SHALAT TAHAJUD BERJAMAAH
SHALAT TAHAJUD BERJAMAAH DI MASJID
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Shalat tahajud, shalat malam atau shalat teraweh di bulan Ramadhan disunnahkan dikerjakan secara berjamaah di masjid, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya beberapa hari di masjid. Dikarenakan kekhawatiran beliau kalau shalat ini menjadi wajib, akhirnya beliau tidak lagi pergi ke masjid untuk shalat teraweh berjamaah.
عَنْ عَائِشَةَ ، أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ ، أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ. (رواه البخاري).
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam shalat di masjid, lalu banyak sahabat yang meniru shalat Beliau, kemudian pada malam kedua, beliau shalat lagi dan sahabat semakin banyak, kemudian pada malam ketiga atau keempat para sahabat sudah berkumpul, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar menemui mereka. Maka tatkala waktu shubuh tiba, Beliau bersabda: “Sungguh aku mengetahui apa yang kalian lakukan, tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar (shalat) berama kalian, melainkan aku khawatir shalat ini difardhukan atas kalian.” Dan ini terjadi pada bulan Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim).
Begitu pula para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, senantiasa melaksanakan shalat teraweh secara berjamaah di masjid, walaupun pelaksanaannya tidak dengan satu imam. Baru setelah Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, shalat teraweh dilaksanakan secara berjamaah dengan satu imam.
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ ، إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ ، وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّى أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ . ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ ، قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ . يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ
Dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata, “Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka ‘Umar berkata, “Aku berpikir bagaimana seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik“. Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata, “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam.” Yang beliau maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (HR. Bukhari).
Shalat Tahajud Berjamaah di Masjid diluar Bulan Ramadhan.
Shalat Tahajud atau shalat malam di luar bulan Ramadhan di sunnahkan untuk dikerjakan di rumah masing-masing, baik dengan berjamaah maunpun sendiri-sendiri, karena hal ini pernah di contohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatNya.
عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ , فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ , كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ. (رواه ابن ماجة - قال الشيخ الألباني : صحيح).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dia bersabda, “Apabila seorang suami membangunkan keluarganya di malam hari, lalu mereka berdua shalat atau shalat dua raka’at dengan berjamaah niscaya dituliskan mereka ke dalam golongan laki-laki dan perempuan yang tekun berdzikir. (HR. Shahih Ibnu Majah. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Shahih).
عن ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قُلْنَا وَمَا هَمَمْتَ قَالَ هَمَمْتَ أَنْ أَقْعُدَ وَأَذَرَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم. (رواه متفق عليه).
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu, katanya: "Saya shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka tidak habis-habisnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdiri sehingga saya bermaksud untuk melakukan sesuatu yang buruk." la ditanya: "Apakah yang hendak engkau maksudkan?" la menjawab: "Saya bermaksud untuk duduk dari meninggalkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam )yakni tidak meneruskan ikut berjamaah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan shalat munfarid (sendiri)." (HR. Bukhari Muslim).
عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ.....(رواه مسلم).
Dari Hudzaifah radhiyallohu anhu., katanya: "Saya bersembahyang beserta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka beliau membuka dalam rakaat pertama dengan surat al-Baqarah. ..dst.(HR. Muslim).
Shalat-Shalat Sunnah Di Kerjakan Dirumah.
Shalat sunnah apapun, terkecuali shalat teraweh di bulan Ramadhan lebih utama dikerjakan dirumah sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan kepada kita.
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَة. (رواه البجاري).
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu bahawasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “’Maka Shalatlah engkau semua, hai sekalian manusia, sebab sesungguhnya seutama-utama shalat itu ialah shalatnya seseorang yang dikerjakan dalam rumahnya, kecuali shalat yang diwajibkan." (HR. Al Bukhori).
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا (رواه مسلم).
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sabdanya: "Jadikanlah dari sebahagian shalatmu (yakni yang sunnah) itu di rumah-rumahmu sendiri dan janganlah menjadikan rumah-rumah itu sebagai kuburan (yakni tidak pernah digunakan shalat sunnah atau membaca al-Quran yakni sunyi dari ibadat)." (HR. Muslim).
