hendaklah diam. Diam lebih selamat dan lebih terhindar dari dosa. Karena orang yang banyak bicara, biasanya banyak salahnya dan orang yang banyak salahnya, banyak pula dosanya. Dan orang yang banyak dosanya tentulah neraka tempatnya. Maka yang terbaik adalah diam, kalau tidak bicara yang baik.
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ (رواه متفق عليه).
Barangsiapa mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata benar atau hendaklah diam (HR. Bukhori dan Muslim).
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَثُرَ كَلامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ، وَمَنْ كَثُرَ سَقَطُهُ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ، وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوبُهُ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ، فَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa banyak bicara, maka banyak pula salahnya dan barangsiapa banyak salahnya, maka banyak pula dosanya, dan barangsiapa banyak dosanya, maka api neraka lebih utama baginya. Maka Barangsiapa mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata benar atau hendaklah diam (HR. Imam Thobroni ).
Hadits ini di dhaifkan (dilemahkan) oleh Syekh Albani, tapi maknanya tidak bertentangan dengan hadits shahih di atas.
Orang-orang yang beriman senantiasa menjaga mulutnya. Tidak keluar dari mulutnya kecuali perkataan yang baik. Orang yang beriman tidak akan mencaci maki orang lain, mengumpat, mengutuk dan berkata keji atau berkata kotor lainnya.
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِىءِ (رواه الترمذي قال الشيخ الألباني : صحيح ).
Seorang mukmin bukanlah pengumpat, pengutuk, berkata keji dan berkata kotor (HR. Imam Turmudzi. Berkata Syekh al albani : Hadits Shahih).
Allah Ta’ala melarang keras mengumpat, mencela, mencaci maki, memfitnah, mengolok-ngolok, menggibah dan perkatan-perkataan keji lainnya, karena ini merupakan sifat akhlak yang buruk dan sifat diri yang sangat rendah. Hal tersebut juga bukan akhlak seorang muslim dan bukan pula akhlak seorang mukmin.
Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ.
Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (Al Hujurat : 11-12).
Dan Allah Ta'ala berfirman :
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (Al Humazah : 1).
Apatah lagi yang dicela, dihina dan diumpat adalah seorang pemimpin muslim, dihadapan khalayak ramai, di media masa atau di medsos, ini lebih besar lagi dosanya. Tunggu saja waktunya, Allah Ta'ala akan hinakan para pengumpat dan pencela.
Berkata Abu Bakrah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللَّهُ
Barangsiapa yang menghinakan pemimpin Allah di bumi, Allah akan hinakan dia (H.R atTirmidzi no 2150 dihasankan oleh atTirmidzi dan al-Albany)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ قَوْمٍ مَشَوْا إِلَى سُلْطَانِ اللهِ لِيَذِلُّوهُ إِلاَّ أَذَلَّهُمُ اللَّهُ قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Tidaklah suatu kaum berjalan menuju pemimpin Allah dengan tujuan untuk menghinakannya, kecuali Allah akan hinakan ia sebelum hari kiamat. (H.R alBazzar no 2848 dari Hudzaifah dan diisyaratkan keshahihannya oleh al-Haitsamy dalam Majmauz Zawaaid)
Berkata Anas bin Malik radhiyallahu anhu :
كَانَ اْلأَكَابِرُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَوْنَنَا عَنْ سَبِّ اْلأُمَرَاءِ
Para pembesar dari Sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang kami dari mencela para pemimpin (riwayat Ibnu Abdil Bar dalam atTamhid)
Berkata Abu Darda’ radhiyallahu anhu :
وإنَّ أوَّل نِفَاقِ الْمَرْءِ طَعْنُهُ عَلَى إِمَامِهِ
Sesungguhnya awal kemunafikan pada seseorang adalah celaannya kepada pemimpinnya (riwayat Ibnu Abdil Bar dalam atTamhid dan Ibnu Asakir).
Orang yang senantiasa menghancurkan kehormatannya orang lain, baik dengan cara mencaci maki, memfitnah, mengumpat, dan lain sebagainya hendaklah bertaubat dan meminta maaf sekarang juga kepada orang dizalimi. Kalau tidak, maka dia akan menjadi orang yang bangkrut di akherat kelak. Karena kebaikan-kebaikannya akan diambil oleh orang yang dia zalimi dan apabila sudah habis kebaikkannya dan belum selesai pembayaran kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa orang dizalimi dan dipikulkan kepadanya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ? قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. فَقَالَ « إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِى يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِى قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِى النَّارِ (رواه مسلم).
"Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut itu?" Para sahabat menjawab: "Orang bangkrut di kalangan kita ialah orang yang sudah tidak memiliki dirham atau sesuatu kekanyaan apapun." Beliau Nabi Nabi sholallohu alaihi wasallam lalu bersabda: "Orang rugi dari kalangan ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakatnya, tetapi kedatangannya itu dahulunya ketika di dunia pernah mencaci maki si pulan, memfitnah si pulan, makan harta si pulan, mengalirkan darah si pulan tanpa dasar kebenaran, pernah memukul si pulan. Maka orang yang dianiaya itu diberikan kebaikan orang tadi dan yang lain pun diberi kebaikannya pula, Jikalau kebaikan-kebaikannya sudah habis sebelum terlunasi tanggungan maka diambillah dari kesalahan-kesalahan orang-orang yang dianiayanya itu lalu dibebankan kepada orang tersebut, selanjutnya orang itu dilemparkanlah ke dalam neraka." (HR. Muslim).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ. (رواه البخاري).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi Nabi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sabdanya: "Barangsiapa yang di sisinya ada sesuatu dari hasil penganiayaan untuk saudaranya, baik yang mengenai kehormatan saudaranya itu atau pun sesuatu yang lain, maka hendaklah meminta kehalalannya sekarang juga semasih di dunia, sebelum tidak berlakunya dinar dan dirham. Jikalau tidak meminta kehalalannya sekarang juga, maka jikalau yang menganiaya itu mempunyai amal shalih, diambillah dari amal shalihnya itu sekadar untuk melunasi penganiayaannya, sedang jikalau tidak mempunyai kebaikan sama sekali, maka diambillah dari keburukan-keburukan orang yang dianiayanya itu, lalu dibebankan kepada yang menganiayanya tadi." (HR. Bukhari).
Komentar
Posting Komentar