عَنْ جَابِرٍ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِى مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلاَتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِى بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ خَيْرًا .(رواه مسلم).
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu., katanya: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Jikalau seseorang di antara engkau semua itu telah menyelesaikan shalatnya di masjid, maka hendaklah memberikan sekadar bahagian dari sebahagian shalatnya, yakni yang sunnah-sunnah untuk rumahnya, kerana sesungguhnya Allah membuat kebaikan dalam rumahnya itu karena shalatnya tadi." (Riwayat Muslim).
Dalil-dalil ini membuktikan bahwa shalat-shalat sunnah lebih utama dikerjakan dirumah, kecuali shalat taraweh di bulan Ramadhan, di sunnahkan dilaksakan secara berjamaah di masjid. Jadi sungguh sangat heran ketika ada sebagian kelompok yang memaksakan jamaahnya untuk shalat tahajud atau shalat malam berjamaah di masjid diluar bulan ramadhan, baik itu seminggu sekali, semiggu dua kali, sebulan sekali atau dua kali, atau mungkin setiap hari.
Oleh : Abu Fadhel Majalengka
Shalat tahajud, shalat malam atau shalat teraweh di bulan Ramadhan disunnahkan dikerjakan secara berjamaah di masjid, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya beberapa hari di masjid. Dikarenakan kekhawatiran beliau kalau shalat ini menjadi wajib, akhirnya beliau tidak lagi pergi ke masjid untuk shalat teraweh berjamaah.
عَنْ عَائِشَةَ ، أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ ، أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ. (رواه البخاري).
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam shalat di masjid, lalu banyak sahabat yang meniru shalat Beliau, kemudian pada malam kedua, beliau shalat lagi dan sahabat semakin banyak, kemudian pada malam ketiga atau keempat para sahabat sudah berkumpul, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar menemui mereka. Maka tatkala waktu shubuh tiba, Beliau bersabda: “Sungguh aku mengetahui apa yang kalian lakukan, tiada sesuatu pun yang menghalangiku untuk keluar (shalat) berama kalian, melainkan aku khawatir shalat ini difardhukan atas kalian.” Dan ini terjadi pada bulan Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim).
Begitu pula para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, senantiasa melaksanakan shalat teraweh secara berjamaah di masjid, walaupun pelaksanaannya tidak dengan satu imam. Baru setelah Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, shalat teraweh dilaksanakan secara berjamaah dengan satu imam.
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِىِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – لَيْلَةً فِى رَمَضَانَ ، إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّى الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ ، وَيُصَلِّى الرَّجُلُ فَيُصَلِّى بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّى أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ . ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ، ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى ، وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ ، قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ ، وَالَّتِى يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِى يَقُومُونَ . يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ ، وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ
Dari ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Qariy bahwa dia berkata, “Aku keluar bersama ‘Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu pada malam Ramadhan menuju masjid, ternyata orang-orang shalat berkelompok-kelompok secara terpisah-pisah, ada yang shalat sendiri dan ada seorang yang shalat diikuti oleh ma’mum yang jumlahnya kurang dari sepuluh orang. Maka ‘Umar berkata, “Aku berpikir bagaimana seandainya mereka semuanya shalat berjama’ah dengan dipimpin satu orang imam, itu lebih baik“. Kemudian Umar memantapkan keinginannya itu lalu mengumpulkan mereka dalam satu jama’ah yang dipimpin oleh Ubbay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya pada malam yang lain dan ternyata orang-orang shalat dalam satu jama’ah dengan dipimpin seorang imam, lalu ‘Umar berkata, “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini. Dan mereka yang tidur terlebih dahulu adalah lebih baik daripada yang shalat awal malam.” Yang beliau maksudkan untuk mendirikan shalat di akhir malam, sedangkan orang-orang secara umum melakukan shalat pada awal malam. (HR. Bukhari).
Shalat Tahajud Berjamaah di Masjid diluar Bulan Ramadhan.
Shalat Tahajud atau shalat malam di luar bulan Ramadhan di sunnahkan untuk dikerjakan di rumah masing-masing, baik dengan berjamaah maunpun sendiri-sendiri, karena hal ini pernah di contohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatNya.
عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللَّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ , فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ , كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ. (رواه ابن ماجة - قال الشيخ الألباني : صحيح).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dia bersabda, “Apabila seorang suami membangunkan keluarganya di malam hari, lalu mereka berdua shalat atau shalat dua raka’at dengan berjamaah niscaya dituliskan mereka ke dalam golongan laki-laki dan perempuan yang tekun berdzikir. (HR. Shahih Ibnu Majah. Berkata Syekh Al Albani : Hadits Shahih).
عن ابن مسعود رضي الله عنه قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةً فَلَمْ يَزَلْ قَائِمًا حَتَّى هَمَمْتُ بِأَمْرِ سَوْءٍ قُلْنَا وَمَا هَمَمْتَ قَالَ هَمَمْتَ أَنْ أَقْعُدَ وَأَذَرَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم. (رواه متفق عليه).
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu, katanya: "Saya shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka tidak habis-habisnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam itu berdiri sehingga saya bermaksud untuk melakukan sesuatu yang buruk." la ditanya: "Apakah yang hendak engkau maksudkan?" la menjawab: "Saya bermaksud untuk duduk dari meninggalkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam )yakni tidak meneruskan ikut berjamaah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan shalat munfarid (sendiri)." (HR. Bukhari Muslim).
عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ.....(رواه مسلم).
Dari Hudzaifah radhiyallohu anhu., katanya: "Saya bersembahyang beserta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka beliau membuka dalam rakaat pertama dengan surat al-Baqarah. ..dst.(HR. Muslim).
Shalat-Shalat Sunnah Di Kerjakan Dirumah.
Shalat sunnah apapun, terkecuali shalat teraweh di bulan Ramadhan lebih utama dikerjakan dirumah sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan kepada kita.
عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَة. (رواه البجاري).
Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu bahawasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “’Maka Shalatlah engkau semua, hai sekalian manusia, sebab sesungguhnya seutama-utama shalat itu ialah shalatnya seseorang yang dikerjakan dalam rumahnya, kecuali shalat yang diwajibkan." (HR. Al Bukhori).
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : اجْعَلُوا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِى بُيُوتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا (رواه مسلم).
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sabdanya: "Jadikanlah dari sebahagian shalatmu (yakni yang sunnah) itu di rumah-rumahmu sendiri dan janganlah menjadikan rumah-rumah itu sebagai kuburan (yakni tidak pernah digunakan shalat sunnah atau membaca al-Quran yakni sunyi dari ibadat)." (HR. Muslim).
عَنْ جَابِرٍ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : إِذَا قَضَى أَحَدُكُمُ الصَّلاَةَ فِى مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلاَتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِى بَيْتِهِ مِنْ صَلاَتِهِ خَيْرًا .(رواه مسلم).
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu., katanya: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Jikalau seseorang di antara engkau semua itu telah menyelesaikan shalatnya di masjid, maka hendaklah memberikan sekadar bahagian dari sebahagian shalatnya, yakni yang sunnah-sunnah untuk rumahnya, kerana sesungguhnya Allah membuat kebaikan dalam rumahnya itu karena shalatnya tadi." (Riwayat Muslim).
Dalil-dalil ini membuktikan bahwa shalat-shalat sunnah lebih utama dikerjakan dirumah, kecuali shalat taraweh di bulan Ramadhan, di sunnahkan dilaksakan secara berjamaah di masjid. Jadi sungguh sangat heran ketika ada sebagian kelompok yang memaksakan jamaahnya untuk shalat tahajud atau shalat malam berjamaah di masjid diluar bulan ramadhan, baik itu seminggu sekali, semiggu dua kali, sebulan sekali atau dua kali, atau mungkin setiap hari.
Komentar
Posting Komentar